Monday, August 11, 2014

Tentang Saya, Tentang Lemari, dan Tentang Konseling

Sebenarnya ini adalah postingan tentang tiga cerita yang berbeda namun karena hari ini pengen ceritanya gado-gado dan ceritanya ini juga pendek-pendek maka saya ingin meringkaskan aja jadi satu postingan. Toh ini blog cuap-cuap saya, hanya sebagai pengingat tentang hal-hal yang kira-kira menjadi rutinitas ataupun hal yang membuat saya jadi BT hehehe...biarin deh, biar saat Leon bisa membaca dia bakalan ngeh kalau emaknya ini juga hanyalah manusia biasa yang punya jadwal BT, hihihihi....

Tentang Saya
Jadi udah hampir dua bulan ini saya mulai menjaga pola makan untuk kembali melangsingkan tubuh saya yang jangan tanya deh kayak apa semenjak melahirkan dan menyusui Leon. Okey, saya tahu bahwa menyusui itu membakar kalori yang setara dengan joging ya kalau gak salah, namun apa jadinya kalau ternyata yang dimasukkan lebih banyak daripada yang dikeluarkan? hasilnya ya kayak saya inilah, badan menjadi melar tak beraturan dan saya kesusahan mengatur pola makan akibat melihat semua makanan enak, hehehe....
Nah kemarin saat Leon sudah mulai disounding untuk disapih, saya juga siap-siap dong, selama ini alasannya menggendut sama semua orang karena "kan, saya masih nyusuin..." -DITERIMA- trus kalau Leon udah disapih, emang bisa pakai alasan itu lagi? :p
Demi mempertahankan harga diri maka dimulailah program penurunan berat badan ini dengan Harapan setinggi langit, saya harus balik ke BB sebelum hamil Leon, asiiikkkkkkk.....Boleh dong pasang target tinggi setinggi langit, toh kata Soekarno "Bermimpilah setinggi langit, toh kalau nanti kamu terjatuh, kamu bakalan jatuh diantara bintang-bintang" Asik bener kan... :)
Lalu apa saja yang sudah saya lakukan? Yang pasti saya benar-benar menjaga pola makan dan olahraga rutin hampir setiap hari jalan pagi tiga puluh menitan. Awal-awal melakukan ini bukan tanpa rasa malas yang menyerang loh, sumpah saya males banget, malah awal-awal saya hanya ngatur makan aja gak pake olahraga, males deng....setelah sebulan ngatur makan dan dengan dukungan Papa Leon, baru tiga mingguan ini rajin jalan pagi, semoga bakalan bertahan selamanya, aminnnn....

Terus gimana progres dengan BB saya? Syukurlah, walaupun perlahan turunnya, saya sangat menikmati bisa memakai baju yang kedodoran, bahkan hari ini udah super PD makai rok pendek karena gumpalan lemak udah mulai minggat dari perut dan pinggang. Saya masih jauh dari BB yang saya harapkan namun saya menikmati proses ini sehingga pada akhirnya nanti ketika BB saya sudah kembali, saya merasa itu adalah bonus dari hasil kerja keras saya di hari ini. Nanti kalau udah sampe kesitu bakalan posting deh pakek foto :p semoga.....

Tentang Lemari
Jadi lemari baru kami ini ada penyakitnya deh, entah kenapa engsel pembukanya itu suka copot sendiri, entah saya dan papa Leon yang terlalu bar-bar atau memang saat pemasangan engsel agak kurang kokoh. Semalam secara tidak sengaja pintu lemari saya menjadi susah ditutup karena saya paksa, hasilnya jadilah makin tak bisa ditutup. Dengan manisnya Mama Leon yang kemarin sudah dengan semangatnya memasakkan Gulai Kapau untuk Papa Leon, memohon bantuan untuk memperbaikinya dan ditanggapi dengan males-malesan sambil menjawab besok aja ya ma...dan langsung kesellah saya.
Dengan muka kesel saya ambil obeng sendiri dan mencoba memperbaiki engsel yang ternyata sangat tidak mungkin dilakukan oleh satu orang, hasilnya setengah jam berkutat dengan engsel, pintu lemari terbongkar semua, uh jangan tanya deh gimana keselnya. Sambil merutuk dalam hati saya angkat pintu itu kemudian saya sembunyikan engsel di lemari atas biar gak kelihatan papa Leon dan berikrar dalam hati, pintu itu gak akan dipasang sampai tukangnya datang, saya keburu sebel sama papa Leon.
Tadi pagi saya bangun dan pergi jalan pagi sendiri, masih ngambek dan males ngomong sama papa Leon. Saat saya pulang ealah kok pintunya udah terpasang dengan manis sambil mendapat godaan dari papa Leon akhirnya saya ketawa aja, jujur saya masih penasaran kok bisa papa Leon menemukan tempat saya meletakkan mur nya ya.... Akhirnya karena penasaran saya nanya juga jadinya, kok bisa ketemu pa? dengan enteng dijawabnya "dikasihtau Leon"

