Thursday, December 5, 2013

Induksi Laktasi dan Tongue Tie Safira

Sebenarnya sudah sangat lama ingin menceritakan tentang ini namun karena terus-terusan terbentur kesibukan jadinya ya terlupakan. Lalu datanglah momen siang tadi tetiba ybs meng-SMS saya untuk menanyakan sesuatu, gayung bersambut karena sayapun sedang kepikiran tentangnya :)

Mba Mayang ini baru saya kenal sekitar sebulan yang lalu, ceritanya saya dikenalkan oleh kak Riri yang adalah konselor di AIMI Sumut karena keinginan mba Mayang untuk menyusui anaknya secara full dan sekarang sedang mencoba untuk menjalani suplementasi kembali ke ASI, karena saya adalah seorang ibu yang sudah pernah menjalani suplementasi maka saya diminta sharing oleh kak Riri. Perbincangan kami menggunakan SMS dan karena saya kurang puas, saya pengen melihat kondisi Safira langsung, jadinya kami memutuskan untuk bertemu, kesibukan di kantor yang membuat waktu saya terbatas menjadi kendala sehingga akhirnya diputuskan Mba Mayang yang datang ke rumah saya sepulang saya ngantor.

Saya sudah lupa hari apa itu namun saya masih ingat sekali mba Mayang datang ke rumah sekitar jam delapan malam bersama safira dan suaminya dan saat itu kondisi mati lampu yah (Medan kalo gak mati lampu gak seru yah -____-) sehingga kami berbincang dengan menggunakan lampu emergency yang cahayanya minim. Dan dimulailah cerita itu, Safira lahir tanggal 3 agustus 2013 dan mendapatkan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), saat IMD itu ASI belum keluar dan tidak ada bantuan dari keluarga karena kondisi mereka yang hanya bertiga (Mayang, Suami, dan Safira). Bantuan juga tidak datang dari pihak tenaga kesehatan sehingga Mayang berpikir ASI tidak keluar dan tanda-tanda fisik seperti PD penuh juga tidak terasa yang makin memperkuat pendapatnya. Saat itu Mayang juga meminta untuk rooming in dengan bayi karena keinginannya untuk memberi ASI kepada bayinya, sayangnya karena merasa ASI belum keluar, dia tidak menyusui bayinya, dia berpikir ketika ASI keluar baru bayi akan disusui. Setelah sehari, Safira menangis malamnya sehingga mereka memutuskan agar Safira dipindahkan ke kamar bayi, di kamar bayi Safira sempat diberikan sufor, hal ini diketahui karena tenaga kesehatan meminta konfirmasi ke Mayang dan dijawab akan diberi ASI, tenaga kesehatan menjelaskan bahwa jika hanya diberi ASI bayi harus bersama ibunya maka Mayang meminta Safira dikembalikan. Saat dikembalikan Safira sempat muntah dan muntahannya susu, berarti Safira sempat diberikan formula tanpa persetujuan. Berawal dari kejadian itulah Safira akhirnya mulai mengonsumsi sufor secara penuh sampai usia 5 hari.

Hari kelima Mayang merasakan PD bengkak namun ASI tidak keluar, Safira jelas-jelas menolak menyusu karena terbiasa dengan dot dan Mayang ternyata flat nipple (Puting Datar). Dengan bantuan saudara memakai pijatan yang menurut pengakuannya sakit, akhirnya ASI keluar namun Safira tetap tidak mau menyusu. Mayang mencoba memompa/memerah ASI dan dia mendapatkan sekitar 10-20 cc bahkan sempat 60 cc namun jumlah tersebut dianggapnya sedikit karena membandingkan dengan perahan orang lain yang banyak, padahal untuk kondisi hari-hari awal melahirkan jumlah tersebut sudah termasuk ukuran banyak. Sampai usia bayi satu bulan Mayang terus mencari informasi dan konsultasi ke dokter anak karena Safira minum sufor banyak namun berat badan bayi tidak mengalami peningkatan, hasil konsultasi dokter malah lebih menyarankan mengganti sufor dengan alasan mungkin sufor yang dipakai sekarang kurang cocok.

