Monday, December 30, 2013

Sampai Ketemu Lagi di Surga, Opung

Halo nak, apa kabarmu saat membaca postingan ini? Mommi berharap engkau sedang dalam keadaan bahagia dan sehat. Mommi akan menceritakan padamu sebuah kisah yang sangat penting dalam perjalanan hidupmu dan mommi berharap engkau bisa memetik banyak hal dari kisah ini. Kisah ini tentang seseorang yang sangat berarti dalam hidup mommi dan papa, dia adalah seorang malaikat yang Tuhan kirimkan untuk kami ditengah-tengah badai hidup kami.

Ibu Zuhelmi adalah rekan kerja mommi dulu di Kisaran, saat mommi mulai bekerja disana sebenarnya mommi tidak terlalu dekat dengannya karena mommi pendatang dan sepertinya ibu-ibu disana memiliki kesibukannya sendiri. Cukup lama kami hanya sekedar berbicara sepintas lalu sampai hari outbond kantor diadakan, sejak itulah ternyata mereka yang diam-diam mencap mommi agak sombong langsung berubah ramah karena mereka tahu sebenarnya mommi tidak seperti itu. Kami berdua menjadi semakin dekat saat mommi dipindahkan ke seksi pelayanan dan terkena musibah yang mengharuskan mommi menghadapi kenyataan pahit dalam karir mommi sekalipun dalam hal ini mommi hanyalah korban. Mommi menikah dengan papa dan mereka sekeluarga datang ke acara pesta, selesai pesta begitu banyak selentingan tentang pesta yang intinya bermacam-macam komentar orang tentang kekurangan pesta namun ibu hanya berkata seperti ini "Lusi, semua pesta selalu ada kurang lebihnya. Yang terpenting semua telah selesai dengan baik."

Mommi semakin dekat dengannya bahkan tak terpisahkan, dia sering menasehati mommi banyak hal untuk memperbaiki diri mommi dan berulangkali selalu berkata betapa kerasnya hati mommi. Ibu setiap sabtu selalu mengajak mommi berbelanja dan mengajarkan mommi memasak bermacam-macam makanan yang dulunya mommi taunya sekedar makan saja :)

Sampai akhirnya datanglah SK Perpindahan mommi ke Medan, nasihat yang diberikannya adalah ketika sampai ke kantor baru mommi harus langsung menyalami ibu-ibu dan memperkenalkan diri agar tidak terjadi lagi seperti di Kisaran, dan hal itu mommi lakukan. Saat mengantar kepergian kami, ibu memasakkan berbagai macam makanan sebagai bekal kami dijalan dan pelukannya untuk melepaskan mommi diiringi tangisan darinya. Ternyata nasib berbicara lain, hanya selang tiga bulan dari perpisahan kami, ibu juga ikut dimutasikan/dipindahkan ke Medan mengikuti bapak dan kami berkumpul lagi.

Awal-awal perpindahan ibu itulah awal-awal engkau nak mulai ada di rahim mommi, kondisi hyperemesis yang membuat mommi tak berdaya membuat pertemuan kami tertunda dan ibu sempat kecewa karena ketika mommi masuk RS untuk opnam mommi tidak memberitahukannya. Sungguh saat itu dipikiran mommi hanyalah tidak ingin menyusahkan siapapun. Ibu sejak di Medan dan mengetahui mommi hamil mulai rajin mengunjungi mommi dan melihat keadaan mommi, saat itu juga mommi tertimpa permasalahan yang berat yang sering membuat mommi menangis setiap hari dan ibu selalu datang dan ada untuk menghibur dan menguatkan. Sampai tibalah saatnya engkau dilahirkan nak, ibu datang dengan adek Tara membawa mommi ke RS, menunggui mommi disitu, engkau tidak mau lahir nak, ibu sampai membujuk sambil memegang perut mommi "Leon, ayok lahir, kasian mama sudah menunggu lama nak." Empat hari beliau melakukan itu dan engkau tidak menunjukan tanda ingin keluar, akhirnya diputuskan mommi dibawa pulang lagi dan ibu tidak ingin mengambil resiko sehingga mommi dibawa pulang ke rumahnya. Ketika malam diperiksa ke dokter ternyata kondisi Leon sudah tidak bisa dipertahankan lagi, keputusan dokter besok Leon harus dioperasi, sungguh saat itu merupakan salah satu saat terberat dalam hidup mommi nak. Mommi menangis dan marah namun ibu terus menguatkan dan mendoakan mommi, besok paginya ketuban mengalir deras, mommi secepatnya dilarikan ke RS dan ibu langsung berangkat dari rumah. Pagi itu operasi dilaksanakan dan lahirlah engkau, keluar dari kamar operasi ibu menunggui mommi di kamar sementara, ibu menghadapi pandangan aneh semua orang tentang siapa dia dan untuk apa dia disitu, namun dia tetap disitu dan membela mommi dengan seluruh kekuatannya, kalau kau tahu nak, betapa saat itu dia menunjukan bahwa dirinya adalah seorang ibu yang sejati, yang menerima anaknya dalam segala kondisi. Betapa baiknya Tuhan mengirimkan ibu untuk mommi dan papa nak.

Saat Leon tiba-tiba sesak dan biru, ibu yang dipanggil sebagai nenek Leon untuk diceritakan mengenai kondisi Leon, bahkan saat Leon masuk NICU setiap hari mommi kesana dan menangis, ibu yang menunggu diluar dan memeluk mommi dan ikut menangis sambil terus berkata "sabar ya Lusi, yang sabar menghadapi cobaan ini." Saat mommi diperbolehkan pulang dari RS dibawa pulang kerumahnya untuk dirawatnya, ibu berkeras dengan kondisi mommi, ibu harus merawat mommi sampai benar-benar sehat. Leon pertama kali pulang ke rumah dari NICU ke rumah ibu dan langsung digendong ibu, sorenya Leon tiba-tiba kembung dan ibu panik luarbiasa, untunglah saat itu Leon hanya masuk angin.

