Thursday, July 10, 2014

Untukmu - Mr. President

Lama juga tidak menulis dan produktivitas saya untuk menulis sepertinya mengendor ya teman-teman. Bukan tanpa alasan, semenjak ditempatkan dengan tanggung jawab yang baru, saya betul-betul kehilangan waktu untuk bercengkrama dengan blog tercinta ini. Lelah dan penat selalu menemani saya saat akan menutup mata dimalam hari, bukan hanya itu saja, lelah itu juga masih bersisa saat saya terbangun di pagi hari. Apa mau dikata, beginilah jalan hidup yang saya pilih dan sayangnya saya begitu menikmatinya :)

Kemarin tanggal sembilan juli seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja untuk saya karena selama ini saya secara sengaja berdiri di jalur abu-abu jika hal itu menyangkut yang sering disebut-sebut para pemangku kepentingan "Pesta Demokrasi/ Pesta Rakyat" padahal menurut saya yang berpesta ya... yang akan mendapatkan imbal balik secara langsung dari peristiwa itu, menyejahterakan masyarakat hanya merupakan iming-iming dengan persepsi "Masyarakat yang mana dulu?". Semenjak memiliki hak untuk memilih saya harus mengakui bahwa saya sekalipun tidak pernah menggunakan hak saya, sombongkah saya? Saya rasa tidak, saya terlalu pesimis dengan kondisi bangsa ini dan saya tidak pernah melihat sosok pemimpin yang saya inginkan hadir di antara pilihan-pilihan yang diberikan, so i just skip it years by years, malu memang tapi hal itu merupakan pendapat pribadi dan saya tidak mau terlalu ambil pusing.


Sampai beberapa saat lalu, saya yang memang suka membaca segala macam hal diam-diam menyimpan kekaguman pada dirinya saat melihat track record beliau, terserah anda mau berkata hal tersebut hanya pencitraan, sayang sekali saya sudah keburu jatuh cinta dengan citranya. Melihat sepak terjangnya mulai dari di Jateng (tidak perlu saya sebutkan lagi, anda sudah pasti tahu), Jakarta - Yang katanya di mengkhianati sumpah dan janjinya yang sebenarnya menurut PENDAPAT SAYA PRIBADI adalah tidak bijaksana karena para komentator tidak melihat apa yang sudah dilakukannya BUKAN apa yang belum dilakukannya, dan kemudian deklarasinya untuk menjadi orang nomor satu di bumi pertiwi ini, di Indonesiaku tercinta ini akhirnya menjadi titik balik kesadaran saya. Saya tersentak, akhirnya saya memiliki alasan untuk bisa menggunakan hak pilih sesuai harapan saya.

Bukan tanpa angin badai untuk mencapai hari perhelatan besar tersebut harus beliau tempuh. Banyaknya isu negatif mengenai beliau mulai dari ingkar janjinya sampai-sampai alasan lain yang tidak rasional ditembakkan secara membabi-buta berharap masyarakat terpancing dengan isu tersebut, sayangnya kawan, masyarakat kita semakin pintar, masyarakat kita semakin terbuka, masyarakat kita semakin bisa melihat dengan hati bukan dengan kacamata kuda yang diberikan, dan kemudian sepertinya semesta pun mendukung...muncullah sebuah gerakan yang membuat publik tercengang, gerakan yang mungkin membuat orang-orang yang berpikir hal ini mustahil terjadi menjadi harus berpikir ulang saat melihatnya, gerakan ini dibuat oleh para pecinta untuk dia - pribadi yang begitu dicintai dan dikagumi. Kenapa? Yes, karena mereka ingin perubahan.

Semua mengeluarkan pendapat, semua menyebarkan fakta dan opini, namun apapun yang terjadi penentuan tetap akan dilaksanakan di tanggal keramat sembilan juli kemarin, oleh karena itu dengan langkah penuh percaya diri, saya - si swing voters ini mempersiapkan diri begitu baik untuk memberikan suara, suara perdana yang akan saya pakai dan saya tahu dengan rela hati saya lakukan, karena saya memiliki harapan pada figur yang akan saya pilih ini.

Pukul sebelas siang saya sampai ke TPS dan karena saya tidak masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) maka saya berbicara dengan petugas dan diminta untuk menunggu sampai pukul dua belas (memang peraturannya yang saya baca begitu). Saat sudah diperbolehkan untuk memberikan suara maka saya menyerahkan KTP dan nama saya kemudian dicatat beserta kelengkapan yang diperlukan, akhirnya saya mendapatkan nomor antri kemudian saya langsung memberikan ke petugas untuk ditukar dengan satu surat suara. Saya membuka surat suara itu di depan petugas, takut kalau terjadi seperti di tempat lain dan syukurlah surat itu tidak bercacat. Dengan langkah penuh harapan saya berjalan ke bilik suara dan tanpa ragu memilih pilihan saya ditutup dengan doa pribadi, "Saya sudah melakukan bagian saya selebihnya Engkau Tuhan yang mengerjakan bagian-MU". Selesai, saya pulang ke rumah.

Saat dirumah saya mengikuti setiap hasil quick count dan sekali lagi bersyukur dengan hasil yang didapat walaupun masih ada kerancuan hasil dari beberapa lembaga survei, tidak apa-apa untuk saya. Bagi saya ketika Tuhan sudah berkehendak maka semuanya akan jadi, apapun yang dibuat manusia untuk menjegalnya tidak akan bisa terjadi.

Akhirnya, kuucapkan selamat padamu Mr. President.
Sungguh aku sangat bangga bisa menyebutmu Presidenku...
Memang jalan masih akan sangat panjang
Quick Count bukanlah pengakuan sepenuhnya, namun aku yakin...
Tangan Tuhan yang begitu kuat menggenggam engkau sejak awal
Tangan itulah yang akan terus melindungi engkau sampai saat deklarasi nyata kemenanganmu...
Pun dalam masa kepemimpinanmu nanti
Kutitipkan harapanku di selembar kertas surat suara itu
Berharap engkau bisa menunjukkan bahwa engkau layak kami pilih
Ingat, suara kami TIDAK GRATIS

God Bless You To Lead Our Country

Medan, 10 Juli 2014

No comments:

Post a Comment