Mayang merasa hal tersebut bukanlah sebuah solusi sehingga dia mencari-cari di internet dan bertemulah dengan AIMI Sumut. Dia menghubungi AIMI Sumut dan meminta untuk home visit/konseling ke rumah, dan saat itu karena jadwal yang begitu padat akhirnya sempat tertunda sampai hampir sebulan dan pertemuan terjadi dengan Mayang datang ke Kelas Edukasi AIMI. Saat itu sebenarnya kami sempat bertemu namun karena saya terburu-buru akhirnya kami tidak sempat sharing dan kenalan, Mayang dan Safira diperiksa kondisinya oleh Kak Riri dan ternyata Safira memiliki TT alias Tongue Tie namun tipenya tipe tiga dan menurut Kak Riri belum tentu mengganggu masalah menyusui. Prioritas utama saat itu adalah menghentikan penggunaan dot pada Safira.

Perjuangan melepaskan dot berlangsung kurang lebih seminggu, hari-hari awal begitu sulit karena Safira histeris tidak diberikan dot, sufor diberikan memakai cup feeder oleh papanya namun karena papanya merasa kesulitan akhirnya diganti dengan menggunakan botol sendok. Lepas dari dot, mencoba suplementasi, Safira benar-benar menolak, jangankan mencoba membuka mulut begitu dihadapkan ke PD Safira langsung buang muka. Kak Riri akhirnya menawarkan padanya untuk menghubungi saya dan belajar tentang suplementasi, dan malam itulah pertemuan kami terjadi.

Saya akhirnya bisa melihat semua kondisi Safira secara langsung dan membantu suplementasi, hasilnya nihil juga, bayi sama sekali tidak peduli ketika dihadapkan ke PD. Kami bercerita panjang lebar dan saya menceritakan pengalaman saya, sebelumnya Mama Safira sudah saya berikan link blog ini agar tetap memiliki harapan bahwa diapun bisa berhasil, dan saran saya kalau memang ingin benar-benar berjuang sebaiknya mereka ke Jakarta dan bertemu langsung dengan dr.Asti Praborini, saya percaya dia bisa menangani hal ini. Perlu waktu beberapa hari sebelum Mayang meng SMS saya dan memberitahukan keputusannya bersama suami untuk mencoba ke Jakarta, setelah melalui pertimbangan panjang dan diskusi dari sana sini akhirnya keputusan bulat untuk berangkat. Mayang menyiapkan semua dan saya juga memberikan nomor kontak Yeni-Ravyn agar bisa lebih jelas lagi karena sepertinya Safira-Mayang harus rawap inap. Seminggu sejak pertemuan kami berangkatlah mereka berempat ditambah Mama Mayang ke Jakarta, seperti biasa pertentangan terjadi, kebingungan, keresahan, pendapat dari sana-sini, namun begitu bulatnya tekad Mayang, dia memutuskan pergi untuk berjuang (so proud of you mba....)

