Wednesday, December 11, 2013

Di ujung rotan "TIDAK" ada emas

Untuk kita anak-anak sekolahan lebih tepatnya sekolah dasar tahun 90-an pasti familiar sekali dengan peribahasa yang menjadi judul postingan ini namun minus kata TIDAK. Siapa yang tidak mengenal peribahasa ini, jaman kelas tiga SD waktu pertama kali belajar peribahasa, kalimat ini sering sekali dicontohkan beserta dengan artinya dan menjadi populer. Ya "diujung rotan ada emas" artinya kurang lebih diujung didikan atau lebih nyatanya diujung pukulan/hajaran yang diberikan kepada anak sebenarnya pendidik/orangtua bertujuan untuk kebaikan anak. Lalu relevankah itu? Benarkah itu? Berarti dengan memukul kita mendidik seseorang untuk menjadi lebih baik? Saya bukan seorang psikolog ataupun seorang pakar yang memperhatikan perlindungan anak, saya hanya seseorang yang pernah menjadi anak-anak di tahun 90-an dan sering sekali didoktrin dengan peribahasa itu, dihari ini tergelitik untuk menuliskan pemikiran saya tentang hal ini.

Mungkin pola didikan orangtua jaman dahulu sarat dengan punishment saat kita melakukan kesalahan dan biasanya melalui siksaan fisik seperti cubitan, jeweran, pukulan ringan di kaki, ataupun badan. Saya teringat dulu kami tinggal bertetangga dengan teman main kami, orang sumba anaknya tiga laki-laki dan dekat kami ada lagi orang Ende anaknya 2 perempuan dan 2 laki-laki. Ada juga orang kefa anaknya 2 perempuan dan 1 laki-laki, karena umur kami yang berdekatan akhirnya kami menjadi teman main yang kompak, kompak dengan segala model keaktifan anak-anak jaman dahulu, apalagi kalo bukan - enggak tidur siang, males pulang mandi sore, pergi mencari buah cherry, main masak-masakan, main rumah anak, dan main gala asin - segala aktivitas tersebut  jelas membutuhkan kawan bermain karena tidak bisa dilakukan sendiri, hasilnya orangtua sering menyebutnya kenakalan massa. Setiap habis melakukan sesuatu yang menurut kami sebagai anak-anak sebaiknya jangan habis dulu siang, jangan sore dulu, jangan malam dulu, kami masih mau bermain, maka yang terdengar adalah tangisan koor dari rumah ke rumah dan tentunya sumber suara itu adalah dari kami sendiri akibat dilibas karena dianggap tidak melakukan hal yang diperintahkan.

Memukul juga menjadi hal yang biasa ketika kami dianggap melakukan kesalahan, apapun, jangan tanya kalau untuk saya mulai dari tangan sampai tali pinggang semua sudah bosan dikecap, pulang-pulang orangtua bekerja dan mendapat sedikit saja laporan yang tidak baik, siap-siaplah dipukul, siap-siaplah memasang badan dan siap-siaplah biru lebam, hehehhe....Hal itu terus terjadi sampai saya masuk SMP cuman frekuensinya berkurang, namun kalau sedang kalap ya siap-siaplah menerima libasan tiada hentinya dan hal itu juga terjadi dengan teman-teman saya yang lain, dibentak didepan umum itu biasa, disandingkan ini inu enu itu sampai merah telinga mendengar itu wajib hukumnya.

Lalu datanglah masa 2000-an, masa dimana si anak-anak menjadi orang dewasa, menikah dan memiliki anak. Melihat masa lalu, saya menyadari bahwa orangtua sering sekali menganggap memberi didikan seperti itu dengan harapan anak tobat, kapok, dan menuruti maunya orangtua. Didikan tersebut membuat anak cenderung takut mengambil keputusan karena takut apa yang dilakukan salah dan akhirnya mengecewakan, karena sudah terbiasa dengan mengecewakan akan mendapat didikan, akhirnya anak takut untuk mengambil segala keputusan sekalipun hal tersebut menyangkut dirinya sendiri. Dilain cerita anak merasa bgitu terkekang dengan segala pilihan orangtua, syukur-syukur kalau pilihannya sesuai dengan maunya orangtua, kalau enggak sesuai dan anak berkompromi untuk pilihannya malah akan dicap macam-macam yang akibatnya membuat tembok pembatas antara hubungan orangtua dan anak, hubungan orangtua dan anak menjadi rusak. Terkadang didikan yang diberikan juga hanya untuk memuaskan perasaan orangtua saking gemesnya atau kesalnya melihat kelakuan anaknya, akhirnya didikan yang diberikan lebih kepada penyaluran emosi sampai habis dan hasilnya adalah jiwa anak yang terluka diperlakukan seperti itu.

Benarkah hal tersebut berdampak pada anak ketika dewasa? Saya melihat kasus-kasus penyiksaan anak yang begitu mengerikan kita dengar bermula dari hal ini, seorang anak yang telah menjadi dewasa meniru persis apa yang orangtuanya lakukan, karena menurut dia tangisan, rengekan, ataupun kelakuan anak yang lain yang mungkin tidak baik dalam pandangannya harus diresponi dengan didikan seperti itu, sayangnya dalam melakukan didikan itu orangtuanya lebih memilih menyalurkan emosi sehingga tidak melihat akibat ke anak tapi melihat ke kepuasan emosinya yang tersalurkan.

Jadi apa kira-kira solusi yang bisa ditawarkan dalam kejadian seperti ini? Begini, dulu saya memiliki pembimbing yang sering sekali bertukar pendapat alias konseling secara pribadi kepada setiap anak-anak binaannya, rata-rata kami adalah orang-orang yang kehilangan figur ayah karena ayah penyayang yang rata-rata didambakan setiap anak perempuan hilang dengan figur kerasnya ayah-ayah kami. Dia memberi nasihat seperti ini dan terus teringat oleh saya sampai hari ini yang saya janjikan akan saya lakukan untuk Leon anak saya, "Orangtuamu adalah orangtuamu, mereka adalah orang yang Tuhan pilih untukmu di dunia ini. Mereka hadir dengan segala keterbatasan mereka dan belajar dari didikan orangtua diatas mereka. Hal itu mereka pantulkan dalam mendidik engkau. Engkau sudah merasakan hal-hal yang menurutmu ketika engkau diperlakukan sebagai anak, engkau tidak menyukainya. Tugas kita adalah, ingatlah semua yang kita tidak sukai/setujui dari ajarannya, berjanjilah dalam hati kita bahwa hanya sampai kita saja hal seperti ini terjadi, dan jangan pernah kita lakukan hal seperti itu pada anak kita." Dengan demikian kita memastikan hal yang sama tidak dirasakan oleh anak-anak kita dan kita belajar untuk menjadi orang yang lebih baik. Untuk saya secara pribadi adalah saya tidak akan memakai prinsip diujung rotan ada emas, saya ingin segala masalah bisa kami bicarakan dengan kepala dingin sehingga tidak ada sakit hati yang tersimpan baik untuk saya maupun untuk anak saya.

Pada akhirnya, saya tidak menuliskan ini untuk menjelekkan ataupun menyalahkan didikan orangtua saya zaman dahulu, saya menuliskan ini sebagai pengingat agar suatu saat, ketika Leon dan adik-adiknya membaca ini, saya berharap mereka akan memikirkan apa yang kurang mereka setujui dari pola didikan saya dan papanya dan mau untuk memaklumi segala keterbatasan kami sebagai orangtuanya dan berjanji untuk tidak melakukan hal yang kurang mereka setujui itu pada anak-anak mereka nantinya.

No comments:

Post a Comment