Wednesday, February 5, 2014

Saya dan ASI

Baiklah, ternyata untuk menumbuhkan semangat menulismu, kau harus sering-sering blogwalking ke blog-blog yang konsisten menulis apapun sekalipun hujan badai menantang.
- Mama Leon, 2014 -

Syududu....lalalala....mari-mari kita menulis lagi, mari-mari kita merangkai kata lagi, mari-mari kita menyusun harmoni dalam kata lagi.... Trus mentok gak tau mau nulis apa....hahahahha

Akhirnya kemarin orang yang konseling menyusui dengan saya dan saya curigai anaknya TT alias Tongue Tie bertemu dengan kak Riri untuk diperiksa sekali lagi agar memastikan kondisinya, hasilnya apa? Yes, positif TT, tipe 4 ya sodara-sodara...makanye yang bersangkutan pergi cek-ricek ke dsa lain semua pada bilang enggak, saya udah keder aja emaknya gak mau ngecek ke Kak Riri, ternyata masih mau dengerin dan ngecek kesana, trus pasti timbul pertanyaan di hati pembaca, emang apa bedanya sih Kak Riri sama dsa lain?? ehehehe....beda sodara-sodara, dokter Riri itu dokter gigi dan konselor menyusui dan masalah TT memang dipelajari oleh dokter gigi, sehingga Kak Riri lebih mengerti ketika memeriksa anak-anak yang dicurigai TT dan mengganggu masalah menyusui.

Syukur-syukurnya lagi ya, emak bapaknya kooperatif loh (jarang-jarang nih, biasanya emaknya aja mewek-mewek, bapaknya suka-suka situlah) jadinya setuju ajah buat diambil tindakan dengan syarat dari kak Riri, eng...ing...eng....Harus ngelepasin dot ya.....Karena pelekatan tidak akan bisa diperbaiki sekalipun sudah dilakukan tindakan tanpa melepas dot... (Dot....semoga semua ibu mau putus cinta samamu, engkau selalu menjadi sumber segala masalah). Sekarang si adek lagi dalam proses pelepasan dari dot dan ketika siap dia akan menjalani tindakan, semoga berhasil ya.... Dalam kasus ini emakin muda umur bayi saat melakukan tindakan akan semakin gampang untuk mengembalikan ke kondisi full ASI. Yes you can do it moms....

Dan kemarin nangtulang saya yang di Jakarta nelepon siang-siang, dia curhat tentang saudaranya yang bermasalah dengan menyusui, usia bayi sekarang satu bulan, ibu merasa ASI sedikit, kemudian memberikan formula pada anaknya. Sayangnya anaknya menjadi BAB darah dan ketika mereka mengganti ke susu yang lainpun masalah yang sama tetap terjadi. Pasangan suami istri ini sudah sampai pada tahap putus asa dan depresi, menurut mereka segala cara telah dilakukan, apapun yang dibilang orang bisa membuat ASI banyak dimakan dan diminum namun hasilnya tetap nihil, dan mereka merana dengan kondisi si adek di hari ini...

Nangtulang teringat akan kondisi saya dulu dan bertanya kepada saya dimana mereka bisa mencari bantuan, ya nangtulang, perkenalkan beremu ini sekarang Konselor Menyusui, hehehhe sombong *plak....
Nangtulang saya ini orangnya tidak banyak bicara, ketika saya menghadapi kendala menyusui dulu saya sempat menginap dirumahnya untuk menjalani pengobatan ke dokter, dia menjadi saksi nyata bagaimana perjuangan berdarah saya demi bisa menyusukan Lionel. Dia juga yang ikut menemani ke dokter, melihat bagaimana suplementasi awal saya dijalankan, dan juga yang takjub ketika segalanya berhasil dan saya bisa menyusui Leon secara penuh sampai hari ini :)
Ternyata pengalaman itu disimpannya dan membekas dalam ingatannya, jadi ketika terjadi hal yang sama pada saudaranya dia segera menghubungi saya dan menanyakan pengalaman saya. Nangtulang bahkan berkata "kalau itu terjadi pada orang lain chen, mungkin nangtulang masih bisa bilang ah itu kan orang lain, setiap orang berbeda...tapi karena nangtulang melihat nyata-nyata didepan nangtulang bagaimana ceritamu, nangtulang percaya bahwa itu bisa...". Nangtulang bahkan mengakui bagaimana dia melihat begitu lincah dan sehatnya Leon kemudian berkata bahwa anak-anaknya karena dulunya mengonsumsi formula ketahanan tubuhnya harus diakui berbeda dengan kondisi Leon. Dan saya seketika bersyukur....ternyata cerita Leon membawa berkat kepada banyak orang bahkan yang saya tidak sangka-sangka...Kondisi Leon menjadi pelajaran kepada siapapun yang melihat bahwa hal yang mustahil menurut mereka sangat mungkin terjadi...

Mendiang ibu yang juga melihat perjalanan menyusui saya dan perkembangan Leon sampai beliau pergi untuk selamanya sempat menitipkan pesan kepada saya "Si, nanti kalau adek Leon lahir ibu mau agar dia seperti Leon kita, minumnya ASI aja, lihat betapa sehat, lincah, dan cerdasnya Leon....Mau diimunisasi, mau musim hujan, mau apapun kondisinya dia tidak terpengaruh. Dan lihat bagaimana pintarnya dia bisa makan segala macam makanan di usianya saat ini..."

Yes, action speaks louder than words... Kira-kira siapa saya sampai para ibu sepuh yang bisa dibilang udah tamat urusan mengurus bayi merasa perlu belajar, perlu menimba ilmu dan memperbaiki kondisi-kondisi yang mungkin dirasa mereka dulu hal yang normal saja...

"ah normal kok gak semua ibu bisa menyusui, kan air susu masing-masing ibu beda.."

"ah, jangan menjudge dia seperti itu, kan manusia gak sama..."

"aku juga dulu mengusahakan macam-macam namun emang gak bisa ya mau diapain lagi..."

dan berbagai pikiran mereka yang wajar ketika kita menelusuri riwayat mereka. Normal dulu karena semua juga begitu, namun dengan kondisi Leon semua menjadi tidak normal...kenapa? karena Leon bisa mematahkan setiap pendapat itu dan menunjukan keberhasilannya...

Benar setiap ibu bisa menyusui bayinya dengan penuh tanpa bantuan apapun asal dilakukan dengan benar.
Benar bahwa tidak ada makanan apapun yang bisa memperbanyak ASI, jadi makanlah apapun yang bunda suka tanpa perlu dipaksa untuk minum/makanan yang membuat bunda tertekan.
Benar bahwa ibu dalam kondisi sudah sempat menambahi Pengganti ASI pun bisa kembali lagi menyusui asal disertai tekad yang kuat, dukungan lingkungan, dan pertolongan tenaga kesehatan yang mengerti.
Benar bahwa menyusui adalah sinergi dua pribadi, ibu dan anak, memperhatikan kondisi keduanya memastikan proses menyusui bisa dilakukan dengan baik.

Dan benar, terkadang kita perlu melihat pengalaman nyata dari orang yang kita kenal untuk membalikkan paradigma kita sebelumnya dan berbesar hati untuk menerimanya :)


No comments:

Post a Comment