Wednesday, September 11, 2013

Bukan Karena Kuatku

Saya dilahirkan di Kupang tepat tanggal 5 mei 1986, putri pertama dari ayah bernama Melkior Radja dan ibu bernama Erika Panjaitan. Dari namanya saja teman-teman sudah pasti bisa menebak bahwa ibu saya sukunya batak. Dilahirkan dengan memiliki darah Batak dalam tubuh saya membawa kebanggaan tersendiri, saya merasa berbeda dengan teman-teman yang pada umumnya orangtua mereka berasal dari suku-suku yang ada di Kupang, apalagi melihat betapa kuatnya jiwa persaudaraan suku Batak di perantauan membuat saya semakin bangga. Ketika di perantauan kami adalah saudara, saling mendukung, menolong, menyemangati, memiliki perkumpulan yang sama-sama punya kerinduan akan kampung halaman (walaupun saya pertama kali pulang ke tanah Sumatera ketika awal kelas tiga SMP sekitar tahun 2000-an untuk pesta adat orangtua saya). Masa kecil saya lebih banyak dihabiskan dengan tinggal di rumah dan belajar karena papa saya adalah orang yang keras mendidik saya, pukulan dan hukuman selalu menjadi hal yang biasa dalam didikan, sehingga saya sampai pada suatu waktu dimana saya memiliki kepahitan dengan papa saya. Iya, ternyata jauh didalam hati saya saya tidak terlalu setuju dengan segala didikannya. Kalau adik laki-laki saya dibentak saja sudah menangis, saya dibentak makin melotot, dipukul tetap diam, selesai dipukul saya masuk ke kamar dan menangis sendiri, selesai. Tempaan papa saya itu membuat saya kehilangan hubungan ayah-anak yang harmonis dan saya sama sekali tidak mengidolakan dia, apalagi dengan melihat bagaimana teman-teman saya tidak dididik seperti cara papa saya mendidik kami, makin timbullah kebencian itu di hati saya.

Ketika menyelesaikan masa SMP atas kasih karunia Tuhan saya diterima dengan beasiswa penuh di SMA yang boleh dibilang cukup bagus, SMU Kr.Petra 4 Sidoarjo dan mengikatkan diri untuk hidup berasrama dengan para penerima beasiswa lain. Saat itu saya merasa hal itu sebagai tiket jalan keluar saya, saya bisa bebas dari papa saya, saya capek dengan segala hardikan dan aturan darinya yang tidak masuk akal menurut saya. Saya berangkat ke Sidoarjo diantar mama saya dan hampir dibawa pulang kembali karena saking pemalunya saya, untuk menyapa teman sesama asrama pun saya tidak sanggup :) Mama stres, hahahaha ternyata itulah dampak dari anak yang sering dihardik/disalahkan dalam lingkungan, dia akan menjadi pribadi yang takut untuk melangkah ataupun bersosialisasi. Akhirnya mama dengan berat hati meninggalkan saya dengan keyakinan saya bisa berubah, namun ternyata hidup di asrama dengan berbagai karakter itu sangat melelahkan. Saya dengan segala keterbatasan saya malah oleh teman-teman seusia saya mungkin secara tidak sengaja dijadikan korban bully oleh yah orang-orang yang merasa dirinya akan selalu disukai semua orang. Saya menyelesaikan masa SMA dengan kehidupan sosial yang pahit, namun saya menyelesaikan SMA dengan kemenangan jiwa saya.
Karena asrama saya memiliki program yang jelas, dengan pembina yang berlatar belakang agama dan psikologi jadilah pencampuran kedua hal itu membuat kami memiliki sesi konseling pribadi setiap bulan dan sesi-sesi belajar agama secara mendalam tiada henti selama liburan sekolah (hihihi, kalau dulu ya malasnya minta ampun...yang lain libur, ini kok tetap seeprti sekolah). Dalam konseling-konseling itu ternyata saya mendapati bahwa semua kepahitan-kepahitan yang terjadi di masa lalu saya diangkat dan dibersihkan. Saya mengalami pemulihan hubungan dengan papa saya, saya bisa memaafkan dia dengan segala keterbatasannya dalam mendidik kami :) dan yang terindah, saya mengakui iman percaya saya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya yang hidup.

Saya sempat berkuliah setahun di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDANA Kupang akibat tidak diterimanya saya di Perguruan Tinggi favorit saya, STAN. Setahun itu bagi saya adalah setahun seperti berada dalam belanga panas. Disindir dari sana-sini, dipertanyakan kemampuan akademisnya karena cuman bisa masuk PTN abal-abal menurut pihak-pihak tertentu, dan yang lebih parahnya lagi diragukan kemampuannya oleh mama saya. Mama loh, orang yang selama ini selalu berada dibelakang saya, mendukung saya secara tiba-tiba menarik penuh dukungannya malah sering menyudutkan, frustrasi? PASTI.

Lalu datanglah tahun kedua dimana saya mengikuti tes kedua kali dan guess what? Saya LULUS, di spesialisasi pilihan saya, saya masuk ke kampus dengan bangga, menjalani masa pendidikan selama tiga tahun dengan sangat manis karena memiliki sahabat-sahabat terbaik dan tergabung dalam indahnya Pelayanan Mahasiswa, memiliki saudara walaupun tidak terikat secara darah, sampai menemukan pasangan hidup disana, lelaki batak tulen, menikah dengannya dan mendapati bahwa ternyata suku Batak juga memiliki kelebihan dan kekurangan, sayanya aja yang terlalu terpukau dengan sampul yang disediakan :). Pria ini orang yang menemani, melindungi, dan mengasihi saya sejak kami mengukuhkan janji setia sampai hari ini dan semoga untuk selamanya. Ternyata ketika melihat perjalanan hidup saya seluruhnya saya begitu terkesima dengan pekerjaan Allah dalam hidup saya. Bagaimana seorang Luchia Chendana Radja yang dilahirkan dua puluh tujuh tahun lalu dengan segala proses yang dilewatinya bisa bertransformasi menjadi Luchia Chendana Radja di hari ini. Saya tidak mengatakan saya sempurna, namun saya bersyukur atas karya-Nya yang dikerjakan dalam hidup saya sampai hari ini saya bisa seperti ini. Ternyata suku yang notabene tidak bisa diciptakan bukanlah sesuatu yang bisa terus diagung-agungkan, kepintaran yang bagi banyak orang merupakan tolok ukur kesuksesan tidak menjadi hal yang luar biasa disanjung-sanjung, Popularitas hanyalah kesenangan semu sesaat dan akan hilang seiring waktu. Segala hal yang mungkin bagi masyarakat pada umumnya merupakan syarat kesuksesan dan keberhasilan dibuat Tuhan seperti mainan dalam hidup saya, agar saya melihat bahwa percaya sepenuhnya, mengalami pemulihan sepenuhnya, dan pengubahan karakter sepenuhnya adalah karya Allah untuk menciptakan saya menjadi manusia yang lebih mengerti bersyukur atas arti hidup yang diberikan-Nya.


Ditulis setelah mendapatkan permohonan sharing dan seketika merenungkan kembali perjalanan hidup saya.

2 comments:

  1. terima kasih telah berbagi, chen..

    gak nyangka ternyata behind the scene nya seperti yg chen-chen ceritain ini
    soalnya dari dulu pertama kenal chen-chen kesannya chen2 ramah dan baik hati, g nyamgka dulu pernah mengalami susah menyapa teman baru d asrama
    ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Ayu....hahaha kalo inget masa itu -________-

      Makasih ya udah bersedia membaca :)

      Delete