Saturday, March 8, 2014

Pejuang ASI : Ketika Ilmu Bertentangan Dengan Fakta

Ketika Ilmu tidak sesuai dengan fakta, ada baiknya kita mencoba mundur dan melihat ulang seluruh permasalahan dengan lebih seksama. Mungkin kita hanya melewatkan fakta yang mendukung ilmu tersebut sehingga fakta sebelumnya tampak bertentangan

Adek kelas saya yang satu ini namanya Lydia, saya kenal sebagai seseorang yang sangat kuat prinsipnya terutama ketika dia tahu yang dilakukannya benar, akan makin keukeuh bin ngototlah orangnya. Dulu kami sempat ngekos bareng saat kuliah dan kamar kami berdampingan, Lydia setahun dibawah saya sehingga otomatis saya lulus duluan dan meninggalkan kuliah plus masa-masa indahnya. Semenjak lulus sampai menikahpun saya sangat jarang kontak dengannya dan berita terakhir yang saya dengar tentangnya adalah Lydia juga sudah menikah dan dikaruniai seorang anak saat Leon berusia 18 bulanan.

Dari seorang adek kelas saya yang lain, namanya Agnes, dia juga adalah teman Lydia yang kebetulan sampai hari ini dekat dengan saya, saya mendengar kisahnya bahwa Lydia memiliki kesulitan dalam hal menyusui. Dia sudah mencari bantuan namun pada akhirnya menyerah dengan menyusui dan menambah Pengganti ASI yaitu susu formula. Saat itu saya hanya mendengar dan menyesalkan, kenapa harus seperti itu, karena menurut saya dia berada di kota yang dengan menjentikkan jari saja semua bantuan bisa datang tanpa perlu harus bersusah-susah seperti saya dulu, setelah itu saya perlahan melupakan kasus Lydia.

Sampai suatu hari saya membagikan link tulisan di blog ini tentang kegalauan awal saya sebagai ibu muda dengan begitu banyaknya mitos yang ada plus bagaimana saya berjuang menghadapinya dan berhasil. Saat selesai membagikan link tersebut, banyak yang like, berkomentar, bahkan berniat membagikan kembali kisah itu ke yang lain. Saya dengan senang hati dong memberikan ijin karena memang tujuan saya untuk berbagi dan menyemangati.
Like dan Komentar di Facebook
Besok paginya tiba-tiba ada pesan di inbox facebook saya, membuat saya agak surprise karena ternyata pesannya dari Lydia, dia hanya berkata seperti ini:

" Ka Chen, aku kurang lebih mengalami seperti Kakak, dedek sampai hari ini harus dibantu sufor, kakak dulu diapain sehingga ASI-nya bisa banyak? "

Nah yang ada dalam pikiran saya orang-orang seperti ini biasanya lebih mudah mendengarkan, kenapa? karena mereka menyadari ada masalah lalu berjuang mencari masalahnya kemudian memiliki keinginan untuk meperbaikinya. Sayapun mulai bercerita tentang perjuangan menyusui saya sambil memberikan link ke blog ini, namun dia melempem dengan bilang "Anakku gak ada masalah kak, tapi akulah yang bermasalah" dan dimulailah kisahnya yang ternyata panjang juga bo...saya ceritain ringkas ya...

Jadi ternyata Lydia pun telah memulai pengembaraan ke berbagai tenaga kesehatan demi bisa membuat ASI-nya cukup bin mancur untuk si adek. Berganti dari satu dokter ke dokter yang lain dan tetap tidak menemukan solusi yang memuaskan, dia terus-terusan menyusui bayinya dan bayi menempel tanpa mau lepas namun ketika diberi tambahan susu formula bayi baru tenang dan mau tertidur. Hal itu berlangsung terus menerus namun adek bayi tetap menunjukkan minatnya yang besar saat menyusu. Lydia sangat bersedih dengan kondisi tersebut namun secara produksi Lydia merasa ASI-nya tidak mencukupi untuk anaknya.

Di usia bayinya satu bulan Lydia mengunjungi seorang tenaga kesehatan yang menurut bisikan negeri seberang terkenal kepiawaiannya dan memiliki predikat yang luar biasa dalam dunia per-ASI-an. Tahukah apa yang didapatkannya? Judgement dan kalimat-kalimat yang menyalahkan setiap keputusannya, bahkan kesempatan bicarapun tidak diberikan.
Belum puas lagi dari situ, berbekal kecurigaannya karena sempat berkomunikasi dengan Agnes tentang masalah menyusuinya, dia mengunjungi lagi tenaga kesehatan lain yang memiliki sepak terjang yang oke juga untuk menanyakan kecurigaannya. Tenaga kesehatan tersebut melakukan pemeriksaan sederhana dan bilang bahwa enggak ada masalah. Lydia protes karena kurang puas dengan metode pemeriksaan namun tenaga kesehatan tetap menyatakan tidak ada masalah, dan diapun lalu memilih percaya dengan semuanya.... Dia akhirnya tetap menyusui dengan menambahi susu formula.

