Wednesday, August 28, 2013

Breastfeeding Supporting Group

Halo para bunda luar biasa, yang sejak dalam kandungan telah berjuang memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya. Halo para Ayah hebat yang selalu setia mendukung istri dan berjuang memberikan kecukupan secara lahir dan batin kepada istri dan anaknya. Halo para mertua, orangtua, dan saudara yang telah lebih dahulu mencicipi pengalaman hidup dan belajar dari hidup itu sendiri sehingga ingin generasi muda belajar juga dari pengalamannya. Halo para tenaga kesehatan, yang membaktikan diri di jalur mulia ini dengan segala ilmu yang kalian dapatkan melalui jalur pendidikan yang tentunya tidak sedikit mengeluarkan biaya. Dan halo pemerintah yang terus mengusahakan yang terbaik untuk kesejahteraan rakyat kalian dengan menciptakan kebijakan-kebijakan yang ada hingga saat ini.

 Jujur saya menuliskan ini setelah melalui pertimbangan dalam dan panjang tentang dukungan terhadap ibu menyusui. Setelah kurang lebih empat belas bulan saya berkecimpung dalam dunia per-ASI-an saya menemui hal-hal seperti ini (tolong para pembaca, bacalah dengan bijaksana dan saat tulisan ini dibaca, saya sedang sharing untuk perbaikan kita semua, apapun posisi kita saat membaca postingan ini) :
  1. SUAMI. Posisi pertama saya letakkan beban ini di pundak sang suami yang telah menjadi partner sejak menikah, kehamilan, sampai memiliki anak. Anak adalah tanggung jawab kalian berdua, hanya kalian yang berhak menentukan yang terbaik bagi anak tentunya tanpa mengabaikan saran dari pihak-pihak yang dihormati. Hal yang perlu pak suami ingat adalah sebesar apapun rasa hormat bapak, istri sebagai partner harus ditempatkan dalam posisi teratas. Ketika istri ingin menyusui anaknya secara full yang kita ketahui itu adalah hal yang benar, dukunglah dia dan tunjukan itu dalam sikap kita. Mendukung bukan hanya berkata "Iya bund, Ayah setuju bunda ASI" kemudian membiarkan dia berjuang sendiri dan bilang "Kalau bunda enggak kuat lagi, kasih susu formula juga gak pa-pa". Yah, ini bukan yang seperti itu pak suami. Kita tahu bahwa suami dan istri harus menjadi partner yang saling mendukung, ketika istri memperjuangkan sesuatu yang benar dan kita tahu kebenarannya, tolonglah bersikap mendukung penuh dengan menanyakan kendala ataupun mencari informasi tenaga kesehatan yang bisa membantu dan membawa istri dan anak kita kesana agar bisa diedukasi. Karena keberhasilan memberikan ASI 50% ditentukan dari ayah, jadi apakah kita siap pak suami? :)
  2. ORANGTUA DAN KELUARGA DEKAT. Sebesar-besarnya keinginan ibu menyusui untuk menyusu, pasti kandas ketika ada masalah menyusu datang padanya, orang-orang pertama yang berdiri menjudge dia adalah kita selaku ibu kandung, ibu mertua, ayah kandung, ayah mertua, saudara-saudara dekat yang merasa telah menyelesaikan masa mengurus anak dan berhasil dengan memberikan susu formula, dot, empeng, dll. Dahulu saat informasi tidak seterbuka saat ini dan kita hanya belajar dari orangtua dahulu, memang tidak bisa disalahkan pendapat dan pola pikir kita, namun waktu berubah dan informasi menjadi begitu terbuka dan bisa diakses kapan saja, sehingga ketika kita mendapati bahwa apa yang seorang ibu/calon ibu sampaikan tidak sesuai dengan yang kita pelajari, saya mohon BERBESAR HATILAH untuk menerimanya dan alangkah lebih baiknya kita menanyakan alasan kenapa dia seperti itu dan sumber-sumber yang menyatakan itu valid atau tidak sehingga kita bisa memutuskan baik dan buruknya tanpa harus men-jugde macam-macam. Sadar atau tidak sadar sebenarnya kitalah supporting group pertama yang perlu dimiliki oleh ibu hamil ataupun ibu menyusui untuk mendukung keberhasilannya memberikan ASI.
  3. LINGKUNGAN. Lingkungan pun turut menyumbangkan peran yang besar dalam keberhasilan menyusui. Lingkungan sebagai supporting group harusnya mendukung ibu menyusui dengan mengijinkan busui bekerja memerah, menyediakan ruang memerah yang bersih jika dimungkinkan, memberikan sedikit keleluasaan pada busui untuk urusan anaknya, menghindari memberi kata-kata negatif pada busui akibat aktivitasnya memerah, ataupun menghindari kata-kata negatif seperti "Tidak apa-apa kok memberi susu formula, kamu kan bekerja" sehingga busui tetap merasa didukung oleh lingkungannya.
