Tuesday, September 23, 2014

Asi yang hidup, dan yang menghidupi - Catatan Seorang Teman

Ini adalah cerita dari seorang teman saya yang ditulisnya di catatan Facebooknya dengan sangat informatif. Atas seijinnya saya diperbolehkan memposting tulisannya di blog ini, terimakasih Mama Sere, semoga tulisan ini membawa manfaat bagi para pembaca...

So People, here's the story... ENJOY

Hari ini, anak kami, Pembayun Sereuli berusia 1 bulan. Saya masih ingat persis bagaimana proses yang harus saya lalui untuk melahirkan Sere. 23 Agustus 2014, pukul 2.30 pagi, Sere lahir dengan persalinan normal, berat 3,3 kilogram dan panjang 47 cm. Dia begitu merah, meraung menangis pertanda dia telah hadir di dunia. Saya tak bisa berkata apa-apa, waktu tubuhnya diletakkan di dada saya, kami menjalani IMD (Inisiasi Menyusui Dini), satu jam lebih Sere ada di dada saya, walaupun Sere tidak menemukan puting, tapi saya dan Sere telah melalui proses awal menyusui. 2 jam kemudian, waktu saya sudah beres (sudah jahit perineum, dan istirahat sebentar), seorang dokter membawa Sere kembali, untuk disusui. Ini adalah pengalaman pertama bagi kami berdua, tapi ternyata tidak sulit, Sere bisa nenen dengan baik. Saat itu segalanya indah, saya merasa sangat lengkap. Malamnya kami juga dirawat satu kamar (rooming in), dari awal perencanaan kelahiran, saya dan suami memang telah survey Rumah Sakit. Hal-hal yang menjadi pertimbangan kami dalam memilih RS adalah pro asi, melakukan prosedur IMD, dan rawat gabung ibu dan bayi. Puji Tuhan, saat itu rencana kami berjalan baik.

Minggu pertama Sere, tak jauh beda dengan bayi pada umumnya, kami habiskan waktu dengan nenen, ganti popok, tidur, begitu sepanjang hari dan malam. Minggu kedua, saya mulai merasa ada yang aneh dengan Pola minum Sere, durasi nenen Sere bisa sampai 30 menit, dan kemudian lapar lagi 1 jam kemudian. Dan, setiap kali nenen, Sere seperti tenggelam dalam air susu, separuh asi tumpah membasahi bajunya. Dia selalu gelagapan, kelelahan, dan akhirnya malas nenen. Saya sampaikan ke orang rumah, ada keanehan pola nenen Sere. Ada yang bilang, itu karna asimu amis. Saya dicekoki jamu, okey, sepanjang untuk kebaikan Sere, saya lakukan. Tapi sama saja. Sere tetap minum dengan kelelahan. Kemudian, saya kira karna asi saya terlalu deras, saya jadinya selalu memerah asi agar pd agak kosong setiap kali Sere akan nenen. Nol. Hasilnya sama saja. Kami coba berbagai posisi, sama saja, Sere tetap tak merasa nyaman. Saya lelah, frustasi, dan merasa gagal. Menyalahkan bentuk payudara sendiri, menyalahkan diri karena tidak menjaga makanan.



Satu pagi kira-kira jam 3, saya kesal sekali. Saya marah pada Sere, saya bentak dia, dia menangis, saya pun ikut menangis. Saya menangis karena tak tahu apa yang terjadi, dan seakan menyalahkan Sere yang tak bisa memahami kelelahan dan sakit di payudara saya. Belakangan saya mengerti, tangis Sere malam itu adalah kalimat, "mama, tolong, aku tidak bisa menghisap dengan baik. Aku masih lapar mama." Jika mengingat malam itu, saya merasa bersalah sekali.

