Wednesday, January 29, 2014

Yes we're not a perfect mom, so what??

Sebenarnya akibat koneksi internet yang sering sekali agak menjengkelkan membuat saya hampir dua bulanan pasif nulis dan berbuntut saya menjadi luarbiasa malas menulis. Ini otak udah ngasih sinyal berulangkali untuk tetap menulis, apapun itu, karena saya tipe orang yang sekali kebawa males then say goodbye....dan karena jauh didalam hati saya, kerinduan saya untuk menulis tetap ada makanya saya memaksa diri saya sedemikian rupa agar tetap terus berusaha menciptakan ide-ide menulis. Gosh, sering banget saya udah nulis dan ketika sampai di pertengahan saya nge-blank gak tau mau ngelanjutin apa lagi, akhirnya semua bibit tulisan itu terkumpul di draft saya tanpa tahu kapan mau dilanjutin.

Sampai hari ini gak sengaja main-main ke situs mama-mama terkenal di endonesah dan baca-baca artikel yang ada kemudian ketawa sendiri karena sang penulis dengan jujur menceritakan bagaimana dirinya yang selalu menganggap tidak pernah menjudge pola asuh orangtua lain namun sebenarnya secara gak sadar dia melakukannya. Artikelnya jujur sekali dan sangat menohok hati ini, akhirnya penasaran nyari-nyari lagi tentang tulisannya dan mendapatkan tulisan bahwa semenjak dia menjadi SAHM (Stay At Home Mom) banyak sekali gejolak yang dirasakannya bahkan sampai kelepasan melakukan tindakan yang agak kasar yaitu menampar anaknya karena emosi. Setelah itu ybs merasa sangat bersalah dan membawa perasaan bersalah itu mungkin sampai hari ini setiap kali dia mengingat kejadian tersebut. Ada lagi artikel dia yang menggelitik tentang bagaimana tingkah ibu jaman sekarang yang suka banget pamer-pamer foto anak, entah lagi menggambar atau sedang melakukan hal yang manis agar dipandang sebagai sosok ibu sempurna yang penuh kelembutan dan berhasil mendidik anaknya dengan baik padahal dibalik pintu rumahnya, belum tentu ya....hahahhahaha....

Sungguh membaca setiap tulisannya seperti diguyur air panas seember habis itu diguyur es seember terus disuruh ganti baju dan ngaku dosa, wkwkkwkwkwkkw.....Yes, saya tidak akan menceritakan orang lain namun saya akan menceritakan tentang diri saya sendiri, kalau dulu mungkin Leon tidak dihadapkan pada masalah ASI dan dengan lancarnya berhasil memberi ASI, mungkin saya akan menjadi orang yang berdiri paling depan dalam hal caci mencaci ibu-ibu yang enggak berhasil ASI, kenapa? Well, i'am a perfect woman, dan dalam segala hal di hidup saya, saya selalu menuntut setinggi mungkin keberhasilan tercapai tanpa ada alasan apapun. Nah loh, coba deh lihat dengan gabungan sifat seperti itu ditambah keberhasilan yang dicapai dengan mudah, apa gak bakal buat saya jadi mama paling nyinyir ngomentarin pola asuh orang lain tuh? hahahaha.....lucky me, Tuhan sayang banget sama saya jadi Dia mengijinkan saya berada dalam posisi seperti kemarin yang sungguh-sungguh menguras emosi saya untuk menunjukkan pada saya, jangan pernah menjudge ibu-ibu yang tidak bisa menyusui sebagai ibu-ibu yang tidak berhasil/malas melainkan cari tahu dulu semua latar belakangnya dan kalau bisa memberikan informasi yang bermanfaat untuk mereka. Pada akhirnya mereka sendiri yang memutuskan untuk melakukan apa terhadap anak mereka, benar kan? :)