Saya akhirnya gak bisa berbuat apa-apa dong, karena biasanya kalau sudah seperti ini ibu cenderung menutup diri dan malah akan lari ketika kita ingin "menggali" lebih dalam, namun salutnya untuk Lydia, dia masih ingin mencoba dan saya menyarankannya bertemu dengan sang penyelamat saya, siapalagi kalau bukan dokter Asti, hehehehe, siapa tahu ya beliau memiliki pendapat berbeda ataupun kalau enggak Lydia bisa menjalani relaktasi (proses kembali menyusui).

Saat itu dia langsung membuat janji temu dengan Dokter Asti loh, saya tidak mengerti entah karena segan dengan saya atau emang mau mencoba lagi, hihihihi, namun ternyata jadwal dokter Asti-nya sangat padat sehingga sempat tertunda untuk jangka waktu yang cukup lama dan saya sudah khawatir ajah Lydia mundur karena galau, hehehhehe.

Sampai suatu malam dia tiba-tiba chat ke saya "Kak, ternyata kemarin aku belum baca semua kisah Leon, ini barusan kubaca semua, dan aku nangis-nangis kak, aku akan berjuang kak...."
Membaca pesannya, hati saya langsung tentram, saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan dia bakal mundur karena dia sudah memutuskan sendiri akan berjuang mengingat saya mengenal wataknya dengan baik.

Menunggu pertemuan antara Lydia dan Dokter Asti menjadi masalah baru untuk kami, namun dengan kesabaran Lydia tanpa disangka-sangka sang dokter akhirnya memiliki waktu lebih awal untuk bertemu dengannya di RS Puri Cinere (dr.Asti juga praktek di Puri Cinere) dan dalam pertemuan itu jadwalnya sempat mundur karena Lydia terlambat akibat macet, untungnya dokter Asti memaklumi dan pertemuan yang telah lama dinantikan itu terjadi. Si kecil diperiksa ternyata memiliki tongue tie/ tali lidah terikat dalam kategori ringan namun mengganggu sehingga bayi tidak bisa menyusu dengan baik. Saat itu juga orang tua menyetujui untuk langsung dilakukan tindakan insisi dan Lydia menjalani perawatan jalan dengan mengonsumsi domperidone plus terapi akupuntur ASI untuk menaikkan prolaktin ibu (prolaktin berperan dalam produksi ASI) kemudian menjalani suplementasi (pemberian makan tambahan melalui alat sederhana menggunakan selang NGT dan Spuit, Selang NGT ditempelkan di payudara ibu dengan tujuan bayi akan terus mengisap untuk merangsang produksi ASI) dan ibu dicutikan oleh dokter dari kuliahnya selama sebulan penuh yang langsung disetujui oleh pasangan tersebut.

Satu minggu sejak kunjungan pertamanya tadi, ternyata dokter memutuskan bahwa suplementasi dapat dihentikan dan bayi sudah diperbolehkan menyusu secara penuh pada ibunya. Sampai hari ini ibu masih mengonsumsi domperidone dan menjalani terapi akupuntur. Selamat untukmu ya dek, pada akhirnya perjuanganmu berbuah manis. Mungkin saat ini belum sepenuhnya ya karena masih tetap menjalani rawat jalan namun aku sungguh sangat bangga padamu. Semoga semuanya berjalan lancar ya...

Aku ingat banget chat-mu untukku saat itu "Aku sampai merasa apakah ini pertanda dari Tuhan, apakah memang aku seharusnya menyerah saja?" dan lihatlah kondisimu dihari ini...dengan kerjasama yang kompak antara engkau, suamimu dan Cio, engkau bisa memompa semangatmu kembali dan melalui segala tantangan yang datang padamu. Selalu ingat ya Dek, kesempatan memberi ASI kepada setiap anak kita hanya terjadi sekali, ketika terlewati maka masa itu tidak bisa diputarbalikkan lagi, jadi maukah kita memperjuangkan itu?

Salam ASI

2 comments:

  1. Selamat Lydi sayang.
    Semangat selalu yaaa...

    Still, I feel I wasn't helping that time.
    If I could... If I would...
    Ah, sudahlah yaa. Aku jd moderator seperti biasa saja. Hehehe

    ReplyDelete
  2. Kesempatan memberi ASI kepada setiap anak kita hanya terjadi sekali, ketika terlewati maka masa itu tidak bisa diputarbalikkan lagi, jadi maukah kita memperjuangkan itu?


    Mauuuuuuuuuu! Mau mau mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!

    ReplyDelete