Wednesday, September 4, 2013

MPASI dengan WHO Menyenangkan Untuk Bayi

Duh anak saya udah mau enam bulan nih, gimana ya entar dia makan, saya harus ngasih makan apa ya... Kira-kira susah gak makannya nanti ya?

Kalau pertanyaan ini yang sekarang sering membuat bunda tidur tak enak, kerja pun gak konsen....Welcome to the club :)

Iya, MPASI memang menjadi tantangan tersendiri bagi bunda, dimulai dengan harus memberi makan apa dan bagaimana memberi makannya agar menjadi kegiatan yang menyenagkan. Saya pribadi sejak awal ingin sekali memberikan Leon makan dengan prinsip BLW (Babby Led Weaning) jadi bayi sendiri yang makan, kita cukup memperhatikan. Namun setelah berkonsultasi dengan dr.Asti saya disarankan untuk memakai metode tradisonal a.k.a disuapin, kenapa? karena BLW lebih efektif jika sang ibu sendiri yang memberi dan memperhatikan, apabila si ibu harus menyerahkan kegiatan makan pada orang lain, dikhawatirkan orang tersebut tidak akan setelaten ibu dalam memperhatikan kegiatan makan, karena alasanya rasional yasudlah...saya mengikuti saran opung dokter.

Setelah melalui kurang lebih delapan bulan berselancar dalam dunia kuliner bersama Leon akhirnya saya mendapati hal-hal menarik seperti ini :
  1. Ternyata dengan memberi makan berdasarkan panduan WHO, dengan secepatnya mengenalkan semua jenis makanan dan menggunakan sumber pangan yang ada disekitar kita membuat anak mempunyai nilai rasa yang lebih baik, mengapa saya berkata seperti itu? Leon itu sangat tidak pemilih dalam hal makanan, dia menerima makan apa saja dan diolah menjadi apa saja. Mau dikukus boleh, digoreng oke, disantan suka juga, dibakar/panggang hmmm enak, sayur dipotong panjang dan dipegang dia untuk dimakan (yep Leon mengenal dan menyukai sayur, gak perlu deh disembunyiin biar Leon mau makan, brokoli ajah hap..hap..dikunyah seperti sedang makan ayam goreng) :)
  2. Siapa bilang Leon tidak pernah malas makan? Sering kali... Cuman karena oh karena saya sudah menyiapkan ilmunya, apa yang saya lakukan ketika Leon males makan? Ya udah gak usah dipaksa, tawarin ajah lebih sering, pokoknya jangan sampai anak trauma sama waktu makan, karena kita orang dewasa pun sering males makan kan? Nah, gimana dong, nanti asupannya kurang untuk pertumbuhan anak. Kalau anak sudah lapar, dia pasti minta makan sendiri, semakin aktif seorang anak biasanya akan lebih sering minta makan dibandingkan dengan anak yang lebih suka duduk dan nonton TV (yuk bunda hindari kebiasaan menonton sejak dini)
  3. Memberi makan dengan WHO juga membuat saya bisa menciptakan menu-menu simpel tanpa harus pusing berkreasi ini itu demi si anak tertarik untuk makan. WHO itu menyarankan kita mengenalkan semua jenis makanan dan diolah menjadi makanan versi rumahan, dan makanan dirumah saya adalah makanan yang dimakan orang-orang indonesia pada umumnya, jadi ya saya mengolahnya sesuai dengan kebiasaan kami. Hasilnya apa dong? Leon setahun udah makan bersama kami dong...saya tidak perlu memasak dua kali lagi, apa yang kami makan itulah yang dimakan abang Leon. Kalau pedas bagaimana? hihiihih, percaya gak percaya ya bunda...Leon sudah makan pedas sejak usia 11 bulan dan dia doyan, jadi ya....dia ikutan makan ikan sambel, arsik yang full bumbu, gulai, dan ikan teri sambel....Makanan-makanan ekstrim yang mungkin menurut bunda-bunda tertentu akan mengernyit jika makanan tersebut ditawarkan akan diberikan kepada anaknya.
  4. Mengenalkan makan sejak awal dengan didudukkan di kursi membuat anak menghargai waktu makan/mealtime. Makan adalah sebuah kegiatan, memberi makan sebaiknya tidak disambi dengan acara jalan-jalan, gendong keliling kompleks, ataupun kejar-kejaran. Sediakan waktu khusus untuk makan, kalau bisa kita makan bersama anak dan dalam posisi duduk, saya gak punya kursi bu... Gampang, dipangku aja yuk :) Nah, anak-anak yang dibiasakan makan dengan posisi duduk akan menghargai waktu makan dan menyelesaikan waktu makan itu baru kemudian melanjutkan aktivitas yang lain dan hal itu akan terus berlanjut hingga dia dewasa :) Kebiasaan yang baik harus ditanamkan secepat mungkin kan :)
  5. Pada prinsipnya manusia makan menggunakan piring dan sendok/tangan sebagai alat makan, untuk mengenalkan kebiasaan ini sejak awal, sebaiknya bunda hindari ya memberi makan memakai botol sendok, karena hal ini akan membuat si anak berpikir semua makanan = yang ada di botol. Biarkan bayi mulai melihat bahwa makanan yang diberikan padanya diberikan dari piring dan sendok sehingga bayi memiliki pemahaman yang benar tentang waktu makan/meal time. 
  6. Ketika akan naik tekstur makan, bayi cenderung menolak diawal. Bagaimana bentuk penolakannya? bermacam-macam namu yang paling sering adalah melepehkan atau memuntahkan makanan yang telah disuap. Lalu apakah yang harus kita lakukan? Apakah diberhentikan? Tidak, justru ketika dilepehkan/dimuntahkan kita coba menawari lagi, proses melepeh/muntah adalah bentuk pertahanan diri anak dari hal asing yang dicurigainya, menghentikan waktu makan berarti menyetujui pendapat sang anak. Ketika ditawarkan bayi akan cenderung mau tapi sedikit ajah, tidak apa-apa bunda lama kelamaan bayi akan makan dan tidak menolak lagi. Bagaimana dengan Leon? Leon jug melepeh kok,hehehhe tapi ya tetap ditawarin, malah usia 11,5 bulan sudah tidak mau lagi makan nasi lunak langsung kami naikkan tekstur ke nasi keras walaupun giginya cuman lima biji, bisakah mengunyah? bisa dong...kan punya gusi, hihiihihi :)
  7. Apakah snack terbaik untuk anak? Buah, buah, dan buah....iya, kenalkan anak segala jenis buah dan sesering mungkin sehingga anak menyukai buah. Leon setiap hari minimal dua kali makan buah dan diumurnya hari ini mangga yang agak kecutpun disukai dia. Buah-buahan yang kaya vitamin C menghasilkan penyerapan zat besi yang baik dalam tubuh ketika dikombinasikan dengan sayuran yang kaya zat besi namun rendah penyerapan :)
 Si Mata Kelinci Makan Buah Naga

Semoga Bermanfaat dan Salam ASI,

No comments:

Post a Comment