Monday, September 23, 2013

Dear Son : Mendapatkanmu Dalam Riak Duniaku

Dear nak, menuliskan bagaimana mommi mendapatkanmu rasanya memerlukan tambahan berlembar-lembar kertas untuk menjelaskan setiap detilnya. Mengenang bagaimana kehidupan mommi dan papa sebelum ada engkau membuat kami bersyukur diberi malaikat kecil sepertimu. Nikmatilah cerita ini, karena suatu saat ketika kau mampu membacanya sendiri, kami ingin kau merasakan betapa kau dibesarkan dengan kasih sayang penuh dari kami dan inilah kami, mommi dan papa dengan segala keterbatasan kami.

Suatu waktu dimasa air dari langit tidak henti-hentinya mengguyur bumi, dimasa baru empat bulan kami mengecap nikmatnya kehidupan bersama sebagai pasangan suami-istri yang tidak terpisah, datanglah kabar bahagia di pagi hari. Waktu tepat menunjukkan pukul lima pagi saat mommi dengan semangatnya mengambil alat test pack yang kelima untuk mengecek kondisi mommi, dan muncullah dua garis itu, satu garisnya buram, antara percaya dan tidak percaya mommi membangunkan papa, tak sabar ingin menunjukkan hasil tersebut. Yakin, tidak yakin... Maju mundur, akhirnya mommi dan papa sepakat untuk diam saja. Dua hari kemudian mommi mengetes lagi, dan garis itu makin nyata, mommi terharu nak, tepat setahun usia pernikahan kami Tuhan mempercayakan engkau untuk kami.
Sore hari mommi dan papa langsung menuju dokter kandungan atas saran dari onty doktermu, dokter ini direkomendasikan karena kecintaannya terhadap Tuhan dan diwujudnyatakan dalam kehidupan kerjanya. Opung dokter Ranto saat itu menyatakan belum melihat ada tanda-tanda kehadiranmu saking masih mudanya umurmu, sehingga mommi dan papa disuruh untuk datang sekitar tiga minggu lagi. Tiga minggu merupakan waktu yang sangat panjang untuk kami berdua dan ketika tiba saat itu, pertama kali melihat jantungmu berdetak dialat USG, mommi terharu nak. Nyata bahwa engkau telah sepenuhnya ada dan akan kami timang sembilan bulan lagi. Mommi diberi suplemen oleh opung Ranto dan diwanti-wanti untuk tidak mengonsumsi semua makanan setengah matang, dan mommi menyanggupi, semua demimu nak.

Ternyata perjalanan awal memilikimu tidak semulus ibu-ibu pada umumnya. Hormon manusia yang tinggi pada dirimu membuat mommi pusing berkepanjangan, mual berkepanjangan, tidak bisa makan, muntah berkepanjangan, pada akhirnya mommi harus drop dan dirawat inap di Rumah Sakit. Mommi yang sepanjang hidup paling takut dengan jarum infus, harus diinfus, tapi semua mommi jalani, karena mommi tahu itu untuk kebaikan kita berdua. Saat itu mommi merasa begitu kesal, kenapa mommi harus seperti ini, kerja jadi terbengkalai, kuliah apalagi, belum lagi pihak-pihak tertentu yang bilang bahwa mommi manjalah, tidak mau memaksakan dirilah, papa juga sampai marah sama mommi, lalu datanglah Opung Ranto dan berkata pada semua orang "Kondisi dia tidak bisa dipaksakan, bahkan sampai hari ini dunia kedokteran tidak bisa menjelaskan kenapa kondisi pada masing-masing ibu berbeda, dan tugas anda adalah mendampingi, bukan menyalahkan" ah...mommi bersyukur sekali nak, sejak saat itu papa selalu melindungi mommi.

Awal-awal kehamilanmu mommi habiskan dengan menangis dan stres, menangis dengan segala kondisi mommi dan stres dengan kerikil-kerikil yang muncul dalam kehidupan kami. Di usia kehamilan limabelas minggu mommi dikenalkan teman dengan suplemen madu-maduan yang merupakan jalan selamat mommi. Setelah mengonsumsi secara rutin, mommi jadi memiliki sedikit tenaga, tidak pucat dan tergeletak seperti orang sekarat. Usia duapuluh lima minggu mommi mulai merasa sehat, minum suplemen ditambah mulut sudah mulai bisa mengecap rasa, pertumbuhanmu juga sangat bagus, gerakanmu begitu lincah sehingga opung Ranto berkata bahwa abang main bola di perut mommi,hihihi.

