Thursday, November 28, 2013

Bayang Masa Lalu

Seandainya saya tidak bertemu dengan dia lagi, dia mungkin akan terus menjadi bayangan masa lalu saya, yang akan terus saya sesali karena perpisahan kami yang begitu cepat, seperti angin dia berlalu begitu saja tanpa kabar dan berita, meninggalkan saya dengan ribuan tanda tanya selama bertahun-tahun. Dan tanda tanya itu terjawab, bergulir dari mulutnya ketika kami berdua berbincang bersama di waktu dan tempat yang sama sekali tidak kami pikirkan akan terjadi. Yeah, that's what i call "Miracle" :)

Namanya Desak Putu Damayanti, jelas sekali kelihatan kalau dia memiliki darah Bali tulen, terlahir dari mama-papa suku Bali yang datang merantau ke Kupang, NTT karena papanya bekerja PNS di salah satu instansi pemerintahan. Apa saja yang menjadi kenangan tentangnya dan selalu melekat di hati saya tentang dia?

Dia biasa dipanggil Yanti, memiliki rambut super panjang (sepinggul), selalu dikepang entah satu ataupun dua dengan bermacam-macam pita yang dibelikan mamanya. Orang yang selalu ceria, suka berteman dengan siapa saja sehingga dia memiliki banyak teman. Memiliki tiga orang adik, 2 perempuan dan satu laki-laki, perbedaan umur mereka terpaut cukup jauh untuk masa orangtua saat itu ya...saya mengenal mereka semua karena kami berteman akrab dan pertemanan kami membuat orangtua kami menjadi saling mengenal. Dahulu saya sudah dibiarkan pulang sendiri oleh orangtua saya sejak kelas tiga SD sementara kondisi saat itu ketika harus naik angkutan umum mereka tidak pernah memberi tempat untuk anak SD karena track record yang terbiasa naik angkot gak bayar. Ngenes banget dulu kondisinya namun beruntung arah rumah saya sejalan dengannya dan beruntungnya lagi rumah kami lebih dahulu dilalui sehingga saya bisa pulang ikutan dengan dia karena dia biasanya dijemput papanya menggunakan mobil (which means saya bisa numpang gratis) ataupun dijemput tantenya yang berarti saya gak susah naik angkutan :).

Sebenarnya mengingat semua kebaikan dia membuat saya malu atas sikap saya yang masih anak-anak dulu. Bayangkan ajah, udah bagus ya bisa naik angkot bersama mereka tanpa susah harus minta-minta biar angkot mau ngangkut saya, eh saya malah bandel, pernah kesusahan karena merasa uang jajan pas-pasan, saya naik angkot dan enggak bayar..jeng..jeng....kejadiannya berulang sekitar sebulan dan terakhir ketahuan dengan tantenya memberitahu papa saya tentang kelakuan saya, hasilnya? hahahhha, dilibas, abis itu langsung tobat bin kapok...Kejadian lain adalah dia dulu rutin loh ngasih uang jajannya ke saya tanpa saya minta (gosh, ini memalukan banget untuk saya, but i have to write this, kenapa..karena ini mengingatkanku akan betapa baiknya dia dulu dan betapa sebenarnya saya beruntung pernah memiliki dia sebagai sahabat) kenapa hal itu bisa terjadi, entahlah hanya Yanti yang tahu.... :)

Saya adalah anak emas di sekolah, prestasi saya selalu mencengangkan dan selalu menjadi idola semua guru. Pelajaran SD itu enteng banget untuk saya, kedip-kedip mata saya udah bertengger di nomor satu atau dua, hal itu membuat saya tanpa susah memiliki banyak teman, ya iyalah tiap penerimaan raport seyayasan nama saya selalu dipanggil karena dapet juara umum melulu sampai-sampai Kepala Sekolah saya bosen dan nahan piagam saya, katanya namanya aja dibacain, piagamnya entar-entar ajah. Menganak-emaskan saya membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang egois karena tahu semua orang bisa mengikuti mau saya, kalo enggak ya gak saya kasih contekan PR, hehehehe.... Hal itu juga yang membuat terkadang saya sering salah paham dengan Yanti dan selalu diakhiri dengan didamaikan entah oleh siapa karena saya terlalu sok-sokan untuk meminta maaf (sok merasa benar, ampun deh...) dan dia selalu mau menerima saya sebagai sahabatnya lagi, oh girl you have such a beautifull heart and i am so lucky to have you as my best friend.

Sampai menamatkan SD dengan nilai gemilang saya tetap bersahabat dengannya, lalu karena pilihan lanjutan sekolah kami yang berbeda, orangtua saya memutuskan saya untuk masuk sekolah negeri dan kabar terakhir yang terdengar oleh saya tentangnya adalah dia ingin melanjutkan sekolah di Bali. Yes End There, komunikasi kami putus sama sekali, jangankan surat, kabar terakhir tentangnya tidak pernah saya tahu. Diawal-awal masa orientasi saya sempat menelepon rumahnya yang dijawab oleh papanya tentang Yanti yang telah ke Bali untuk bersekolah dan belum ada kejelasan pasti. Dan saya merelakan dia saat itu sebagai seseorang yang pergi dari hidup saya, gimana lagi...akses informasi saya terbatas bahkan menanyakan alamat saat itu enggak kepikiran -______-