  4. TENAGA KESEHATAN. Tenaga kesehatan yang belum mengerti betapa pentingnya ASI turut dan akhirnya turut ambil bagian dalam ketidakberhasilan pemberian ASI. Gimana enggak, sang emak sudah keukeuh mati-matian, giliran dibawa ke tenaga kesehatan "Ibu, berat badan anak ibu kurang, gak cukup ASInya, tambah susu formula ajah ya" dan para pendamping langsung bersama-sama berseru "Tuh.....kan............nakes nya juga bilang begitu, ini emaknya bandel banget gak mau dibilangin". Oh saya sudah sering banget mendengar itu, jadi kalau kita sebagai tenaga kesehatan membaca ini "please,be nice..." kalau kita tahu bahwa ASI pasti cukup, katakan dan dukunglah sang ibu, kalau kita tidak tahu mengenai manajemen laktasi, mungkin hal tersebut jadi cambuk buat kita untuk belajar lebih banyak agar bertambah pengetahuan tentang ASI dan bisa mendukung busui. Ada juga tenaga kesehatan yang sudah mengerti pentingnya ASI namun ketika berhadapan dengan pasien lebih suka menyalahkan pasien tanpa mencari tahu lebih dalam akar permasalahan
    ".... saya merasa ASI tidak cukup, bayi rewel terus"
    "Makanya ibunya jangan stres dong nanti ASInya sedikit" (agak ketus)
    "Tapi saya udah buat semua yang dibilang tapi tetap aja sedikit, saya bingung, kayaknya ada yang tidak beres"
    "Perasaan ibu ajah itu, ASI pasti cukup makanya lebih sering disusui." (padahal menyusuinya udah nonstop :))
    (dan beberapa hari kemudian akibat tak tahan mendengar anaknya menangis dengan terpaksa diberikan formula, hilang kepercayaan terhadap nakes -_________-)
  5. PEMERINTAH. Tempat terakhir saya letakan pada Pemerintah. Iya pemerintah, sadarkah kita bahwa bayi-bayi yang dilahirkan sekarang akan menjadi penerus kita 30 tahun lagi? sadarkah kita dengan tidak memberlakukan peraturan wajib ASI dan semua nakes harus mendukung pemberian ASI memiskinkan negara kita? Bayangkan jika susu formula yang murah yang harus dibeli sebuah keluarga sekitar Rp 500.000,- per anak untuk setiap bulannya belum lagi ditambah dengan pembelian dot, bahan bakar untuk steril, sumber air yang bersih, dan peralatan tersendiri secara tidak langsung menggerogoti kesejahteraan keuangan keluarga. Jika kita peduli hal itu dan mau ikut menyukseskan pemberian ASI, maka keuntungan yang akan kita dapatkan malah timbal balik, kesejahteraan penduduk pasti naik karena uang mereka tidak semata-mata hanya untuk membeli susu formula untuk anaknya dan kita akan mendapatkan generasi yang sehat dan cerdas akibat pemberian ASI secara full.
Kenapa saya menuliskan ini? Saya melihat dengan kampanye ASI yang begitu gencar, suka atau tidak suka akhirnya membuat kita para ibu terpecah kedua pihak. Satu mati-matian mendukung ASI apapun yang terjadi namun dengan caranya masing-masing membuat beberapa ibu gerah dan marah. Misalnya dengan berkata "Anak manusia hanya minum susu manusia,..... (kita sudah tahu lanjutannya),  "Mana ada cerita ASI gak cukup?ibunya nih yang malas menyusui (padahal udah menyusui sampai berdarah-darah dan give up)". Coba ibu posisikan diri pada kondisi ibu-ibu tersebut, menyakitkan loh bu di judge seperti itu padahal kenyataannya tidak seperti itu. Ibu mana di dunia ini yang tidak mau memberikan yang terbaik bagi anaknya, kehadiran kita seharusnya sebagai teman yang menerima mereka apapun yang terjadi. Kesalahan masa lalu mungkin terjadi karena ketidaktahuan ibu-ibu tersebut ada baiknya kita menyemangati ibu dan tidak menjudge yang bersangkutan ibu yang tidak baik sehingga ibu merasa diterima dan mungkin jika ibu memiliki bayi lagi dia akan melihat kita sebagai teman untuk belajar mengenai ASI. Pihak yang kedua yang mau saya sebutkan adalah ibu-ibu yang sudah terlanjur memberikan formula dan sebenarnya tahu akibat buruk formula, namun karena ego dan mungkin perasaan marah akibat perlakuan ibu-ibu yang mendukung ASI namun berkampanye negatif akhirnya membuat dirinya keukeuh melawan bahwa anaknya anak formula namun sehat, gak sakit, malah yang lebih ekstrim lebih pandai dari anak ASI -______-. Saya tidak menyalahkan ibu-ibu ini, hal ini terjadi karena adanya hukum aksi = reaksi (Benar kan Bu Ibu?)

