Friday, March 21, 2014

Keutuhan Pernikahan (Perempuan Harus Mengalah?)

Malam-malam pulang kuliah yang bikin capek plus keringatan membuat saya tidak bisa langsung tertidur. Dijemput Leon di kampus sudah cukup membawa aura positif dalam jiwa saya, jangan tanya bagaimana merasa bersalahnya saya karena harus meninggalkan dia demi alasan yang yah....mungkin juga penting....entahlah saya juga bingung.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 21.52 di tablet saya dan mata ini masih enggan untuk diajak berkompromi karena kelelahan jiwa saya jauh melebihi kelelahan fisik saya. Ditemani dengkuran dua pria tercinta dalam hidup saya, saya seperti terlempar ke sebuah zona antah berantah dimana hanya pemikiran saya yang berdialog berusaha mencari kompromi dari setiap hal yang berkecamuk di otak saya.
Jujur hari ini secara tidak sengaja berbicara dengan beberapa orang dan lagi-lagi mendapatkan fakta menyedihkan dalam kehidupan pernikahan.
Benarkah seorang perempuan harus selalu mengalah demi mempertahankan keutuhan sebuah pernikahan?
Sebenarnya apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan?

Melanjutkan keturunan? Kalau begitu ngapain menikah pakai cinta, kalau istri tidak bisa memberi keturunan ceraikan saja.

Terpaksa karena gerah ditanyai? Gak akan ada habisnya orang bertanya dimulai dari kapan nikah, kapan punya anak, kapan anaknya punya adek, dst...dst.... Capek bukan menuruti mau orang?

Sudah dijodohkan dan tidak bisa menolak? Supaya dianggap patuh dan taat jadinya benar2 mengikuti pilihan orangtua, terus kemudian kalau ada apa2 dengan kehidupan pernikahan kita orangtua ysng menanggung? Bahkan untuk keputusan memilih pasangan hidup pun kita masih diatur orangtua kita?

Cinta? Cinta seperti apa?yang berkobar saat pacaran tetapi meredup setelah menikah karena ternyata saat pacaran berbeda dengan saat menikah? Kemudian menyesal dan berkata sudah salah memilih?

Dan masih banyak alasan lain yang bisa disebutkan selain empat poin diatas. Yang menjadi pemikiran saya kenapa sepertinya perempuan yang terus-terusan mencoba mempertahankan sebuah pernikahan? Kenapa sepertinya setinggi apapun pendidikan seorang perempuan tidak menjamin dia akan diperlakukan adil oleh pasangannya? Dan kenapa dalam setiap kondisi pernikahan selalu perempuan yang diminta untuk bersabar dan memaklumi segala kondisi? Kenapa perempuan yang harus berdamai dengan hatinya untuk memaklumi sikap pasangannya?
Saya bingung....bukankah pernikahan adalah pengikatan janji setia diantara dua pihak. Saat janji suci tersebut diikrarkan disaksikan oleh orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupan kita dan mendoakan kebahagiaan kita. Namanya saja janji, berarti melibatkan dua pihak yang sama-sama harus mengingat dan memegang kesepakatan tersebut. Namun sayangnya dalam pelaksanaannya seringkali yang diingat oleh orang adalah perempuan yang harus menerima semua kondisi, sedangkan perempuan yang berontak dan tidak menerima perlakuan yang menurutnya tidak sesuai dengan janji mula-mula malah dianggap tidak baik.

Sungguh lucu dunia kita ya...Meletakkan laki-laki dalam kondisi superior dan memperlakukan mereka sebagai kaum kasta atas yang harus selalu didengarkan dan dimaklumi segala kelakuannya. Pantas saja perceraian jaman sekarang ini semudah membalikkan telapak tangan, kenapa? Karena sudah banyak perempuan yang jengah diperlakukan seperti itu, sudah banyak perempuan yang mengerti bahwa dirinya berharga dengan ataupun tanpa pasangannya, dan sudah banyak perempuan yang berani bertindak melawan diskriminasi langsung terhadap dirinya.

Kita perempuan-perempuan cerdas, dilahirkan dan dibesarkan oleh orangtua kita bukan untuk dikendalikan oleh siapapun. Kita adalah manusia bebas yang berhak menentukan langkah kita kedepan. Kita adalah pasangan seimbang bagi lelaki yang bisa melihat betapa berharganya kita.

Sadarilah betapa berharganya kita dan tunjukkan pada dunia bahwa kita pantas untuk dihargai.

Keutuhan Pernikahan, kita dan pasangan harus mau mengalah...

-Mama Leon yang sudah ngantuk-

Posted via Blogaway

2 comments:


  1. "Kita perempuan-perempuan cerdas, dilahirkan dan dibesarkan oleh orangtua kita bukan untuk dikendalikan oleh siapapun" suka kaliiiiii.... aku mikirnya sih perempuan diciptakan bukan untuk dikendalikan laki2,, tp jd partner seumur hidup dari pasangannya,, yg seharusnya saling mendukung dan menghargai..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya onty, banyak perenungan sehingga berani menuliskan ini :)

      anyway, thanks for your comment ya

      Delete