 Semakin dekat ke hari kelahiran, mommi dan papa setelah jalan pagi

Tibalah hari kelahiranmu, mommi sudah berniat akan melahirkanmu secara normal, berani menghadapi setiap ketakutan dihati mommi karena bisikan orang bahwa melahirkan normal itu sakitnya minta ampun, namun sekali lagi Opung Ranto berkata "Sudah menjadi kodrat seorang wanita untuk melahirkan, Tuhan tahu wanita pasti sanggup, dan tidak mungkin tidak sakit, namun ketika kesakitan, atur napasmu dan ingat, saya harus dan akan melalui ini" dan mama berani nak. Enam belas Juni 2012 pukul tiga pagi ketuban merembes, kami pergi ke RSIA yang sudah dibooking terlebih dahulu, dimasukkan ke ruang bersalin, dan diperiksa. Oleh opung Ranto disuruh pulang lagi karena bukaan masih jauh. Hari senin pagi datang opung boru Zuhelmi/Mimi ke rumah, menjemput mommi karena ketuban yang keluar semakin banyak. Pagi itu atas keputusan kami, dipilih induksi untuk mempercepat waktu lahir abang, ternyata setelah tiga hari ditunggu pembukaan tidak maju-maju, tetap di bukaan satu dan akhirnya mommi disuruh pulang lagi. Perawat sudah mulai berbisik-bisik, mengherankan kondisi mommi yang kesakitan pun tidak saat diinduksi dalam jumlah yang menurut ukuran medis seharusnya sangat menyakitkan. Mommi dijemput opung boru Mimi, menginap disana dan besoknya kembali kontrol untuk di USG posisi abang. Ternyata nak, abang sudah di posisi lahir, namun kepala abang bukan dalam posisi yang benar untuk keluar, wajah abang malah menghadap wajah mommi, kondisi ini mengakibatkan gagal induksi dan tidak bisa diperbaiki. Plasenta sudah hampir putus dan mommi diminta untuk segera dioperasi, mommi menangis sejadi-jadinya nak. Operasi sama sekali tidak ada dipikiran mommi, namun abang memilih seperti itu, dan karena keadaannya saat itu sudah benar-benar dikhawatirkan opung dokter, mommi mengiyakan.

Malam itu merupakan malam terpanjang di kehidupan mommi, mommi tidak bisa tidur, membayangkan operasi membuat stres luarbiasa, paginya ketuban keluar begitu banyak, secepatnya dilarikan papa ke RS dan langsung masuk ruang operasi. Jam 08.45 lahirlah engkau "Lionel Marcello" dengan kondisi sempurna dan ketika diletakkan pertama kali di pipi mommi, mommi menangis, iya engkau membuat mommi melewati semua hal yang paling menakutkan dihidup mommi dan engkau memberikan balasan yang setimpal, kehadiranmu yang begitu menenangkan setiap riak hidup mommi.
Sejak saat itu kau, kau, dan hanya kau duniaku. Perjuangan awal memilikimu dan pemberian ASI terhadapmu membuat mommi jatuh bangun lagi. Baru lima belas bulan umurmu nak namun pelajaran yang kau berikan dalam hidup kami merupakan pelajaran berharga yang belum tentu dijalani orangtua lain dalam sekolah kehidupannya. Mama teringat pesan opung Ranto ketika akan selesai dalam kunjungan visit dia "Ingatlah melahirkan memang sakit, namun membesarkan dan mendidik lebih menguras air mata kita". Biarlah Tuhan yang memampukan kami untuk membesarkan engkau sehingga nanti engkau akan dengan cinta penuh menyebut kami orangtuamu.

"Mendapatkanmu dalam riak duniaku membuat aku seperti mengayuh dalam lautan tanpa gelombang"



Tulisan ini dibuat memenuhi tongkat estafet dari Bunda Novi Turasmiasih atas permintaan saya di KEB (Kumpulan Emak Blogger). Selanjutnya ingin meneruskan tongkat estafet ini ke Bunda Noorma Fitriana ya...Selamat menulis selamat merangkai kata terindah untuk sang inspirator kita :)

6 comments:

  1. wah aku juga KEB dong kak, kan diinspirasi ama kakak, hehehe,,, ih foto newborn si LEon lucunyaaa, mirip ama Si Ryer hehehee....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gabung aja di facebooknya dek...udah nanti dikonfirm trus kuajarin biar dicolek untuk buat tulisan Dear Son. Sekalian jadi penyemangat untuk terus menulis :)

      Iya...abang leon nangisnya kenceng amat dulu :)

      Delete
  2. abang leon lebih keren pose ama papa ketimbang mommi..
    hehehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan mommi yang ngajarin cara berposenya onty...hihihi

      Delete
  3. Replies
    1. Salam kenal mba Heni, dari KEB kah? yang saya kasih tongkat estafet dear son ya? selamat menulis ya... :D

      Delete