Hari rabu siang Mayang bertemu dr Asti dan langsung dirawat inap, setelah sebelumnya Safira di excisi karena ternyata selain memiliki Tongue Tie dia juga memiliki Lip Tie. Saat rawat inap Safira skin to skin dengan mamanya untuk membangun bonding kembali, kasus Safira ini disamakan dengan kasus anak adopsi karena Safira sama sekali tidak memiliki pengalaman menyusu sejak lahir sehingga dokter Asti menyebutnya dengan Induksi Laktasi. Di hari ketiga tepatnya Jumat siang Safira mau menyusu pada Mayang, jangan tanya bagaimana perasaannya, senang-bahagia-terharu-tidak percaya semua bercampur-aduk jadi satu. Hal yang dulu menurut Mayang mungkin tidak bisa terjadi, hanya dalam angan-angannya ternyata terwujudnyatakan di hari itu, Mayang mengikuti nalurinya untuk memperjuangkan hak dia dan Safira serta memastikan Safira mendapatkan yang terbaik yang bisa mereka berikan sebagai orang tua. Mayang masih harus tinggal di KMC selama seminggu untuk membiasakan suplementasinya, Safira cenderung marah jika suplementasi habis menggunakan spuit oleh karena itu diputuskan untuk menggantinya menggunakan medela suplementer.
 Ki-Ka :  dr.Asti, Mayang - Safira, Papa Safira Saat Safira pertama kali mau menyusu
Safira mulai merasa nyaman menggunakan Medela Suplementer sehingga setelah seminggu mereka diperboehkan pulang. Safira terus menjalani suplementasi dan seminggu kemudian kontrol lagi, saat kontrol itu Safira sudah mau pelekatan tanpa suplementer dan malam sebelumnya saat dia tidur dia sudah mau minum langsung dari mamanya tanpa supementer :). Saya dikirimi foto dari dr.Asti loh mengenai keberhasilan ini dan saya sangat bahagia sekali, bahagia karena melihat usaha keras Mayang dan Suami terbayar lunas dengan kondisi Safira saat itu. Mayang pasti dinilai macam-macam dan dia tetap berkeras pada pendiriannya karena dia tahu sedang melakukan hal yang benar dan dia yakin akan memetik buah yang manis dari perjuangannya. Lingkungan KMC juga yang selalu memberi dukungan membuat dirinya merasa nyaman dan semakin menambah rasa percaya dirinya bahwa hal ini akan berhasil. Satu lagi, dukungan dari ibu-ibu senasib dan organisasi pendukung seperti AIMI Sumut sangat membantunya melalui hal ini.
Ki-Ka : dr.Asti, Mayang - Safira menyusu langsung tanpa suplementasi, Mama Mayang, Papa Safira ketika pemeriksaan terakhir sebelum menjalani rawat jalan di Medan
Lalu bagaimana kondisi Safira hari ini? Suplementasi Safira sudah diturunkan perlahan, perkembangan BB bagus, dan Safira sekarang sangat suka nempel sama Mamanya, hal yang dulu dirasa mustahil bagi Mayang. Mayang masih tetap rawat jalan di Medan dikontrol oleh Kak Riri untuk perkembangan suplementasi, dr. King Chandra untuk vaksinasi Safira, dr. Intan untuk terapi akupunturnya. Mayang begitu menikmati menjalani semua ini, karena dia tahu sedang berjuang menuju keberhasilan dan akan mendapatkan hasil yang manis dari semua usahanya ini. Saya juga sangat salut dengan Papa Safira yang begitu mendukung istrinya melalui ini, semoga kerjasama yang kompak dari kalian berdua sebagai tim yang tidak terpisahkan akan menjadi contoh bagi lingkungan dan menyadarkan banyak pihak yang melihat perjalanan menyusui Mayang.

Akhirnya terimakasih untuk Mba Mayang yang sudah mengijinkan kisahnya saya tulis di blog ini dan harapannya tidak lain agar para ibu diluar sana, siapapun kita yang mungkin merasakan atau mengalami hal seperti ini, jangan bersedih, selalu ada jalan ketika kita mau berusaha dan tidak menyerah dengan kondisi. Sekali lagi, kesempatan pemberian ASI hanya terjadi SEKALI seumur hidup kepada setiap anak kita, maukah kita memperjuangkan itu?