Lalu, sebenarnya apa yang terjadi dengan Sere? Saya tak mau larut dalam kebingungan. Saya menghubungi seorang kawan, Mba Denok. Dari posting dan bahasa komunikasi mbak ini, saya yakin dia adalah seorang pejuang asi. Lewat chatting, kami akhirnya menemukan penyebabnya. Dengan bantuan info dari seorang kawan lain, mama Leon, kami tahu ternyata Sere lahir dengan kelainan di lidah yang namanya Tongue Tie. Keadaan ini membuat Sere tak mampu ngenyot dengan sempurna. Jika bayi normal bisa nenen dengan gayung, makan bayi Tongue Tie nenen cuma pake sendok. Oke, saya tidak terlalu shock, akhirnya saya tahu penyebabnya. Dan saya segera mencari tahu solusi. Lewat mama Leon dan mba Denok, saya diarahkan agar menemui dr Asti Praborini. Seorang dokter anak, yang juga ahli laktasi mumpuni. Saya langsung dibikinkan janji oleh mama Leon si RS Permata Depok. Tanpa buang waktu, besok paginya kami berangkat.

Tiba di RS Permata Depok, kami langsung bertemu dr Asti. Dari pemeriksaan, ternyata Sere juga ada Lip tie. Lengkap sudah, Sere adalah bayi Tongue Tie dan Lip Tie. Sedikit banyak saya sudah tahu info tentang kelainan ini. Saya juga telah menjelaskan kepada Papa Sere, malam sebelum kami berangkat menemui dr Asti. Jika benar Sere memang bayi Tongue Tie, maka dia akan diberi tindakan namanya insisi atau fretonomi. Puji Tuhan, papa Sere paham dan menerima penjelasan. Inisisi adalah tindakan medis berupa operasi minor untuk melepaskan ikatan lidah dan atau bibir. Prosesnya tak sampai 2 menit, hanya digunting, ceklik, beres. Tidak ada pendarahan berarti. Jadi, meskipun namanya tindakan operasi, tapi prosesnya tak seseram yang dibayangkan. Begitu di-insisi, Sere langsung dibawa untuk saya susui. Hap. Dengan satu gerakan, Sere langsung nenen di pd kanan saya yang notabene sudah tak dia nenen 2 hari. Ajaib. Saat itu juga, Sere nenen dengan tenang. Tidak gelagapan, tidak tumpah, tidak marah-marah. Kami bahagia sekali. Selanjutnya, agar lidah Sere tak kembali pada ikatan semula, kami harus melakukan senam lidah. Di RS itu juga, saya diajari cara senam lidah untuk Sere.

Hari itu, kami pulang dengan bahagia. Pada awal masa sebagai orang tua, kami diberi pelajaran berharga. Bagaimana kami harus membuat keputusan, dan tetap tenang menjelaskan pada keluarga yang bertanya namun bertendensi menyalahkan.

Kalau dulu, nenen adalah 30 menit yang penuh drama, maka sekarang nenen adalah 10 menit yang bahagia. Saya relaks, Sere kenyang.

Selamat 1 bulan anakku. Terima kasih untuk pelajaran ini. Jangan pernah lupakan, ada 2 malaikat pernah menyelamatkanmu, bou Mama Leon dan Budhe Denok. Juga, pada gurunya malaikat itu, opung dokter, dr Asti Praborini.

ps. Mengenai Tongue Tie dan Lip Tie, bisa dibaca lebih lanjut di catatan mama Leon (mamanyaleon.blogspot.com).

mama, banyak sekali hal yg tak bisa disampaikan bayi kita karena mereka belum bisa bicara. Tugas kita adalah mencari tahu sebanyak-banyaknya. Jangan sungkan bertanya, mencari jawaban, dan dengarkanlah saran. Tetap ajak Papa untuk menjadi pendukung nomer satu. Karena Papa yang harus pasang badan dari segala komentar negatif dan selalu menjaga mama agar tetap berpikiran positif. Sampai ada kalimat seperti ini, Tuhan seperti tak mengizinkan bayi kita minum asi yang berisi kesedihan dan pikiran negatif, itulah kenapa, asi akan banyak jika mama selalu bahagia. Salam asi, untuk semua mama menyusui. Jika ada yang sekadar bertanya, jangan sungkan mama, ini no hp mama Sere : 081xxxxx. (Padahal mah, ujung2nya mama Sere juga pasti tanya mba Denok atau Mama Leon, hak hak hak. Abisnya ilmu 2 mamak2 ini udah ke mana2 sih ya..)

No comments:

Post a Comment