Mengenai kelepasan melakukan sesuatu pada Leon, jujur sampai hari ini belum ada ya, oh iya ada pernah, saya pernah dua kali mengunci dia di kamar tidur selama satu menit karena saya kehabisan kesabaran dengan tingkahnya. Untungnya ibu (ibu emi = opung boru) menasihati saya "Lusi kau jangan sekali-sekali mengurung dia, jangan pernah memberi hukuman pukulan ataupun berkata aduh nakalnya kamu nak, karena ucapan kita adalah doa kita, kalau Leon udah melakukan sesuatu diluar batas kesabaranmu katakan ajah bertuah/diberkati engkau nak dan kalau orang menanyakan tentang anakmu jawablah bahwa anakmu itu diberkati/bertuah/bernasib baik." dan sejak saat itu saya tidak mau lagi menggunakan segala jenis didikan yang menjadi senjata terakhir saya ketika kesabaran ini sudah tidak bisa ditahan lagi dan semoga hal itu terus bertahan, Tuhan sanggupkan saya ya... :)

Menjadi ibu membuat kita masuk ke dunia baru tanpa buku pegangan dan berusaha untuk belajar hari demi hari. Kalau pelajaran matematika atau fisika yang dibilang susah minta ampun masih bisa dipelajari dengan banyaknya buku panduan dimana-mana dan diperbaiki kesalahannya sehingga menjadi mahir, namun menjadi ibu? dimana ada buku tutorial "100 langkah yang harus anda lakukan untuk menjadi ibu yang sempurna" atau buku "Panduan Praktis Menguasai Menjadi Ibu dalam 24 Jam" semisalnya ada (angkat tangan, saya pasti yang pertama membelinya) mungkin bakalan jadi buku best seller dunia ya, karena saya percaya semua ibu muda pasti bakalan membeli dan merasa itu adalah jalan keluarnya, hahahhahahhhaha.... Pada kenyataannya menjadi ibu adalah sebuah perjalanan yang tidak akan pernah berakhir sampai kita menghembuskan napas terakhir, menyandang gelar tersebut membuat kita harus rendah hati untuk terus belajar memperbaiki diri dan berguru pada sang maha guru yang melatih kita menambah sumbu kesabaran kita setiap hari, siapa dia? ya, anak-anak kita....

Yes we're not a perfect mom, ngapain capek-capek mengejar label kesempurnaan dari luar kalau ternyata kita toh tertekan saat menjalaninya, kita merasa kecapekan karena harus memenuhi aturan-aturan tertentu demi segalanya bisa berjalan dengan baik, dan kita memaksakan diri kita melebihi batasan-batasan seharusnya demi untuk memastikan semuanya terkendali sesuai kemauan kita. Trus capek-capek gitu apa yang kita dapatkan? Menjadi lebih baikkah kita, menjadi lebih enak tidur, lebih menikmati hidupkah kita? Atau malah sebaliknya, jangankan tidur...makanpun tak sempat demi konsistennya segala sesuatu dan akhirnya waktu-waktu berkualitas yang seharusnya bisa kita lewatkan dengan bahagia bersama anak dan suami hanya menjadi waktu-waktu yang harus dilewati untuk memenuhi target dan berakhir dengan hilangnya waktu tersebut baru kita tersadar......Mau seperti itu?? Your choice....

Jadilah diri kita sendiri, berusahalah menjadi ibu yang baik, dan nikmatilah momen kita menjadi ibu....maka kita tidak akan menyesal akan apapun di kemudian hari karena segala yang kita lakukan kita tujukan untuk kebaikan kita dan keluarga :)

Mengutip status BBM saya hari ini " Being a mom is a neverend journey...Full of laugh, cry, happines, sadness and all the feeling that words can't describe. I'm blessed..."

Yes... we're not a perfect mom, so what? Just enjoy the moment......

I'm blessed

6 comments:

  1. bener banget cheeeeeen...capek doang kalo maunya serba sempurna..

    ReplyDelete
  2. ehm, bingung, "mengejar label kesempurnaan dari luar" itu apa ya contoh nyatanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa ya...hahahaha....kalau dari aku pribadi (ini pendapat pribadi) menilai diriku sendiri ya, aku saat mengunci Leon di kamar dengan harapan dia tidak mengulangi kelakuannya lagi, disitu emosiku lebih banyak bicara, aku berharap Leon menjadi patuh, saat patuh aku berhasil mendidiknya, padahal bukan seperti itu seharusnya memberi pengajaran padanya.... :)

      Kalo untuk ibu-ibu lain, ya hanya perasaan pribadi mereka yang bisa bicara...apakah itu mengejar kesempurnaan atau benar-benar melakukan dan menikmati yang dilakukan..itu aja :)

      Delete