Beberapa hari setelah dirumah ibu, Leon dibawa pulang ke rumah kita nak dan saat mommi berjuang memberikan ASI untuk Leon, ibu yang jadi saksi bagaimana jatuh bangunnya mommi sampai berhasil. Setiap tangisan mommi selalu disambutnya dengan lengan terbuka dan diapun terus memberikan dukungan untuk mommi. Sampai ketika mommi berhasil, dialah orang pertama yang tahu hal itu dan ikut bahagia. Dia tidak lupa selalu membelikan Leon baju, mainan, dan segalanya. Beliau selalu rindu jika abang tidak ke rumahnya sehingga dia sering ke rumah kita untuk melihat abang. Apapun untuk Leon beliau selalu lakukan dan beliau selalu menyebut dirinya Opung Leon, iya nak dia adalah opungmu yang sejati yang menerima dan mengasihimu apa adanya. Begitu manisnya kami mencicipi kehidupan ini bersamanya dan tiba-tiba datanglah duka itu.

September 2013 secara tiba-tiba opung merasakan ada benjolan di payudara kanannya, opung langsung memeriksakan ke dokter dan untuk memastikannya dilakukan tindakan pembedahan. Saat pembedahan dilakukan ternyata diketahui benjolan itu adalah kanker ganas di stadium 2A hanya dalam waktu seminggu dari hasil pembedahan, masektomi (pengangkatan payudara kanan) dilakukan dan kondisi opung sudah di stadium 3A. Opung sangat bersemangat menjalani setiap pengobatan dan Leon selalu menjadi sumber penghiburannya. Kehadiran abang selalu bisa membuatnya melupakan semua pengobatannya dan dia selalu mengenalkan Leon sebagai cucunya kepada semua keluarga dan kerabatnya. Dia begitu bangga saat menyebut Leon minum ASI saja dan dia juga sangat bangga ketika orang memuji kecerdasan dan kelincahanmu nak, betapa beliau sangat menyayangi engkau.

Selesai masektomi opung menjalani jadwal padat radiasi dan kemoterapi, kita selalu datang mengunjungi opung setiap minggu nak karena opung selalu rindu dengan Leon. Selesai menjalani radiasi pesan opung adalah dia tidak ingin abang melihatnya ketika kemoterapi karena dia tidak ingin abang takut melihatnya, dia mencium abang sambil berkata "Leon, nanti kalau opung botak Leon jangan takut ya." Sebelum kemoterapi pertama dan terakhirnya opung sempat mengajak kita makan bersama untuk merayakan ulangtahun pernikahan mereka, itu adalah makan malam terakhir kita nak, opung sepertinya sadar saatnya semakin dekat dan dia mempersiapkan semuanya. Kemoterapi pertamanya, pengobatan pertamanya untuk jalan kesembuhannya menjadi jalan kesembuhannya selamanya untuk lepas dari penyakit ini. Opung yang kita sayang nak menghembuskan napasnya yang terakhir di ruang ICU mungkin karena tidak tahan akan efek samping kemoterapi. Tiga hari setelah kemoterapi pertamanya opung mengeluh tidak bisa buang air kecil, ternyata ketika dibawa ke rumah sakit terjadi penumpukan cairan, opung diberikan obat namun kondisinya malah menurun, 27 desember opung sempat tak sadarkan diri dua kali dan saat mommi pergi melihatnya opung sudah gak sadarkan diri (opung melarang adek-adek memberitahu mommi karena tahu mommi sibuk mengurus natal dan dia berpikir hal ini hanya sementara), malam itu nak mommi, om Tara, tante Uli, dan Opung Doli menemani opung melewati saat-saat terakhir hidupnya, opung menang melawan penyakitnya, opung sudah sembuh dengan sempurna, opung sudah tidak merasakan sakit lagi.

Leon mungkin ketika besar lupa dengannya, karena ketika ini terjadi usia Leon masih 18 bulan. Mommi hanya ingin Leon tahu bahwa opung begitu mengasihi Leon jadi Leonpun harus bisa mengasihi orang lain dengan cinta yang tulus seperti yang dimiliki opung. Jadikanlah opung sebagai teladan hidup Leon, dia menerima siapapun dan menolong siapapun dengan tulus, dia juga selalu tenang menghadapi setiap permasalahan hidupnya dan selalu berpikiran positif. Leon sungguh beruntung memiliki opung sepertinya, dia adalah opung Leon yang sejati.

Selamat jalan ibu, semoga kami sekeluarga bisa meneruskan segala kebaikan yang telah ibu lakukan. Masih banyak hal yang kita janjikan dan belum kita lakukan ibu, hati ini sangat sakit ibu melihat kepergianmu, ciuman terakhir kaliku untukmu sudah dalam kondisimu terbujur kaku dan siap untuk diistirahatkan di peristirahatan abadi. Kami begitu mengasihimu namun Tuhan lebih sayang padamu ibu, semoga segala hal yang engkau ajarkan padaku bisa kuajarkan pada Leon agar menjadi cucu yang membanggakan dirimu. Sampai ketemu lagi di surga opung....

UlangTahun Terakhir Opung

Leon dan Opung

3 comments:

  1. Aahh adek Alind pasti iri sekali ama abang Leon kalo baca postingan ini ... :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adek Alind kan pengganti opung boru :)

      Delete