Saturday, April 5, 2014

Sampai disini Tuhan (masih) menolong

Mengingat kembali kejadian semalam masih membuat saya merinding, seandainya saja...seandainya saja...ah saya tidak tahu apa yang terjadi pada kami kalau hal yang paling saya takutkan semalam terjadi...
Jumat malam kemarin saya memutuskan untuk tidak kuliah karena badan saya K.O kecapekan karena semua aktivitas saya akhir-akhir ini. Jumat siang saya dihubungi oleh teman saya dan mengajak saya untuk mengunjungi seorang temannya yang memiliki masalah menyusui. Pikir-pikir saya iyakan saja karena alamat rumahnya yang menurut saya tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Sore sepulang kantor saya membawa Leon dan kakak pengasuhnya untuk menemani saya. Sebelumnya saya menjemput teman saya karena kami akan mengunjungi bersama, memang saat akan berangkat jam sudah menunjukan setengah tujuh lewat namun menurut saya hal tersebut masih sangat lumrah karena jaraknya yang dekat. Saya menjemput teman saya dan teman saya itu meminta kami memutar sebentar untuk mengambil barang yang ketinggalan, akhirnya kami memutar balik arah dan singgah ke tempat yang diminta teman saya itu. Malam kemarin hujan begitu deras mengguyur bumi medan, saking derasnya wiper setiap mobil berputar dalam kecepatan maksimalnya termasuk wiper mobil kami. Hujan deras biasanya diikuti dengan matinya lampu perhentian dan berbuntut macet panjang, sungguh sebenarnya saya sudah ingin sekali berbalik arah untuk pulang dan menunda karena melihat segala kondisi tadi namun karena sudah terlanjur setengah perjalanan maka saya putuskan untuk tetap melanjutkan saja. Kondisi jalan padat sejak setiabudi sampai simpang pemda dan dalam jarak itu kami tertahan hampir 1,5 jam. Mobil memasuki daerah pajak melati dan saya berpikir sudah dekat dengan tempat tujuannya, ternyata perkiraan picik saya salah, suami sudah mengingatkan bahwa tanjung selamjat itu luas dan jauh namun saya berpikiran sejauh apa sih?Ternyata saya salah besar. Malam itu kami menelusuri jalan dalam kondisi sepi dan lumayan gelap, jarak yang ditempuh pun ternyata tidak dekat ditambah lagi dengan guyuran hujan makin menambah pekatnya suasana malam itu. Lama menyetir dan sepertinya saya tidak juga sampai ke tempat tujuan, akhirnya teman saya itu menelepon dan ternyata jarak yang harus ditempuh masih jauh. Berpacu dengan waktu akhirnya hampir jam sepuluh malam kami sampai di tempat yang dituju, kendaraan tidak bisa masuk kedalam sehingga saya memarkir diluar namun karena perasaan saya tidak nyaman saya memutuskan untuk kembali dan membawa mobil masuk agak kedalam dekat dengan pemukiman, sungguh saat itu terbersit sedikit penyesalan namun saya abaikan demi untuk melihat kondisi ibu dan bayi. 

Sesampainya di rumahnya saya dan teman saya menunggu si ibu, tidak berapa lama ibu keluar dari kamar tidur dan membawa bayi yang dalam kondisi agak layu, saya perhatikan bibir atas sudah ada blister (lepuhan/melepuh) yang biasanya sangat khas terjadi akibat bayi tidak bisa melakukan pelekatan dengan baik. Saya membisikkan ke teman saya untuk langsug melakukan pemeriksaan dengan perabaan dan ketika diperiksa ternyata bayi memiliki tali lidah/tongue tie dan tali bibir/lip tie sehingga bayi disusui dengan menggunakan niple shield/penyambung puting. Akibat penggunaan niple shield puting ibu lecet dan bayi tetap tidak bisa mengisap dengan baik dan sama sekali tidak mau menyusu jika niple shield tidak dipasang, kondisi ini lazim disebut "bingung shield".

