Tuesday, April 8, 2014

Until We Meet Again

Seperti setiap manusia hanya sekali mengalami cinta sejati

Demikian halnya dengan rekan kerja, berlebihan mungkin

Namun menurut saya, engkau hanya akan sekali menemukan partner-partner sejati dihidupmu...

-Mama Leon, 8 April 2014-

Beberapa waktu yang lalu ada yang menganalogikan tempat saya bekerja saat ini dengan analogi negatif yang mendengarnya saja membuat saya sungguh tidak suka dan akhirnya menurunkan respek saya pada orang tersebut, bukan apa-apa sebagai seseorang yang seharusnya mengayomi tidak sepantasnya beliau menganalogikan hal seperti itu no matter what people say... Namun sekali lagi dengan seluruh jiwa besar semua rekan kerja saya menerima hal tersebut dan cuek, kenapa cuek? Karena kami tidak seperti yang beliau katakan :)

Sejak awal kepindahan saya ke Medan saya cukup deg-degan dengan kantor yang baru, mengingat kantor baru ini saya agak cemas jika nanti hubungan saya agak kurang baik, bukan apa-apa saya selalu mengingat nasihat seorang teman lama saya bahwa di kantor yang paling harus diperhatikan adalah "mulut mamak-mamak" dan sungguh saya sangat mengingat pesannya itu karena memang dalam perjalanannya terbukti mulut mamak-mamak itu setajam silet tanpa mikir dan kadang dengan seenaknya menilai.

Orang boleh bicara macam-macam namun selalu dalam setiap kasus pasti ada yang albino, dan saya menemukan si albino tersebut dalam kepindahan saya ke Medan. Sri Ulina Ginting namanya, orang Batak karo asli, dalam kesukuan batak dia masuk dalam kumpulan marga Parna, satu kumpulan dengan suami saya, jujur dari awal melihat saya langsung memasang kuda-kuda, jaga sikap, bukan karena apa-apa hanya takut kalau nanti ibu Sri ngomongin saya yang gak enak, saya malas ajah. Awal-awal pertama ibu yang sampai hari ini saya panggil nande ini kelihatan bersahabat namun dimana-mana mamak-mamak ya begitu ya, kelihatan bersahabat namun dibelakangmu siapa yang tahu. Beberapa waktu mengenal nande saya baru bisa melihat beliau dengan jelas, tiga tahun sudah sangat cukup untuk menyebut dia seorang ibu yang sangat mengayomi diluar segala kecerewetannya. Nande memiliki tiga orang anak dan dua diantaranya merantau, saat ini ketiganya merantau, tinggallah nande bersama suami. Hal apa yang saya lihat darinya dan begitu saya kagumi? Selama sekitar sebelas tahun saya hidup sendiri karena jauh dari orangtua, dalam dirinyalah saya menemukan kembali figur seorang mama walaupun tidak sempurna, iya tidak sempurna karena tetap mama kandung saya tidak bisa digantikan kedudukannya di hati saya, sekalipun seperti itu tetap nandelah yang mengerti dan memahami saya. Pernah saya diawal 2012 menangis sendiri di kubikel kerja, semua teman cuti dan hanya beliau yang masuk menemani saya, saat saya ceritakan semua beliau memeluk saya dengan begitu erat dan menghibur saya (ah nande....mengingat ini masih membuat air mata saya menitik).

Awal-awal kehamilan yang begitu berat juga nande menemani bahkan nande tidak jijik melihat muntahan saya. Kelahiran Leon dengan begitu banyak permasalahan yang ada membuat saya seakan ingin menyerah terhadap semua, lagi-lagi nande datang dan bersikap sebagai seorang ibu. Nande tidak sepenuhnya membela saya, kadang saya dinyinyirin nande karena sikap saya yang menurutnya perlu dinasehati, terkadang saya kesal karena tidak suka dengan omelan nande, terkadang saya diam juga karena apa yang dikatakan beliau benar. Sehabis-habisnya beliau memarahi saya pasti tetap bicara dan tidak menilai saya macam-macam, beliau benar-benar mama bagi saya. Saya secara tidak langsung terikat padanya, segala hal tentang saya seperti buku terbuka untuknya, dia melihat saya dan dia mengerti hati saya. Terimakasih nande untuk semuanya.

Orang kedua yang begitu menyentuh hati saya adalah Kak Tere. Awalnya saya tidak terlalu bisa bicara dengannya, sifatnya keras sekeras batu karang, judes, ngomong apa adanya bahkan terkesan kasar namun karena kami berada dalam satu seksi yang sama maka saya mau tidak mau harus bicara dengannya. Butuh waktu cukup lama untuk mengerti pribadinya ternyata dalam proses mengenal dia semua pandangan awal saya berubah. Kak Tere ternyata seorang yang sangat baik, keras memang namun mau mendengarkan kalau memang sesuatu yang kita jelaskan logis untuknya. Kak Tere ternyata memang orang yang terbiasa bicara blak-blakan bahkan saya sering banget dijutekin Kak Tere. Diluar seluruh sifatnya itu ternyata dia adalah seorang yang sangat penyayang, mengenal dia lebih dalam dan diijinkan masuk kedalam kehidupan pribadinya membuat saya menjadi tahu dengan jelas karakter Kak Tere.
Nande selalu menjadi mama untuk kami berdua dan Kak Tere selalu bisa menjadi kakak untuk saya.

Jangan bilang kehidupan kami bertiga semanis madu, seindah cerita-cerita persahabatan yang ada di novel. Kami bertiga terkait oleh sebuah ikatan emosional dan ikatan itu tercipta karena hidup kami pahit.  Iya kami memiliki permasalahan-permasalahan yang saking tidak bisanya kami pendam sendiri kami membutuhkan orang yang bisa mendengar dan bisa menyimpannya, teman untuk meminjamkan bahu saat kami merasa kecapekan dengan segalanya, dan teman yang bisa duduk disamping kami dan menghapus airmata kami.
Secara tidak langsung tiga tahun sangat cukup untuk membuat kami terikat dan tidak bisa lari satu sama lain, kami dikekang oleh kebutuhan kami dan kami dikungkung oleh teralis tak kasat mata yang bernama permasalahan hidup dan inilah kami.

Betapa hidup terlalu kejam memisahkan kita, betapa semesta sedang berkonspirasi melihat kita bersedih, betapa semua seakan direngut dari kita sekejap oleh suatu kejadian bernama mutasi pegawai.

Menuliskan tentang kalian selalu membuat hati ini bergolak
Mengingat kalian menambahkan dalamnya kesedihan di hati ini
Mengenal kalian membuatku menyesal kenapa hari perpisahan ini harus datang

Saya memang selalu terlalu mellow kalau menuliskan tentang kalian...

Perpisahan seksi tadi menjadi simbol perpisahan kita secara nyata, walaupun kalian akan menghadapi hari yang baru tanpaku senin nanti namun acara tadi sudah sangat cukup membuat saya tersadar "tidak pernah ada akhir cerita yang indah sesuai keinginan kita".

Entah bagaimana kalian di tempat yang baru, entah bagaimana aku yang kalian tinggalkan...
Namun satu hal yang selalu kusyukuri, aku bersyukur mengenal kalian, nande dan kak Tere
Aku menyayangi kalian setulus hatiku....
Terlalu cepat rasanya semua ini....

Sampai nanti kita bertemu kembali ya....
I Love You So Much...

-Grand Liberty-
Kapan kita seperti ini lagi?

No comments:

Post a Comment