Friday, March 28, 2014

Mama VS Leon

Jam segini seharusnya saya masih tertidur lelap bersama si ganteng unyu-unyu, namun entah kenapa, mungkin karena kecapekan yang amat sangat akibat rutinitas baru yang saya jalani, saya terbangun dan susah untuk menutup mata lagi. Sebenarnya badan ini udah seperti habis dipukulin orang sekampung, capek dan pegal, namun karena saya memang bukan tipe orang yang suka/terbiasa dipijat jadinya saya lebih memilih menikmati pegal-pegal ini :)

Di tahun 1980-an yang merupakan masa saya masih berstatus balita saya tidak terlalu memiliki banyak memori tentang kejadian-kejadian saat itu. Seperti umumnya balita pada masa itu saya mungkin memiliki kenangan-kenangan lucu dan menyenangkan bagi orangtua saya dan orang-orang yang ikut ambil bagian hadir dalam proses tumbuh kembang saya, tidak terkecuali teman-teman seumuran saya. Adalah Yeni Emar, nama yang selalu membekas di hati saya karena mama berulangkali menceritakan tentangnya akibat tanda mata yang dibuatnya untuk saya sehingga tanda itu terus melekat sebagai kenangan yang akan selalu saya ingat. Saya sendiri tidak terlalu mengingat bagaimana kejadiannya namun ceritanya menurut versi mama seperti ini :

Diantara semua anak saat itu saya tumbuh dengan fisik yang lebih besar dari mereka, ibaratnya kata mama kalau kami berkumpul maka saya seperti ketua gengnya. Diantara semua anak itu kami bertiga, saya, yeni, dan shinta selalu bermain bersama, biasa...cewek-cewek kece selalu chit-chat sama yang kece-kece aja, hahaha *lempar pentungan ke mama Leon.

Nah karena secara tidak langsung saya adalah ketua geng, maka segalanya berjalan sesuai keinginan saya, saya mau ini mereka harus ikut, saya mau main itu mereka harus rela memberi bahkan kalau mereka enggak mau saya akan memaksa dengan merebut, hal tersebut selalu berhasil dan pasti akan diikuti dengan tangisan teman saya, namun saya mana mau peduli, namanya saja anak-anak.

Terbuai mendapatkan apapun yang saya inginkan membuat saya suka berlaku seenaknya, ternyata hal itu mendatangkan tekanan untuk teman-teman saya. Sesuai teorinya, manusia diberikan naluri untuk melindungi diri dan batas toleransi atas sikap seseorang bahkan sejak usianya sangat muda. Menurut cerita, suatu hari tanpa hujan angin dan badai Yeni Emar perlahan mendekati saya dan seketika hap, dia menggigit dada saya, gigitannya begitu kuat sehingga saya menjerit sekencang-kencangnya namun Yeni tidak mau melepaskan. Mama datang tergopoh-gopoh dan berusaha memisahkan  kami namun Yeni tetap lengket, akhirnya karena geram saya pukul mulutnya dan Yeni menangis, kami sama-sama menangis.

Luka yang ditinggalkan akibat gigitan Yeni lumayan dalam dan luka itu menjadi tanda mata permanen untuk saya, dulu saat saya tanyakan kenapa ada bekas seperti ini ma, mama dengan tertawa geli menjelaskan kejadiannya, dan tentu saja sebagai anak yang tidak lagi mengingat kejadian itu saya menerima semua cerita apa adanya tanpa pembelaan diri :)

Tadi malam pulang kuliah saat dijemput Leon, dia dengan sumringahnya tersenyum dan berkata "hai mi...", mendengar suaranya seluruh kelelahan saya seketika hilang. Saya masuk ke mobil, menggendong dia dan bertanya "mau tutu?" Dan Leon langsung mengambil posisi menyusu. Saat menyusui dia papanya yang sedang menyetir berkata

"Mah, tadi Leon gigit Davi..."

Dan saya seketika kaget, kaget karena tidak menyangka Leon melakukannya, dalam keterkejutan saya bertanya pada kakaknya

"Bagaimana kejadiannya bisa sampai seperti itu"

Kakaknya lalu menceritakan kronologisnya. Leon sore kemarin main ke rumah Davi, nah Davi memiliki banyak mainan namun namanya masih anak-anak ya Davi selalu ingin merebut mainan yang Leon ambil, apapun itu. Hal ini sungguh sangat berbeda ketika Davi main ke rumah Leon, Leon akan dengan lapang hati memberikan mainan-mainannya kepada Davi, mungkin karena alasan itulah Leon merasa seharusnya Davi juga seperti itu. Puncaknya saat Leon ingin main laptop mainan Davi yang kebetulan jumlahnya dua buah, saat Leon ingin mengambilnya Davi menyatakan ketidaksetujuannya dan berusaha mengambil, entah karena kesal atau memang ingin mempertahankan laptop mainannya Leon menggigit Davi di tangannya seperti yang biasa dia lakukan saat menggarai kami, hap....dan gigitannya diikuti tangisan kencang dari Davi. Kakak Yanti berkata padanya "Leon, jangan seperti itu nak", dan seketika gigitannya dilepaskan kemudian Leon ikutan menangis dan mengenal sifat Leon saya merasa dia menangis karena merasa tidak adil dibegitukan oleh kakaknya, tangisannya adalah tangisan sakit hati kenapa engkau tidak membelaku.

Untungnya mama Davi ada saat kejadian itu dan memaklumi sikap Leon, makasih ya mama Davi, maafkan kelakuan abang Leon. Saat akan pulang Leon berkata seperti ini :

"Dada Davi, makasih... maaf ya..."

Ah anakku semoga engkau akan terus memiliki karakter untuk mampu mengucapkan maaf saat sedang ataupun telah melakukan kesalahan, suatu sifat yang sangat jarang ditemui saat ini.

Selama mendengar rincian kejadian itu saya terpana dan ketika memandang Leon, dia sudah tertidur dalam pelukan saya sambil menyusu. Papa Leon seketika nyeletuk "udah tahu kan mama, dia mirip siapa..." sambil tersenyum penuh arti ke arah saya dan saya seketika tersenyum simpul karena malu.... Iya anakku sayang, kamu duplikat sejatiku, kamu itu Chen-Chen junior, melihat semua tingkahmu seperti menonton film masa kecilku yang dulu hanya kuketahui dari cerita orang dan sekarang terejahwantakan dalam diri dan tumbuh kembangmu. Mengetahui hal itu kadang membuat diriku sedikit frustrasi karena berhadapan denganmu akan selalu membutuhkan penjelasan logis atas setiap permasalahan, semoga mommi dan papa mampu ya nak membimbingmu menjadi pribadi yang baik.

Love u always nak....

No comments:

Post a Comment