Friday, February 28, 2014

Kupercaya Janji-Mu

When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou has taught me to say,
It is well, it is well, with my soul.

It is well, with my soul.....
It is well, it is well, with my soul.

Horatio Spafford adalah seorang pengacara sukses yang hidupnya sangat berkecukupan di Chicago. Dia dikaruniai seorang istri dan empat orang putri dan mereka juga merupakan anggota aktif gereja Presbytarian. Di tahun 1871 datanglah malapetaka yang menghabiskan seluruh investasi mereka di Chicago, demi menghibur dirinya Horatio sekeluarga merencanakan melakukan perjalanan liburan keliling Eropa bersama. Awalnya hanya sang istri dan keempat anaknya yang pergi dengan menumpang kapal S.S. Ville du Havre disebabkan karena sibuknya Horatio sehingga mereka tidak bisa berangkat bersama. Kemalangan beruntun terjadi, di tengah Samudera Atlantik kapal itu bertabrakan dengan sebuah kapal besi Inggris dan patah menjadi dua bagian, hanya dalam waktu beberapa menit kapal itu tenggelam dengan banyak korban jiwa termasuk keempat putri Horatio, istrinya sempat tak sadarkan diri namun masih bisa diselamatkan. Beberapa hari sejak kejadian itu datanglah telegram dari istrinya yang bunyinya "hanya saya yang selamat."
Membaca hal tersebut Horatio segera berangkat dengan kapal selanjutnya yang ada untuk menemui istrinya, di tengah perjalanan sang kapten kapal mengundang Horatio dan menunjukkan padanya tempat dimana kapal Ville de Huvre tenggelam. Malam itu Horatio tidak dapat memejamkan matanya karena terbayang akan saat-saat terakhir keempat anaknya, ditengah-tengah Samudera Atlantik itulah Horatio menciptakan lima bait syair yang begitu menunjukkan keyakinan imannya atas segala yang terjadi di hidupnya. Bait pertama dari syair itulah yang teman-teman baca diatas kira-kira artinya seperti ini :


Ketika damai seperti sungai melewati jalanku
Ketika kesedihan seperti ombak laut menggulung
Apapun itu, Engkau telah mengajarkan aku untuk mengatakan
Dalam keadaan baik, dalam keadaan baik jiwaku

Dalam keadaan baik jiwaku
Dalam keadaan baik, dalam keadaan baik jiwaku

Siapakah manusia yang dapat mereka-reka tentang masa depannya? Bisakah manusia berkata aku mengumpulkan seluruh hartaku di hari ini untuk memastikan kesejahteraanku di masa depan nanti? Pernah mendengar cerita tentang orang kaya yang bodoh di Alkitab? Mari saya ceritakan secara sederhana ya, ada seorang yang sangat kaya dia menimbun seluruh hartanya di lumbungnya kemudian dia berkata "hai jiwaku, ada padamu seluruh hartamu ini, bersukaria dan bersenang-senanglah sepanjang hidupmu." Namun Allah mengatakan "Hai engkau orang yang bodoh pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti?"

Mengerikan? yah untuk saya sangat tragis sekali nasib si orang kaya yang bodoh itu. Lalu bisakah teman-teman melihat perbedaannya dengan Horatio? Seorang yang sangat berhasil dan ditempa masalah seperti itu, mungkin saat itu adalah titik terendah dalam hidupnya namun dia dengan imannya menciptakan syair yang begitu indah dan menggugah bukannya mendakwa Tuhan atas segala yang terjadi dalam hidupnya saat itu. Iman seperti apakah itu yang begitu meyakini bahwa dalam kondisi terkelam dalam hidupnya Allahnya selalu mengajarkan untuk mengatakan "Segalanya dalam keadaan baik..."

Menuliskan ini jujur membuat saya hampir menitikkan air mata saya (ditahan soalnya malu karena nulis postingan ini di kantor). Beberapa hari ini saya menjadi begitu pendiam, segala masalah seperti membebani pundak saya dan seperti kurang berat saja, masalah itu datang bukan silih berganti namun berturut-turut membebani tanpa penyelesaian. Jangan tanya pada saya bagaimana rasanya, sesaknya di dada sungguh tidak tertahankan lagi. Entah kenapa sebelum semua badai ini datang menyapu hidup saya beberapa hari yang lalu saya begitu ingin membaca lirik lagu ini dan karena itu saya mulai penjelajahan di internet, sungguh sangat terkejut juga ketika membaca bagaimana lagu ini diciptakan dan bingung kenapa Tuhan sepertinya ingin menunjukkan hal ini pada saya. Dan kemarin terjawab sudah mengapa Tuhan yang masih mengasihi saya sekalipun saya berulangkali mengecewakan-Nya terus menguatkan saya untuk melewati setiap hal yang Dia ijinkan terjadi di hidup saya. Kata siapa masalah ini tidak berat? Huh, belum tentu ketika diletakkan dipundakmu engkau sanggup menghadapinya, saya pun enggak bilang bahwa saya sanggup, sungguh saya sangat tidak mampu, namun Tuhan ijinkan dan sebelum terjadi Tuhan memberikan janji kesanggupan-Nya kepada saya. 

So, what should I do? Saya tidak tahu.......

Saya tahu siapa yang saya percayai dan saya memegang teguh janji pemeliharaan-Nya dalam hidup saya. Jadi adakah alasan untuk saya marah atas segalanya? Sungguh saya sama sekali tidak memiliki alasan untuk melakukan hal tersebut. Dua puluh tujuh tahun dalam hidup saya, benar-benar saya jalani dengan kasih dan perlindungan-Nya dan untuk saat ini saya pun harus meyakini bahwa tangan Allah yang begitu kuat akan terus merengkuh dan melindungi saya melewati setiap badai hidup ini. 

Semuanya baik, semuanya baik jiwaku sekali lagi saya tuliskan ini untuk mengingatkan bagaimana Ia akan terus memelihara janji-Nya dalam kehidupan keluarga kami.
Kupercaya Janji-Mu Tuhan

PS : Lirik ini akhirnya digubah oleh komponis Paul Bliss menjadi lagu It Is Well With My Soul dan diterjemahkan dalam PKJ no.232 "Di Kala Hidupku Tentram"


Lanjutan syair Horatio
  1. Though Satan should buffet, though trials should come,
    Let this blest assurance control,
    That Christ has regarded my helpless estate,
    And hath shed His own blood for my soul.
  2. My sin, oh, the bliss of this glorious thought!
    My sin, not in part but the whole,
    Is nailed to the cross, and I bear it no more,
    Praise the Lord, praise the Lord, O my soul!
  3. For me, be it Christ, be it Christ hence to live:
    If Jordan above me shall roll,
    No pang shall be mine, for in death as in life
    Thou wilt whisper Thy peace to my soul.
  4. But, Lord, ’tis for Thee, for Thy coming we wait,
    The sky, not the grave, is our goal;
    Oh, trump of the angel! Oh, voice of the Lord!
    Blessed hope, blessed rest of my soul!
  5. And Lord, haste the day when my faith shall be sight,
    The clouds be rolled back as a scroll;
    The trump shall resound, and the Lord shall descend,
    Even so, it is well with my soul.

No comments:

Post a Comment