Salam ASI

Catatan :
Penjelasan singkat tentang istilah-istilah yang mungkin masih agak asing didengar (di blog ini juga ada kisah-kisah perjuangan menyusui ibu-ibu lain)
  • Suplementasi / Relaktasi = menyusui kembali, suatu keadaan dimana ibu sudah pernah menyusui bayi, kemudian karena satu dan lain hal berhenti menyusui dan memutuskan untuk kembali menyusui lagi. Untuk menolong ibu ini digunakan teknik suplementasi dengan mengunakan alat sederhana seperti selang NGT, spuit, dan selotip atau bisa juga menggunakan alat khusus yang biasanya disebut medela suplementer.
  • Induksi Laktasi = Membuat kondisi ibu bisa menyusui bayinya dimana awalnya ibu tidak pernah menyusui sejak kemudian berhasrat ingin menyusui ataupun pada kondisi ibu adopsi yang ingin mengangkat anak dan berkeinginan untuk menyusui.
  • Flat Niple = kondisi morfologis ibu dimana bentuk putingnya yang agak rata/datar menyusahkan bayi dalam melakukan latch on/pelekatan/melakukan posisi menangkap payudara dengan benar. Dibutuhkan kesabaran dan dukungan bagi ibu-ibu dengan kondisi ini namun tidak membuat ibu menjadi divonis untuk tidak bisa menyusui karena prinsip dasar menyusui dimana bayi menyusu pada payudara, bukan pada puting sehingga kondisi puting seperti apapun tidak berpengaruh kepada kemampuan untuk menyusui bayi.
  • Tongue tie dan Lip tie = kondisi pada bayi dimana Tongue tie merupakan kelainan congenital yang disebabkan oleh frenulum (pengikat lidah) pendek. Hal ini menyebabkan mobilitas lidah terbatas sehingga ketika menyusu bayi yang seharusnya memerah ASI dengan menggunakan pergerakan lidah menjadi kesulitan karena pergerakan lidahnya yang terbatas akibatnya bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup untuk diambilnya dari payudara ibu. Lip tie sering juga disebut tali bibir, biasanya berada di bibir bagian atas seperti tali lidah. Bayi-bayi dengan lip tie membuat mereka tidak bisa memuntirkan bibirnya keluar untuk menangkap payudara dan melakukan pelekatan yang baik. Lebih lanjut tentang TT bisa dibaca di link ini.
  • Insisi atau Frenotomi : Pengirisan frenulum. Tindakan ini lebih ringan dari tindakan menindik telinga, memakan waktu kira-kira 1 detik. Pada bayi dibawah 1 bulan kadang tidak diperlukan anastesi lokal. Tujuan menginsisi adalah membebaskan lidahnya sehingga geraknya tidak terbatas lagi dan bisa melakukan latch on/pelekatan dengan benar.
  • Akupuntur ASI : Akupuntur khusus dengan titik-titik tertentu yang ditindik untuk merangsang produksi ASI, biasanya akupuntur dijalani sekaligus dengan meminum obat domperidone yang pemberiannya diawasi oleh dokter konselor laktasi.

19 comments:

  1. Salut, perjuangan yang hebat, sementara ibu2 lain memilih menyerah dan memilih sufor utk anakknya. Sayang bagi saya orang awam, banyak istilah yang saya tidak mengerti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mba donna Imelda :) terimakasih telah berkunjung :) dan terimakasih atas sarannya ya...sebenarnya di sepanjang blog ini banyak menjelaskan tentang kondisi-kondisi yang disebutkan diatas, mungkin nanti akan saya berikan catatan dibawah untuk lebih menjelaskan pembaca ya...anyway, thank you so much ya :)

      Delete
  2. siiippp...keep sharing, keep inspiring...

    ReplyDelete
  3. TFS, mantap sekali tulisannya. sangat bermanfaat.
    Salam kenal ya mbak ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba, terimakasih :)
      Senang sekali jika bisa membawa manfaat.

      tadi saya berkunjung dan ninggalin komen ya mba.... :)

      Delete
  4. baru tahu kak, ada suplementasi seperti yg pakai medela suplementer itu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo erika, yang kujalani juga seperti mama safira namun aku karena tetap menyusui namanya suplementasi :)
      Medela suplementer harganya cukup mahal sehingga dibuatlah alat suplementasi sederhana seperti yang biasa dipakai :)

      Semoga membawa manfaat ya... Salam ASI

      Delete
  5. sangat inspirasi mama, o iya kalau ada yang butuh suplementary nursing system medela saya jual punya saya, belum pernah terpakai karena sekali ke klinik laktasi Audrey sudah mau menyusu langsung dari PD. kalau mau hub saya via email ya di igamdamayanti@yahoo.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih :)