Hah? Emang Leon bilang apa?

"Aku nanya, Leon dimana mama taruh murnya, dijawab, enggak tau, ambil tikus sama mamam kucing.... Terus aku nanya lagi dia nunjuk, tuh..sambil nunjuk lemari atas, ya udah aku buka dan liat, ternyata emang disitu..."

Dan seketika saya langsung terhenyak....memang sih saat saya sibuk berkutat dengan lemari itu Leon menemani saya dengan ikut naik ke kursi dan ikut menyibukkan diri bersama saya sampai-sampai saya taruh dia diluar dan dia menangis menjerit... Ternyata   abang Leon memperhatikan apa yang saya lakukan, jadi menyesal sudah seperti itu semalam...maafkan mommy ya nak....

Tentang Konseling
Saya sudah beberapa kali ketemu pasien konseling menyusui yang aneh bin ngotot bahkan gak mau diajak bekerjasama, jadinya kebutuhan mereka akan konselor hanya sekedar menunjukkan bahwa mereka memang tidak memilih menyusui, mereka hanya ingin permission/ijin dari saya bahwa hal itu boleh. Saya sih ya sudah belajar untuk tetap memberikan seluruh kemampuan saya sebagai konselor, mengenai keputusannya kan semua kembali lagi ke tangan orangtua untuk memutuskan, yang paling penting adalah mereka diberikan beberapa pilihan dan dipersilahkan untuk memutuskan mana yang terbaik untuk anak mereka. Hal yang menyedihkan adalah kalau pasien konselingnya adalah orang yang kita kenal dan keukeuh pula, nah yang begini ini menguras emosi saya sekali.
Kemarin saya dikunjungi teman lama yang ingin konseling keadaan anaknya dan berencana untuk kembali menyusui karena satu dan lain hal. Saat melakukan konseling saya sedikit berdebat dengan teman saya itu yang adalah ayah pasien karena menurut dia teori bisa bilang apa saja tapi dalam kenyataannya yah tidak semua seperti itu, intinya mengatakan bahwa ya dia tidak sepenuhnya percaya. Disitu saya masih sabar menjelaskan, namun saat kesabaran sebagai konselor saya habis, dengan agak keras saya bilang "kita saat ini tidak perlu bicara anak siapa disana begini, anak siapa disana begitu, sekarang karena saya peduli dan saya dihadapkan pada kenyataan anak abang seperti ini dan saya tidak bisa menutup mata untuk kemungkinannya ketika dia besar nanti akan seperti ini, ini, dan ini, makanya saya minta ayok kita sama-sama memikirkan yang terbaik untuknya...."
Dan setelah selesai mengatakan itu saya menyesal... Menyesal karena sebagai konselor saya tidak seharusnya berkata seperti itu, namun sebagai seorang teman saya pantas berkata seperti itu.
Huft benar kata seorang teman, sesusah-susahnya konseling dengan orang lain, lebih susah lagi konseling dengan kenalan ataupun saudara kita.
Akhirnya karena perasaan saya sebagai konselor enggak enak, saya jadinya minta maaf deh ke abang itu...sekaligus kejadian di hari itu menjadi pelajaran untuk saya agar bisa memisahkan profesionalisme kerjaan dan hubungan istimewa yang mungkin terjadi.
Semoga kedepannya saya bisa menjadi konselor yang lebih baik lagi... yah learning by doing, dan jangan pernah merasa puas dengan kemampuan kita saat ini...

No comments:

Post a Comment