Thursday, October 2, 2014

Medan punya cerita

Terhitung sejak tahun 2001 saya resmi menjadi perantau ditanah orang, tanah orangnya dimana aja? Banyak kakak... Tiga tahun di Sidoarjo, empat tahun di Jakarte, satu setengah tahun di Kisaran Sumatera Utara dan sejak tahun 2011 sampai sekarang yang mana kalau pakai hitungan gak pasti-pasti banget menjelang empat tahun di Medan.... Horas!!!!! Ini Medan bung....

Sumpah gak tersangkakan saya bakalan menetap di Medan, terpikirkan pun tidak pernah sama sekali. Kota yang jaraknya melanggar tiga lautan kata emak saya dan letaknya di ujung bumi barat jauh dari semua keluarga terdekat, tapi apa mau dikata, kalau cinta udah bicara jadi kehilangan akal dan segala indra yang ada deh :p ALESAN......Biarin ah....... :D

Jadi selama menjelang empat tahun di medan ini, apa aja sih pendapat saya mengenai kota ini...okay mari kita cerita atu-atu tapi ini pendapat pribadi loh ya, kalau misalnya Anak Medan gak merasa begitu, ya maap :)
  1. Mengenai Makanan
    Awal-awal dateng kesini hampir semua makanan gak bisa saya makan. Kenapa? Karena mereka tidak mengenal makan pagi, makan siang, dan makan malam...semua makanan sama-sama berat, sama-sama bersantan, dan sama-sama ENAK, huhuhu..... Saya yang notabene dari kampung yang kaya ikan laut segar harus berjibaku dengan melihat menu lontong sayur, nasi gurih/lemak, rendang, segala jenis tauco, segala jenis mi goreng, belum lagi duriannya, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.... Sumpah awal disini saya tiap hari sakit perut karena makan makanan bersantan melulu, sampe rasa-rasanya sebel banget tiap liat menu, yah itu lagi-itu lagi. Sekarang? jangan tanya deh, lidah saya udah Medan banget...segala macam makanan nikmat itu udah saya konsumsi selayaknya orang Medan pada umumnya, emang enak, gurih, dan nagih, hahahaha.... Alhasil cukup lima tahun saja bisa membuat berat badan saya naik tidak karuan dan sepertinya sudah mulai merasakan kenaikan kadar kolesterol dalam darah yang cukup mengganggu.
    Hei, hal ini tidak hanya terjadi pada saya loh....rata-rata teman kantor saya yang seusia saya juga sudah mulai mengalaminya...inilah akibatnya tergiur dengan kenikmatan duniawi macam begini, habis gimana ya....emang enakkkkkkkk sih....
  2. Mengenai kebiasaan berkomunikasi
    Orang Medan tiap ngomong seperti mengajak kita berkelahi - Saya sering mendengar komentar itu dan hal itu menurut saya benar, hahahahha...
    Jadi saya punya pengalaman lucu, begini ceritanya, kan waktu awal-awal saya dimutasi kesini, saya pulang kantor naik angkot tuh, nah karena enggak bareng suami, suami ngajarin saya, nanti adek nanya ya sama sopir angkotnya "Bang, ini ke daerah sembada?" kalo dijawabnya iya berarti bener, adek juga jangan lupa ya angkotnya namanya pintu belakang nomor 12. Oke sip...
    Sebagai orang dengan pengalaman perantauan dimana-mana saya super PD dong.... Nah saat pulang kantor, begitu nyampe tempat nunggu angkot, eh udah ada tuh nomor 12-nya, langsung naik didepan duduk dan dengan manisnya nanya ke sopir angkot "Ini ke sembada bang?" Sopir angkot antara diam dan menjawab "hem..." Saya gak yakin dengan pendengaran saya, sekali lagi saya tanyain "ini ke sembada bang?" dan tiba-tiba saya dibentak dengan logat Medan "Iya, asik nanya aja kau dari tadi" Sumpah saat itu jantung saya mau copot, cuman karena kesel saya jawab lagi "loh bang, saya kan nanya baik-baik" dijawab dia "nanya-nanya aja terus kau, udah kujawab kan tadi..." ugh, saat itu gondoknya bukan main.
    Pulang sampe rumah dengan kesel dilaporin sama suami dan tau apa reaksi suami? Ngetawain saya sambil berkomentar "habis adek sih, ngomongnya lembut banget, disini itu gak bisa digituin, harus kita yang nge-mob (gertak) duluan, nanti pasti sopan jawabnya, coba deh besok praktekkin..."
    Dan besoknya sesuai titah abang keren saya langsung praktekkin pake suara digedein dan tegas "Ke Sembada bang?" gak lupa matanya melotot dan langsung dijawab dengan sopan dong "iya kak...." huhuhuhuhu....kenapalah harus seperti itu kan......akhirnya sekarang jadi kebiasaan bagi saya untuk selalu berbicara keras dan bertanya pake suara tegas -______-
    Oh iya sekarang saya udah resmi selalu pakai suara kencang saat bicara dan pakai bahasa Anak Medan, Cocok kam rasa? :p
    PS : hal ini gak berlaku kalau ketemu kenalan ya, karena rata-rata kalo kenalan ngomongnya pada baik-baik dan biasa aja kok :)
  3. Mengenai kebiasaan saat berkendara
    Saya diawal-awal kedatangan di Medan sering mengeluh mengenai kelakuan angkot dan betor/becak motor saat di jalan raya, dan tau apa komentar temen-temen saya yang orang sini?
    "Chen....kalau namanya angkot dan betor itu Yamaha mereka Chen..."
    "Hah? Maksudnya?"
    "Yamaha, yang maha tau, hanya Tuhan dan mereka yang tau mereka mau kemana dan belok kemana...jadi sabar-sabarkan hatimu dan jangan pernah nyetir dibelakang mereka, sukak-sukaknya itu..."
    -____________-
    Iyap bener, kalau di Medan nyetir gak usah pake buku panduan menyetir yang benar deh karena kita bakalan sakit hati saat diserobot dan melakukan hal yang benar tapi disalahkan, kenapa? Ya emang begitu yang terjadi, saya juga tidak tahu kenapa :D
    Sampai-sampai kata para sopir Jakarta "Gak lulus nyetir kalau bilang mahir nyetir di Jakarta, ke Medan dulu lulus nyetir, baru namanya lulus kemana-mana..." Hihihiihi...Bisa temen-temen bayangkan gimana kira-kira suasana menyetir di Medan? :D
Kira-kira hanya itu tiga hal besar yang saya lihat sangat berbeda dengan tempat-tempat yang saya tinggali dahulu, selebihnya menurut saya ya sama-sama aja. Segala hal yang saya tuliskan diatas murni dari hasil pengamatan saya dan lima tahun tinggal disini membuat saya jatuh cinta pada tanah Sumatera. Iya, saya disini karena mengikuti suami saya yang lahir dan besar di tanah Sumatera, awal-awalnya saya cukup mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan kebiasaan orang disini, namun perlahan saya menikmati dan lebih menikmatinya lagi karena saya menjalaninya bersama suami dan anak saya, dua orang yang sangat saya cintai di dunia ini. Bener kata pepatah "Home is wherever i'm with you" - Home is wherever i'm with Leon and his father -  Yes, i am home"

No comments:

Post a Comment