Ayo Ibu...yuk kita berdiri bersama di rel ASI, kita ingin memberikan yang terbaik untuk putra-putri kita dan kita tahu bahwa ASIlah yang terbaik, susu formula tidak salah diberikan asal dengan indikasi medis dari tenaga kesehatan yang mengerti. Anakmu, anakku adalah harapan bangsa ini, ASI...PASTI!!!


Salam ASI

Ditulis oleh Luchia Chendana, diedit dan didiskusikan bersama Mba Desy Primaningtyas sahabat saya yang juga mencintai dunia laktasi :)

5 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. mama leon, saya mau bertanya.
    saya berniat untuk mengadopsi balita berumur 4 tahun. tapi dia tidak bisa dipisahkan sama adek bayinya yang baru berumur 5 bulan. dan saya menyanggupi untuk mengadopsi mereka.
    dan setelah membaca postingan mama leon mengenai betapa pentingnya ASI untuk bayi saya berniat untuk memberikan ASI untuk anak adopsi saya. apakah saya bisa memproduksi ASI wlwpun saya belum pernah hamil bahkan menikah??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba....

      sungguh mulia hati emba mau melakukan hal yang emba ceritakan *peluk

      hal tersebut mungkin terjadi (memberi asi) dan membutuhkan usaha yang tidak mudah juga dukungan orang-orang terdekat...

      jika emba ingin menanyakan mengenai detil dan bagaimana prosesnya kita bisa mengobrol lebih pribadi

      kontak saya di imel saya ya, chichiliya.radja7@gmail.com

      salam asi :)

      Delete
  3. "Satu mati-matian mendukung ASI apapun yang terjadi namun dengan caranya masing-masing membuat beberapa ibu gerah dan marah."
    Inget kalimat ini saya jadi inget grup pendukung asi di fb mba. Sering saya liat ibu2 member grup itu (selain admin pastinya) ngasih komen dengan kata2 yang justru bikin sebel yang baca.. Kalau admin saya yakin mereka sudah diberi pengarahan dll jadi kata2nya pun ga menyudutkan.. Kan jadi kasihan yang posting ke grup. Niatnya buat dpt pencerahan ehh malah kadang dpt tanggapan dari ibu2 lain yang ga mengenakkan :"(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba...salam kenal...

      Iya yang sering terjadi seperti itu maka saya menuliskan postingan ini...yuk berprovokasi positif...

      Dimulai dari kita :)

      Delete