Thursday, March 27, 2014

Selalu ada Jalan

Saat ini semua orang pasti mengenal Albert Einstein, mau di ujung dunia manapun asal dia sudah bersentuhan dengan dunia pendidikan pastilah nama Einstein akan terdengar sangat familiar. Ya siapa tidak kenal Einstein sekarang, si manusia super jenius yang keliru dimengerti oleh lingkungannya saat itu, kalau saja ia menyerah dan percaya dengan label yang diberikan oleh orang-orang padanya saat itu, bisakah kita bayangkan akan seperti apa perkembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang fisika saat ini?

Tidak jauh berbeda dengan Alva Edison, si pemilik paten terbanyak yang karena jasanya hari ini kita bisa menikmati penemuan terbesarnya sepanjang dia hidup, ya bola lampu yang kita pakai sebagai sumber penerangan di hari ini merupakan hasil temuannya dan dia harus melalui 9.955 kali percobaan sebelum berhasil membuat bola lampu menyala. Satu kisahnya yang menggelitik untuk saya adalah beliau menolak disebut gagal sehingga ketika sebuah koran lokal memuat tulisan tentangnya dengan judul "Setelah 9.955 kali gagal menemukan bola lampu pijar, Edison akhirnya menemukan lampu yang menyala", ia meminta judul berita itu diganti sehingga keesokan harinya judul berita utama yang tampil di surat kabar tersebut adalah " Setelah 9.955 kali berhasil menemukan lampu yang gagal menyala, Edison akhirnya berhasil menemukan lampu yang menyala". Untuk Edison tidak pernah ada kata gagal dalam pencariannya, semuanya hanya kesuksesan dan dengan mental positif tersebut akhirnya beliau meraih keberhasilan dari semua kerja kerasnya.

Dunia kita saat ini terlalu terbuai dengan segala sesuatu yang instan, kita inginnya semua serba praktis, segalanya serba cepat, kalau bisa jangan membuang-buang waktu atau istilah kerennya "gak usah wasting time deh..." sehingga percaya atau tidak percaya kita sekarang sedang bergerak ke arah segalanya bisa diinstankan. Tidak percaya? lihat saja saat ini, mau apa-apa kita maunya yang praktis-praktis aja deh, yang enak-enak aja deh, kalau bisa jangan nyusahin deh, bahkan contoh sederhananya makanan instan menjadi hal yang biasa, hidup instan disukai karena membuat orang nyaman dan tidak perlu repot-repot, tinggal duduk di depan komputer dan voila mau transfer duit hanya sekejap, belanja online dalam negeri bahkan keluar negeri bisa, laper tinggal telepon tempat makan dan delivery tersedia dimana saja, asal ada uang semua gampang didapat semudah menjentikkan jari.

Susu formula sangat merajai pasaran Indonesia saat ini, dengan rayuan iklan tiada henti-hentinya menawarkan bahwa mereka bisa membuat generasi yang super, bukan hanya di televisi, kalau anda tinggal dikota besar maka lihatlah betapa pintarnya para SPG susu merayu kita dengan bermacam-macam trik, mulai dari hadiah-hadiah yang diberikan untuk pembelanjaan tertentu sampai pada diskon khusus sehingga dengan pembelian di harga tertentu kita bisa mendapatkan keuntungan berlipat. Hal menarik yang selalu saya lihat ketika berbelanja di swalayan adalah tempat susu formula yang diletakkan di bagian khusus dan terkadang menggunakan pengaman khusus yang hanya bisa dibuka oleh mbak SPG-nya dan menjadi belanjaan terbanyak yang dibeli oleh para keluarga muda saat mereka gajian. Bertroli-troli susu formula bisa antre loh dibagian kasir, apalagi kalau katanya lagi promo, antrian di kasir tiba-tiba menjadi sepanjang ular meliuk-liuk dengan isi troli dari ujung ke ujung sama semua, yes susu formula.

Terkadang hati saya tergelitik, pengen bertanya takutnya dicerewetin dan dianggap gila, hahahahha....tapi kalau seandainya saya diperbolehkan bertanya saya ingin sekali bertanya seperti ini "ibu enggak menyusui?" dan pasti bukan jawaban yang didapat, hanya dampratan yang didapat, hahahaahha...enggak deh, saya gak mungkin nanya begituan....

Apakah karena sudah terbiasa dengan yang instan maka susu formula adalah sebuah solusi instan untuk kita ketika menyusui terasa begitu sulit dan tidak sesuai dengan gaungnya "Menyusui itu mudah?"
Setelah melalui perjuangan menyusui, saya yakin orang yang mengeluarkan quote diatas pasti membuatnya karena tidak ingin ibu buru-buru mundur begitu mengetahui bahwa dinamika menyusui itu seperti naik rolercoaster, up and down, dan begitu banyak menguras energi serta tentu saja keberhasilan menyusui itu tidak pernah instan. Serius!

Iya menyusui tidak selalu semudah ataupun segampang yang dikatakan, perjalanan awal menyusui umumnya dilalui dengan kerikil-kerikil entah kerikilnya sebesar batu di depan rumah kita ataupun namanya saja kerikil namun sebenarnya sebongkah besar batu yang untuk melewatinya saja kita merasa tidak mungkin terjadi. Alison Hazelbaker seorang pegiat ASI dari Ohio, memaparkan penelitiannya bahwa 15% ibu menyerah di hari pertama setelah melahirkan dan 50% ibu lainnya menyerah di hari kedua, lalu apa kabar dengan jargon menyusui itu mudah?

Bukan saya disini bukan mau berkata kalo yang buat jargon salah, ternyata jargon tersebut memakai perkecualian kondisi agar berhasil

Menyusui itu mudah saat kita memiliki ilmu yang benar

Menyusui itu mudah saat kita sudah mempersiapkan diri dengan baik terhadap segala kemungkinan

Menyusui itu mudah ketika terbentur masalah kita tahu harus melakukan apa

Dan menyusui itu mudah ketika kendala tidak bisa kita atasi sendiri kita selalu bisa menemukan jalan keluarnya

Persistence and Patience (ketekunan dan kesabaran)

Melihat masalah menyusui seperti melihat benang kusut yang harus diurai bagian-bagiannya yang kusut dengan seksama, dalam hal ini ketekunan kita dibutuhkan untuk terus melihat dan mencoba memikirkan segala kemungkinan. Saat benang itu telah terurai dan kita menemukan solusi, lagi-lagi kita diminta untuk bersabar menikmati prosesnya sampai berhasil. It takes time...Jangan pernah mengharapkan sesuatu yang instan :)

Selalu ada jalan ketika kita mau dan yakin karena setiap anak mempunyai keunikannya sendiri.

-Mama Leon yang lagi nunggu dijemput-

No comments:

Post a Comment