Monday, September 30, 2013

Tiga Duka

Sejak Selasa kemarin saya menjalani hari seperti bermimpi, segalanya terjadi begitu cepat sehingga mengingat untuk menuliskannya pun tidak sempat saya lakukan. Tiga kejadian besar menimpa orang-orang yang saya kenal, dan saya yakin semuanya itu atas ijin dan kehendak Tuhan, masalahnya saya sebagai tempat mereka berbagi sungguh merasakan kesedihan yang luar biasa sehingga untuk mengeluarkan kata-kata penghiburan pun saya tidak sanggup. Saya memang bukan tipe orang yang bisa menasehati orang panjang lebar tentang harus tegar, harus begini-begitu sementara belum tentu saya dikondisi itu bisa menerima dinasehati demikian. Oleh karena itu saya lebih memilih mendukung mereka dengan lebih menunjukkan bahwa saya ada sebagai teman dan memberikan bantuan nyata lewat dukungan semangat sehingga mereka tidak merasa digurui.

  1. Kecelakaan Kak Tere : Kak Tere dua minggu lalu mengalami kecelakaan, ditabrak pengendara sepeda motor dari belakang dan akibatnya motornya rusak, telapak kaki kakak ini bergeser sehingga dibawa ke tukang urut yang mengerti hal ini. Dalam kejadian ini kakak ini memang tidak salah, namun akibatnya ke dia sungguh dalam pandangan saya mengerikan/membuat ciut nyali, benar-benar pelajaran untuk saya karena jiwa pengendara kendaraan bermotor di Medan tercinta ini sungguh-sungguh berani menyabung nyawa demi euforia sesaat. Dipastikan oleh saksi yang ada disekitar tempat kejadian bahwa si penabrak melajukan motornya luar biasa kencang sehingga ketika tabrakan terjadi, sepeda motor kak Tere yang notabene supra imut-imut harus terbantai oleh motor besar milik pengendara. Motornya ajah kayak gitu, apalagi orangnya, jangan tanya deh, Kak Tere malah berpikir saat itu kakinya udah patah ajah....Syukurlah telapak kaki yang terkena itu cuman sedikit retaknya dan telah diurut untuk diperbaiki. Sampai hari ini kakak itu belum bisa beraktivitas seperti biasa karena kondisi kakinya masih memerlukan istirahat, semoga kak Tere bisa secepatnya pulih ya... Pelajaran untuk saya, berhati-hati jika membawa kendaraan bermotor di Medan karena ketika kecelakaan terjadi, sekalipun kita di posisi yang benar dampaknya akan sangat merugikan, sebaiknya benar-benar fokus dan selalu berdoa agar dilindunig Tuhan.
  2. Kondisi Prabu : Dihubungi oleh mama prabu mengabarkan bahwa Prabu menderita CP (Cerebral Palsy). CP adalah suatu keadaan yang ditandai dengan buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya, hal ini terjadi karena Prabu sempat mengalami koma ketika lahir. Prabu sebenarnya adalah anak yang normal saat dalam kandungan, namun karena penanganan yang kurang tepat ketika akan dilahirkan membuat kondisi Prabu sampai seperti ini :'( . Mama Prabu berkeluh kesah kepada saya, dan saat itu saya hanya bisa menguatkannya, Mama Prabu juga sedang memikirkan kemungkinan untuk resign dan sepenuhnya bersama Prabu. Saya percaya Mama Prabu bisa melewati semua ini karena Tuhan yang mengijinkan semua ini terjadi dan Tuhan pasti akan memampukan mama untuk melewatinya. Semangat ya mama Prabu, you can do it! Kalau ada yang tergerak menyemangati, boleh memberi komen di posting ini ya, sehingga ketika mama Prabu membacanya, semoga merasakan dukungan untuk kondisi Prabu dan tetap bersemangat menjalaninya.
  3. Operasi Opung Boru : Iya, ternyata hasil pemeriksaan di ahli patologi dipastikan bahwa opung menderita kanker ganas payudara stadium dua, saat mendengar kepastian itu saya langsung lemas. Senin siang saya langsung ke rumah opung bersama papa leon dan ketika bertemu kami berdua terduduk dan menangis bersama. Jujur saya tidak tahu harus berkata apa, mengalami kondisi seperti itu membuat saya luar biasa bingung, seperti cerita yag selalu saya dengar kanker ganas pada akhirnya membuat penderita menyerah dengan segala jenis pengobatan dan akhirnya lebih memilih untuk menyerah melawan penyakit tersebut. Dan saat ini saya menghadapi orang terdekat saya, ibu angkat saya, orang yang sudah saya anggap ibu saya harus menghadapi hal itu. Malamnya saya tiba-tiba di SMS "Si, ibu besok operasi", ya..ibu saya ini orang yang sangat realistis, dia menanyakan ke penderita lain dan memutuskan untuk mengangkat kanker itu secepatnya. Malamnya kami bertemu di RS dan besoknya jam sembilan pagi setelah menyelesaikan semua pekerjaan saya, saya berangkat ke RS. Operasi dimulai sekitar pukul setengah sebelas setelah persiapan selesai dan waktu berjalan begitu lambat untuk kami, detik-detik itu seperti penantian seumur hidup dan kami sharing dari hati ke hati dengan opung doli, kak uli, dan bang Tara segala sesuatunya seperti mimpi untuk kami. Operasi selesai jam setengah tiga dan ternyata berdasarkan hasil pembedahan perkembangan kanker begitu cepat sehingga hanya dalam waktu satu minggu sudah ke stadium tiga A, opung boru harus secepatnya di kemoterapi :( Rasanya seperti tidak ada habis-habisnya berita ini datang, sekarang opung boru sedang dalam masa pemulihan semoga setelah ini opung bisa menjalani kemo dan kami juga memikirkan pengobatan alternatif pengganti kemo sehingga opung bisa pulih dan menjalani harinya tanpa harus bertanya-tanya tentang survival lifenya.
    Kondisi Opung Boru Pasca Operasi
    Jalan Hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat, namun kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat. Mungkin langit tak terlihat oleh awan yang gelap, dibaliknya telah membusur pelangi kasih Tuhanku

    Hidup memang memberi kita terlalu banyak alasan untuk berduka, namun ketika kita memutuskan untuk menyerah menghadapi hidup, disaat itu pula kasih Tuhan akan berhenti dinyatakan dalam hidup kita. Jadilah para petarung hidup yang menjadikan hidup teman saat bersuka dan lawan saat hidup sepertinya mengambil kebahagiaan kita, dan ingatlah, Allah sang pemberi hidup akan memampukan kita melalui semua ini. 

2 comments:

  1. eeeeyyyaaaakk masuklah dia artisnya gk bisa syuting lg karena pincang2 kan....hahahhaa...dah capek nangis2 bah..sekarang malah pen nyari tuh abg labil yang nabrak dan bilang ke dia...bro tukeran kaki donk bentar...

    ReplyDelete
  2. iya..kemarin baik kali "ibu maafkan dek...lain kali hati2 ya" awak pun dalam hati...astaga damainya hidup ini kalo semua kayak mak vi...hahahahha

    ReplyDelete