Tuesday, February 26, 2013

Should We End Up Here?

Waktu pertama bertemu denganmu tidak ada dalam pikiranku sama sekali bahwa kita akan membangun sebuah perusahaan bersama, dengan kita berdua sebagai presiden direkturnya, memiliki saham 50-50 dan punya suara yang sama dalam setiap keputusan. Ternyata waktu menunjukan bahwa sekian lama aku mencari partner kaulah partner terbaik yang bisa kudapatkan untuk mendampingiku menjalankan perusahaan ini.

Tahap penjajakan melihat bagaimana kau berpikir , menimbang dan memutuskan membuatku agak yakin bahwa kau bisa menjadi partner yang tepat. Bagaimana kau memikirkan sebuah masalah, bagaimana kau menimbang dan pada akhirnya memutuskan jalan terbaik yang dalam pikiranmu akan menjadi win-win solution, sungguh aku sangat-sangat takjub. Kau seperti alter diriku, melihat masalah dan dengan tenang berusaha memecahkannya, mendalami itu dan mencari jalan keluar terbaik, sekalipun itu menyakitkan. Tapi dirimu tidak akan menerima jika berulangkali diperlakukan sama seperti itu, dirimu tidak menerima jika sikapmu dianggap sebuah "kebodohan"  dan kau akan menunjukan bahwa kau adalah pribadi yang sekeras baja dan tidak suka dipermainkan. Sungguh sangat bodoh sekali orang yang menganggap sepele padamu.


Aku masih mengingat jelas bagaimana akta notaris perusahaan ini bisa diberikan dan disetujui, bagaimana berjuangnya kau untuk merengkuh keinginanmu dan ya...kau berhasil, kau berhasil membentuk perusahaan ini dengan aku sebagai partnermu. Dalam perjalanan waktu melihat keras kepalamu ternyata terkadang saham 50-50 itu tidak berlaku, terkadang kau menentukan secara otoriter 100 untukmu apalagi dalam hal-hal yang tidak bisa kau kendalikan, sang penikmat hidup yang merasa tersingkirkan dengan kehadiranku dan mencoba untuk terus menjatuhkanku dihadapan perusahaan-perusahaan lain. Kau begitu lemah terhadap rayuan manisnya, kau begitu tunduk dan menyudutkan aku. Hey, kau lupa ya...aku punya 50% suara lho.

Ternyata perusahaan ini sedang menemui titik jenuhnya, salah satu pemiliknya merasa bosan dengan semua sikapmu. Aku merasa kau terlalu memaksakan semua. Sang penikmat hidup pun tak berhenti-berhenti berusaha menggerogoti saham yang ada dengan segala cara. Aku sudah memiliki keuntungan yang dibagi rata bersamamu, sepertinya aku sudah mulai capek dengan jalannya perusahaan kita. Apa kuambil saja "the fifty percent" itu dan we will end up here?

No comments:

Post a Comment