Teman saya dan saya akhirnya berdiskusi dan memberitahukan hasil pemeriksaan kami serta alternatif yang mungkin bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi tersebut sehingga bayi dan ibu bisa ditolong mengingat kondisi/umur bayi yang masih muda, prosesnya tidak akan memakan waktu terlalu lama. Sekitar sejam kami disitu dan memberikan kesempatan kepada orangtua untuk berdiskusi sebelum mengambil semua tindakan karena pada akhirnya semua keputusan kembali ke tangan orangtua.

Selesai dari situ kami langsung pulang, saya memacu kendaraan cukup cepat karena khawatir dengan kondisi kami yang berempat dan isinya tiga perempuan muda dan satu anak kecil. Di tengah jalan saya tiba-tiba disalip sepeda motor dan dia tidak memberikan ruang bagi saya untuk mendahuluinya, yang lebih mencurigakan lagi sepeda motor itu tidak menyalakan lampunya dan sang pengendara hanya memakai jaket menutupi kepalanya tanpa memilih menggunakan mantel hujan. Sepanjang perjalanan saya berulangkali mencoba menyalipnya namun dihadang olehnya, hati saya sungguh sangat tidak enak karena kondisinya jalanan gelap dan hujan, saya berdoa dalam hati "Tuhan, tolong jaga kami semua, saya percaya kuasaMu nyata di hidup kami."

Saya terus memacu kendaraan hingga sampailah di pinggiran kota yang tempatnya banyak penerangan dan ramai, motor itu perlahan menyingkirkan diri dan meninggalkan saya di dekat Pasar Melati, saya menghembuskan napas lega. Saya mengantarkan teman saya kerumahnya dan kami bergegas pulang, lelaki kecil tersayang yang setia menemani saya sudah kecapekan dan tertidur di pelukan kakaknya. Kami sampai rumah jam 12 malam dan dihadiahi omelan papa Leon karena memang apa yang kami lakukan sudah masuk dalam kategori setengah waras, saya hanya diam karena memang saya salah saat itu.

Besok paginya saat saya masih berleha-leha sebelum pergi ke acara AIMI tetiba saya didatangi kakak pengasuh Leon, dia berkata bahwa ban mobil kami gembos, hati saya langsung mencelos. Saya turun dan melihat kondisi mobil yang sedang diutak-atik papa Leon dan terdiam disampingnya, saya sungguh sangat sadar akan semua kejadian malam itu dan saya tidak henti-hentinya memuji Tuhan saya

Kalau saja malam itu ban mobil gembos di perjalanan pulang

Dalam kondisi gelap

Dengan formasi 3 perempuan muda dan seorang anak kecil

Ditambah ada sepeda motor yang menghalang jalan kami

Hal selanjutnya bisa teman-teman perkirakan kan?

Ban mobil diganti serepnya dan ternyata ada paku sekitar 9cm mungkin panjangnya merobek ban belakang mobil saya, robekannya dalam menurut tukang tambal ban dan sungguh suatu mukjizat saya bisa meneruskan perjalanan sampai rumah dengan kondisi selamat. Belakangan saya tahu bahwa daerah yang saya lewati itu merupakan daerah rawan dan sangat banyak kejadian mengerikan terjadi disitu.

Sungguh amat sangat baik, sungguh amat sangat baik Engkau Tuhan.

Jiwaku memuji Engkau dan mulutku tidak bisa berhenti mengucap syukur atas semua pekerjaan tanganMu.
Janji, kasih, dan penyertaanMu nyata dan sempurna di hidup kami sekeluarga...
Terimakasih Tuhan Yesus...

2 comments:

  1. syukur smua aman2 aja.. bener itu kak, kalo merasa anak yg mepet2.. diteruskan aja sampe nemu tempat terang,,, org di kantor belawan uda lumayan banyak yg kejadian sama dengan kakak.. bannya ditembak paku khusus yg bisa mengkempeskan,,,

    ReplyDelete