      Mungkin kalau ada yang berkenan setelah membaca tulisan ini bisa menghubungi langsung emba ya :)

      Delete
  6. Wah...Bunda saya jadi Iri...saya belum bisa kasih ASI keputra adopsi saya (1 thn), saya bener2 pingin kasih ASI. walaupun se isap atau dua isap...walaupun umurnya sudah 1 thn sya tetep pingin..saya bener2 awam tentang Induksi Laktasi. dikota saya tidak ada klinik tersebut. maaf bunda-bunda barangkali ada yang bisa bantu kasih info tentang klinik induksi laktasi diPalembang (saya tinggal di Lubuklinggau SUMSEL)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai bunda...terimakasih sudah berkunjung ke blog ini...

      maafkan saya, saya tidak memiliki informasi mengenai klinik laktasi di Palembang...

      dan dengan usia adek, mengerjakan induksi laktasi menjadi hal yang cukup menantang...semoga membantu ya bunda

      Salam...

      Delete
  7. Salam kenal mama leon... saya mama zahid dari medan juga... kisah2 di blog ini sangat ,enginspirasi.. anak saya sdh lls s1, menuju s2...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mama Zahid salam kenal... terimakasih karena sudah membaca blog saya :)

      Wah kerennya sudah lulus S1 ASI, semangat ke S2 ASI ya :)

      Salam sayang untuk Zahid

      Delete
  8. Halo,kak mama Leon. Baru baca blog ini. Saya mau tanya, klinik laktasi di medan dimana ya? saya tinggal di daerah martubung, berdekatan dengan belawan. Saya sekarang risau, anak saya dah jalan 3 bulan, tapi tetep tiap pumping di 2 PD, selalu saja mayoritas 80-90ml dapatnya.Saya juga sedang mempertimbangkan ikut akupuntur, kira2 biayanya berapa ya? Terimakasih infonya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai ibu...mengenai biaya saya tidak terlalu mengerti, namun jika ibu ingin akupuntur ada di Klinik La Rose di Jalan Murai daerah Ring Road tepatnya di belakang BPKP Sumatera Utara

      Salam

      Delete
  9. Trmksh utk info yg sgt brharga ini kak.. Saya jg mau tanya biaya yg diperlukan untuk induksi laktasi sprti kisah d atas kak? Kalau misal kita mau menyusui anak adopsi. Apa saya baiknya lgsg k KMC? & brp kira2 biaya yg d perlukan mulai dr awal induksi? Trmksh sblmnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ibu, sebaiknya langsung menghubungi KMC ya bu, karena saya tidak paham mengenai biayanya...

      Salam

      Delete
  10. salam. terharu baca tulisan mama.. sy sndiri baru kali ini tau bhw ada yg namanya induksi laktasi.di tasikmalaya sy blm mnemukan dr laktasi.apakah ada cara tanpa memakai obat domperidone atau jika mama berkeñan mmberikan informasi trdekat dmn ya?sy adalah ibu adopsi dr bayi usia dua bln.dulu bayi sy prnh diberikn asi ibunya.hny krn flat niple dan asi kering sampai bayi sempat turun BB krn trs diberi PD yg kosong.maka dilanjutkn dg dot.sampai saat sy adopsi,msh pakai dot.sy sgt ingin mmberikan asi agar mndapatkn makanan trbaiknya wlwpun dg kondisi sy yg tdk brlebih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ibu...jiwa ibu mulia sekali :)

      Jika ingin memberi ASI coba konsultasikan ke Klinik Laktasi yang memiliki dokter laktasi yang mampu mengerjakan induksi laktasi ya...

      Saya sendiri kurang paham jika di tasikmalaya harus menghubungi siapa...Namun coba berkonsultasi dengan AIMI sekitar untuk dibantu jika ada tenaga medis yang bisa membantu...

      Salam

      Delete