Thursday, August 15, 2013

LEON, ALERGI SUSU, TONGUE TIE DAN CINTA MAMA (1)

Tulisan ini saya buat menjelang usia Leon enam bulan tepatnya 21 Desember 2012 sebagai pengingat untuk saya dan motivasi agar saya tetap semangat memperjuangkan ASI untuk anak saya. Saat ini saya baru berani mem-publish karena saya ingin semua mama yang juga mengalami tantangan dalam memberikan ASI untuk anaknya tetap memiliki kemauan dan semangat, bahwa meskipun tembok penghalang itu seperti tidak bisa diterobos selama harapan itu masih ada, sekecil apapun pasti akan membawa kita pada sebuah jalan keluar, walaupun jalan keluar itu nampaknya lebih kecil dari lubang jarum. Karena panjangnya tulisan ini akan saya bagi dalam beberapa bagian. Selamat membaca, selamat mengomentari jika berkenan, dan selamat memutuskan :)

Tanggal 21 Juni 2012 adalah tanggal yang mengantarkan saya dengan status baru sebagai seorang ibu dari anak lelaki bernama Lionel Marcello. Leon lahir melalui operasi Caesar setelah di induksi 3 hari tidak mempan, air ketuban makin sedikit,  plasenta sudah mengalami pengapuran grade 3, ditambah posisi Leon yang posterior sehingga dokter obgyn memutuskan harus segera di operasi. Setelah dioperasi Leon dibawa ke saya untuk disusui, Leon bisa menyusu dengan baik namun karena saat itu ASI saya belum keluar dan Leon menjerit, diputuskan Leon untuk diberi susu formula. Saat itu saya tidak terlalu banyak berpikir dan mengiyakan saja,toh nanti bisa saya ASI-kan, saya tidak menyangka keputusan saya saat itu akhirnya menjadi petualangan yang luar biasa panjang ditemani dengan konflik dan derai air mata dalam setiap bagiannya. So mama..here is the story…


Ketika besok pagi Leon dibawa kepada saya, saya merasakan kondisi Leon yang berbeda, tangisannya seperti tangisan kesakitan, saya bertanya pada suster “ Suster, anak saya kemarin tidak seperti ini, ini kok seperti sakit” susternya menjawab “ Anak ibu memang rewel dari kemarin bu” pada saat itu DsA tepat berkunjung ke ruangan kami dan sayapun bertanya hal yang sama, dokter melihat sebentar keadaan Leon dan berkata “ ibu,anak ibu agak kembung,kami bawa lagi ya untuk diobservasi” saya dan suami mengiyakan dan Leon dibawa lagi masuk NICU (suami tidak memberitahukan karena takut saya terpukul) saat itu juga kondisi ASI saya masih belum keluar J . Jadilah setiap hari jam berkunjung bayi, semua bayi dibawa ke ibunya, bercengkrama dan disusui, sementara saya dan suami hanya terbengong melihat mereka. Besoknya DsA memberitahukan pada bapak Leon bahwa Leon alergi terhadap susu sapi sehingga mereka mengganti susunya dengan susu soya, ASI saya masih belum keluar, setiap jam saya kompres air hangat,memompa di ruang pompa RS,makan segala macam yang dibilang orang bisa mengeluarkan ASI dan ASI saya masih belum keluar. Saya juga sempat meminta donor ASI ke AIMI Sumut tapi tidak diperbolehkan dokternya dengan alasan kondisi Leon dan kekhawatiran akan konsumsi Ibu Susu Leon dengan produk-produk tertentu yang bisa memicu alergi. Saya sudah banyak membaca tentang ASI, bagaimana terbentuk sejak masih hamil, bagaimana memang di awal-awal ASI bisa saja belum keluar tapi bayi masih punya cadangan yang cukup untuk 3 hari, bagaimana lambung bayi yang hanya sebesar biji jagung, well yeah…kalau kita sudah berada di situasi itu,semua ketenangan sirna dan semua ilmu menguap lenyap. Ternyata susu soya yang diberikan juga tidak cocok untuk Leon sehingga dokter mengganti susu dengan tingkat toleransi yang sangat tinggi dan menyebut bahwa susu ini sangat susah dicari. Leon pun diinfus kemudian dipasang semacam selang untuk mengeluarkan sisa-sisa susu yang sempat diminumnya, waktu saya sudah diperbolehkan melihat Leon, hati saya menjerit, hancur ,menangis melihat Leon seperti itu, bayi sekecil itu harus berjuang sendirian. 

Di hari ketiga pagi, ASI saya keluar ketika saya memompa jam 5 pagi, cepat-cepat saya bawa ke NICU minta diberikan kepada Leon, perawat yang ada memberikan ASI untuk Leon dan saya bahagia, ASI saya sudah keluar, lama-kelamaan akan banyak dan cukup untuk Leon, saya lalu bilang “boleh saya menyusui Leon?” perawat menjawab “boleh bu, 2 jam lagi datang ya untuk menyusui”. Saya tersenyum senang dan 2 jam kemudian saya ke NICU ditemani papanya dan disitu ada DsA Leon, saat saya bilang mau menyusui DsA tersebut berkata seperti ini “ bu, maaf ibu belum boleh menyusui Leon karena kondisi Leon yang alergi terhadap semua produk sapi, ibu kalau ingin menyusui Leon ibu harus bersih dari semua produk itu, kita gak tahu konsumsi makanan ibu selama 7 hari yang lalu, ibu harus mulai menghentikan segala macam makanan yang mengandung produk-produk tersebut”, kemudian saya bertanya “ jadi dokter kalau seperti itu saya harus mulai dari hari ini (umur Leon 2 hari) kemudian ASI saya yang sudah keluar saya pompa dan simpan ya?”, dokter itu menjawab seperti ini “ ASI ibu selama ibu diet itu dipompa dan tidak bisa diberikan pada anak ibu (istilah kasarnya ya DIBUANG), ibu pun kalau tidak kuat berdiet produk-produk tersebut saya lebih sarankan untuk tidak memberikan ASI.” Saya melongo, suami saya emosi, dia berdebat cukup panjang dengan dokter tersebut (karena sejak sebelum lahir saya sudah bilang hanya ingin memberikan ASI dan hanya ASI saja pada Leon sambil memberikan artikel-artikel yang menjelaskan tentang ASI dan manfaatnya) dan pada akhirnya saya yang menenangkan dengan bilang “ sudah pak, iya dokter kalau seperti itu” karena mau sampai kapanpun berdebat tidak akan ketemu jalan keluar, kami sudah beda pemikiran. Saya kuatkan tekad di hati saya, ASI saya tidak akan saya buang, saya perah dan simpan (saya sudah paham manajemen ASIP) nanti saya berikan untuk Leon, toh dokternya kan gak tau. Bersambung ke bagian 2 disini...

4 comments:

  1. ini tulisan yg dlu pas mau narasumber itu bukan? aku uda bacalah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan yang laen belum baca onty...kemarin kan ekslusif dirimu membacanya...hihihiihi

      Delete