Tuesday, October 14, 2014

PRIDE

Suatu waktu saya berbincang mengenai sesuatu hal dengan teman saya. Kemudian teman saya berkata, "Itu karena pride-nya Chen."
 
Saya bingung dan bertanya apa itu pride dan dia menjelaskan arti pride menurut versinya dalam kalimat ini: "terlalu tinggi pride-nya sampai tak bisa mendengar orang lain lagi."

Saya rasa saya mulai mengerti apa itu PRIDE dan semakin mengerti saat Google Translate menjelaskan menurut versinya:
Pride / noun /
kebanggaan
kesombongan
rasa harga diri
marwah
kegagahan
keangkuhan
Begitu rupanya...
 
Kalau begitu PRIDE menurut versi saya adalah sebuah keadaan dimana seorang merasa dan memaksakan kebenaran karena egonya.

Sebenarnya kenapa pride ini begitu mengganggu saya sampai saya menuliskan postingan ini? Ya, karena ternyata efek dari pride itu telah membutakan mata dan membuat orang cenderung menyerang tanpa memikirkan bahwa seharusnya seluruh kalimat yang dikeluarkan lebih tepat ditujukan ke dirinya sendiri.

Memasuki dunia konseling menyusui sejak kejadian Leon sebenarnya bukanlah merupakan ambisi saya. Untuk apa sih? saya memiliki pekerjaan yang sangat tidak berhubungan dengan dunia menyusui, seharusnya kalau saya mau egois, perjuangan Leon yang begitu panjang saya simpan saja untuk diri saya sendiri, biar...biar saja orang lain bersusah-susah seperti saya dahulu, syukur-syukur kalau berhasil, kalau enggak? Ya derita lo... Kira-kira begitu. Namun, karena melaluinya saja membuat saya heran mengapa saya bisa melewati semua itu dengan baik, ketika mengingatnya saya yakin bukan karena kekuatan dan kemampuan saya sehingga Leon bisa seperti hari ini, jujur saya lebih memilih kondisi menyusui saya adem ayem dan tentram damai saja, tidak perlu harus memakai drama macam-macam seperti kemarin. Tapi apa daya, rencana Tuhan untuk saya berbeda, saya diijinkan mengecap pahit manisnya menjadi ibu sejak Leon dilahirkan dan memanggil saya untuk mengerjakan pelayanan di dunia menyusui ini yang dengan patuh dan taat saya kerjakan karena setiap saya berusaha lari, Tuhan dengan cara-Nya memanggil saya kembali lagi. Capekkah? Jangan tanya, dua hari istimewa yang merupakan libur dunia kerja saya pakai untuk konseling dan bertemu dengan ibu-ibu yang mengalami kesulitan menyusui, kadang sampai malam baru saya kembali ke rumah lagi, terkadang hati ini menjerit karena harus meninggalkan Leon dihari dimana seharusnya saya menjadi miliknya penuh, akhirnya apa solusi saya? Saya bawa anak saya sekalian bertemu dengan para ibu itu :) Enggak, ini bukan pengeluhan, ini sekedar penggambaran bagaimana begitu kuatnya panggilan itu Tuhan taruh dihati saya sehingga saya rela melakukan segalanya. Karena kepuasan ketika melihat seorang ibu berhasil menyusui merupakan hadiah yang tidak terbayarkan dengan materi sebanyak apapun di dunia ini untuk saya.

Tuhan juga memberi orang-orang terbaik untuk melakukan hal-hal yang tidak mampu saya lakukan, Tuhan memberi seorang sahabat yang membuat saya dan dirinya bisa bersinergi mengerjakan semua kasus menyusui yang datang pada kami, ah...betapa baiknya Tuhan itu, ketika kita patuh dan tunduk pada rencana-Nya, Dia akan mengirimkan orang-orang yang membantu kita untuk mengerjakan panggilan itu. Lebih lagi cara Tuhan berkarya dalam panggilan saya adalah saya diberikan akses luarbiasa kepada seseorang yang benar-benar saya hormati baik secara ilmu maupun kepribadiannya. Beliau inilah yang selalu menjadi tempat saya bertanya, tempat saya mengadu, tempat saya mendapatkan kelegaan, seperti oase di tengah padang pasir, demikianlah kehadirannya sebagai mentor, motivator, dan teman untuk saya.
Seperti belum habis-habisnya Tuhan menunjukkan karya-Nya untuk saya, lagi-lagi Tuhan mengirimkan orang yang benar-benar menjadi jawaban doa saya untuk kerinduan saya memiliki orang yang mengerti kondisi saya, ya Tuhan mempertemukan saya lagi dengan penolong-penolong lain yang membuat saya yakin, Tuhan pakai saya untuk pekerjaan-Nya, Tuhan pakai saya sesuai kehendak-Nya.

Lalu ketika saya sedang begitu menikmatinya dunia laktasi ini, secara tiba-tiba ada orang-orang dengan pandangan tertentu berusaha menciptakan pendapat tak berdasar dengan berbagai alasan yang bagi saya sebagai seorang konselor adalah alasan yang sangat tidak rasional :)
Berusaha membenarkan diri dengan beralasan dari pendapat orang tanpa berusaha mencari tahu sendiri kebenaran absolutnya, apakah itu dikatakan bijaksana? Apakah itu dikatakan pantas? Sayangnya orang-orang tersebut merasa SANGAT PANTAS :)

Setelah merenungkan sampailah saya kepada kesimpulan, ternyata ego seseorang bisa begitu sangat terlukanya ketika mereka menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak mereka ketahui dan membuat mereka seharusnya merendahkan hatinya untuk bertanya. Ternyata pola pandang orang tentang dirinya dapat membentuk benteng pertahanan yang menghancurkan dirinya perlahan tapi pasti. Ternyata ketika diri kita ditunggangi oleh PRIDE maka segala hal yang dikerjakan oleh orang bisa menjadi negatif dalam pandangannya. Dan pada akhirnya saya kasihan melihat orang-orang tersebut, ya mereka layak dikasihani...

Bukan karena segala kekuatan, kebaikan, dan kebaikan budi kita sehingga kita dipakai-Nya
Hanya karena anugerah, Tuhan memilih dan memanggil kamu dan saya
Lalu pantaskah kamu dan saya menilai seenaknya siapa saja dengan menyerang secara tak beralasan demi membenarkan diri kita sendiri?
Tidak. Dan saya juga tidak mau melakukan itu.
Betapa mengerikan orang yang tidak mau belajar tentang hal yang tidak diketahuinya dan lebih mempercayai pendapat yang belum tentu pasti kebenarannya
Lebih mengerikan lagi orang yang berjalan dengan menunggangi PRIDE-nya
Yang merasa dirinya bisa menyerang siapa saja tanpa melihat dengan kacamata yang netral.

Marilah kita saling memperbaiki diri agar tidak ditunggangi PRIDE yang menggerogoti hati kita.

No comments:

Post a Comment