Tahun berlalu hingga masa friendster muncul, penasaran saya akan dia tidak pernah hilang, mencari dia kemanapun tidak pernah ketemu, dengan keyword apapun tidak ditemukan. Kamu seperti hantu neng, menghilang gitu ajah, bahkan sedikitpun tentangmu aku gak tahu, padahal dulu kita begitu dekat. Friendster berganti dengan facebook pun hasilnya tetap nihil, saya sampai pernah ditahap, ya sudahlah mungkin memang kami ditakdirkan untuk bersama ketika SD, mungkin karena kelakuan saya dulu membuat dia menghindar, hiks..hiks...Sampai tibalah jaman twitter udah mau basi, saya udah menikah punya anak, kerja dan tinggal di medan dan saya tergelitik lagi untuk mencarinya. Okey keyword yang sama dan nihil...

Suatu saat saya tersentak, selama ini selalu dia, dia, dan dia...gimana kalo kita cari lewat adiknya, and guess what, say ketemu akun twitter adiknya dan langsung ngirim twit dan dibalasnya kalau dia inget saya,oh....you know what, kebahagiaannya itu mengalahkan apapun. I've found you girl....dan dia langsung menghubungi saya, kami bercerita tentang apapun dan bagaimana dia juga ternyata mencari saya sekian lama dan juga tidak menemukan... :) Dia sudah menikah, bekerja sebagai PNS di Bali memiliki satu anak perempuan usia hampir 2 tahunan, mereka sekeluarga sehat dan berada di Bali, dia sengaja mengunci account FB dan mengganti nama karena beberapa alasan :) Percakapan kami ditutup dengan janji kalau suatu saat Tuhan mengijinkan kami akan bertemu, entah saya yang ke Bali atau dia yang ke Medan.

Lalu datanglah berita di bulan agustus 2013, dia akan ke Medan untuk dinas di bulan November dan ingin sekali bertemu dengan saya yang langsung disambut gembira oleh saya. Waktu berlalu dan tidak ada berita lanjutan, saya sampai mengonfirmasi ulang, jadi kan datang neng? Jadi katanya, tanggal 26-28 ya, aku nginap di Aston. Kujawab "Sip, nanti informasikan ya..."

Dia tiba di Medan dan kami langsung menjadwalkan pertemuan, dan kemarin langit jadi saksi pertemuan dua sahabat yang kehilangan kabar selama 15 tahun dan dia mengaku tiba-tiba bingung akan bicara apa ke saya, sementara saya gak punya pikiran apa-apa, menemukanmu seperti menemukan kehangatan seorang teman lama yang akan selalu memiliki kesan menyenangkan dan membuat rindu. Tidak ada gugup/kehilangan topik, malah kami berbicara tidak ada habis-habisnya seakan-akan kami perlu menceritakan semua tahun-tahun yang hilang ketika kami berpisah. Saya membawanya ke tempat sum-sum langsa di samping titi bobrok kemudian kami makan durian di ucok durian :) (tempat favorit kami menjamu teman-teman kami dari luar kota). Dan akhirnya saya mengetahui ternyata Yanti pergi dengan tiba-tiba ke Bali karena kerusuhan tahun 1998, dia sebagai pendatang dibenci oleh warga dan rumahnya dikepung dengan orang-orang memegang parang, oh Tuhan betapa mencekamnya kondisi saat itu. Pikiran papanya hanya untuk menyelamatkan mereka sehingga mereka langsung dilarikan ke Bali sambil papanya menunggu permohonan mutasi, papanya setiap malam sampai tidur di bawah kolong karena mencekamnya situasi saat itu, warga bisa murka kapan saja dan menyerang pendatang, syukurlah papanya bisa pindah dan mengikuti Yanti dan keluarga di Bali. Kejadian yang sangat ingin dilupakan semua orang dan oleh saya sampai kemarin tidak merasakan ada kaitannya kejadian itu dengan saya hanya karena saya tidak tahu, ternyata persahabatan saya juga direnggut oleh kejadian itu dan akhirnya membuat saya bertanya-tanya sekian lama tentangnya.

Kami bertemu sekitar 2,5 jam dan rasanya seperti sedetik untuk menggantikan masa-masa yang hilang itu, ketika akan berpisah saya memeluknya dua kali, merasakan kehilangan lagi, merasakan waktu yang ada begitu kurang dan betapa tidak adilnya kejadian yang memisahkan kami itu, kalau saja..kalau saja...dan kalau saja...Namun waktu tidak bisa diputar lagi dan kita hadir dengan kondisi kita dihari ini, seperti ini. Semoga suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kita kembali ya neng, entah kamu yang kesini atau aku dan keluarga yang ke Bali, kita harus menyempatkan waktu yang banyak, karena bertemu denganmu sehari tidak akan pernah cukup untuk membuatku merasa puas dengan waktu-waktu kita yang telah hilang...

Amigos Para Siempre, You'll always in my Heart


2 comments:

  1. wow,,, nice story, gak nyangka kakak preman juga waktu sd hehehhe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi makasih dek....memalukan tapi harus ditulis biar ingat kelakuan anak SD labil dulu...hahaha

      Delete