Monday, August 26, 2013

Gajah dan gading - Manusia dan budi

 Peribahasa ini sudah saya pelajari sejak jaman SD dahulu, tapi saya baru merasakan dalamnya maknanya beberapa hari terakhir ini. Sejak awal kepindahan saya ke Medan seperti yang telah saya ceritakan, dalam waktu mendesak akhirnya kami (saya dan suami) mendapatkan kontrakan dengan harga fantastis :). Kontrakan saya berada di daerah Setia Budi, perumahan dengan jumlah rumah 31 buah dan kebanyakan ditempati oleh pasangan-pasangan muda. Kompleks ini terbagi dua, menghadap ke arah jalan dan bagian dalam. Sembilan rumah di depan dan sisanya kami di bagian dalam kompleks.

Catnya bagian dalam dan depannya berwarna kuning, ruang tamu tanpa kursi karena kami berpikir untuk apa membeli kursi, nanti repot pas pindahan, meja makan pun tidak ada, 3 buah kamar namun satu kamar kami jadikan tempat penyimpanan barang-barang yang tidak ingin dipakai dan tidak direncanakan untuk dibuka saat itu, dua kamar yang lain adalah kamar kami dan kamar satunya kami sediakan untuk siapapun yang datang dan ingin menginap di rumah kami (selanjutnya kamar itu menjadi kamar kakak iting sampai kami pindahan), 2 buah kamar mandi dan dapur serta instalasi mesin cuci.

Awal-awal menempati rumah itu, rumah itu hanya berfungsi sebagai tempat persinggahan kami berdua untuk istirahat disebabkan kesibukan kami bekerja sambil kuliah yang membuat kami pulang setiap hari diatas pukul sembilan malam. Makan lebih sering makan diluar dan sabtu minggu dengan kesibukan itu kami menganggapnya sebagai hari emas dan tidak mengijinkan diganggu oleh kegiatan apapun, itu adalah golden moment kami berdua. Hal itu membuat saya tidak ikut arisan kompleks :D dan ditambah keputusan kami tidak ikut dalam iuran STM (Serikat Tolong Menolong) kompleks membuat kami resmi dianggap invisible, hahahaha (jangan ikuti kelakuan saya yang satu ini ya). Saat itu bertemu tetangga hanya sekedar say hello saja kemudian ngacir, saya sih paling sering bicara dengan ibu depan rumah yang kebetulan saat itu sebagai bu RT dan ibu samping kiri rumah saya namanya bu Aisyah karena orangnya sudah berumur dan menurut saya bijaksana :)

Sampai setelah empat bulan saya menempati rumah itu, saya hamil, sungguh kebahagiaan yang luar biasa untuk kami berdua. Saya sama sekali tidak mengurangi kesibukan saya walaupun diawal-awal kehamilan saya sempat menderita hyperemesis gravidarum dan diopname, saya tetap beraktivitas seperti biasa dan hanya sekedar say hello saja ke tetangga... Umur kandungan memasuki usia enam bulan saya sudah tidak sanggup lagi mengerjakan semuanya sendiri (menyeterika, menyapu, mengepel, masak di hari sabtu minggu), atas bantuan bu RT akhirnya saya mendapatkan tukang seterika dua kali seminggu. itupun kami tidak pernah bertemu karena saya meminta sabtu minggu jangan kerumah agar saya dan papanya bisa beristirahat. Begitulah kehidupan sosial saya dikompleks itu saya jalani setiap hari, sampai suatu hari hal itu berubah...

Kelahiran Lionel Marcello membawa warna baru di hidup saya. Saya yang dulunya tidak terlalu bisa bergaul dengan orang-orang yang baru dikenal menjadi cepat terkenal karena panggilan "mama Leon". Dengan banyaknya pasangan muda di kompleks tersebut otomatis banyak anak-anak sebaya Leon, ditambah dengan kakak iting yang senang sekali membawa Leon jalan-jalan sore membuat dia memiliki banyak teman :). Kehidupan sosial saya yang kemarin cuman sekedar say hello naik kelas dengan percakapan yang panjang dan lama (jika menarik :)) dan belanja-belanja macam-macam (hahaha, jadi papa Leon yang susah).

Tepat dua tahun dua bulan saya menempati rumah itu dan saya harus pindah kerumah kami, ketika akan pindah, berat rasanya meninggalkan komunitas itu. Kemarin saat lebaran ibu RT mengirimi saya satu rantang lontong lengkap dengan lauknya kerumah kami (makasih bu..) malamnya saya pergi bersilahturahmi ke rumah ibu RT sekitar jam tujuh malam, dan tahu apa yang terjadi? hampir semua teman-teman Leon keluar dan bermain bersama dia sampai jam 10 malam, itupun diselesaikan sesinya karena hujan, semua mengatakan betapa rindunya mereka dengan Leon, cerewetnya, lincahnya, teriakannya dan mereka merasa kesepian (ah Leon, ternyata kau berteman dengan begitu baik nak). Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati menginggalkan budi, sekalipun saya sudah tidak lagi menjadi bagian komunitas mereka, saya bersyukur kedatangan kami tetap diterima dengan baik dan hangat. Terimakasih untuk semuanya :)
 
Atas : Abang Zildjie, teman main yang seumuran Leon sekaligus sahabat ikribnya :)
Bawah : dari kiri ke kanan kakak Alsa, Kakak Nadira (kakak Zildjie), dan Abang Joel

Masih banyak teman-teman Leon ada kak cici dan sofi, bang agung, kak kei-kei, kak ita, nenek absah, nenek alsa, timo, farel and cherybelle alias si kembar icel dan ibel, opung aisyah dan onty memey yang cantik beserta duo bang dika dan bang agung, theo, kak beta dan kak agnes namun saya jarang mengambil momen Leon bersama mereka dan saya menyesali itu saat ini. Terimakasih teman-teman Leon telah mengisi masa kecil Leon dengan persahabatan yang indah. Amigos Para Siempre (You'll always be my friend)

No comments:

Post a Comment