Thursday, January 15, 2015

Sekilas Cerita Liburan

Setelah mengalami cuti yang panjaaaaaaanggggg dan lamaaaaaaaaaaaaa di kampung halaman, akhirnya saya harus berhadapan dengan kenyataan pahit untuk kembali ke dunia nyata (tsaaahhh bahasanya.....)

Saya mengambil cuti tahunan selama 12 hari kerja yang jika diakumulasikan dengan segala liburan membuat jumlah hari liburan saya menjadi 21 hari, asikkkkkk....dan semua hari liburan itu saya habiskan dengan pulang kampung. Iya, saya pulkam selama 21 hari ke Kupang, NTT dan segala hal yang terjadi disana merupakan pengalaman yang menyenangkan. Ya gimana gak menyenangkan ya, saya yang notabene sudah 14 tahun terpisah dari orang tua dan mengingat kondisi Papa yang sudah tidak sesehat dulu lagi, kedatangan kami bertiga seperti hujan ditengah musim kemarau, membasuh kesepian jiwa mereka apalagi melihat Leon bersama sepupunya Gravillo bermain bersama sudah sangat cukup membuat mereka bahagia dan meramaikan suasana rumah.



Jadi selama 21 hari disana kami ngapain aja? Hahahahha...aduh mengakui ini yang membuat saya agak malu...intinya tidur, makan, jalan-jalan, tidur, makan, jalan-jalan lagi....hadeh......
Memang pulang ke rumah saya itu sangat menyenangkan karenaaaaaa, kota kupang dekat dengan laut, rumah saya hanya lima menit dari laut sehingga kami hampir setiap hari main-main kesana dan Leon yang disini tidak pernah dibawa ke laut jadi ketagihan dan selalu nyebur kalo kesana. Senangkah dia? wow jangan ditanya dia seneng banget sampe-sampe gak mau disuruh keluar, hihihi.... alhasil kulit eksotisnya makin menjadi eksotis deh.


Mengenai makan, kupang kaya dengan segala macam kuliner yang berhubungan dengan ikan dan daging baik sapi maupun pork. Mau makan ikan maka tinggal meluncur sebentar di tempat pelelangan ikan dan para penjual yang langsung menyediakan fasilitas ikan dipanggang langsung tersedia disana, tinggal memilih ikan di kisaran 50-150 ribu rupiah dalam kondisi segar, dipanggang dengan bumbu dan dibawa pulang kemudian dimakan dengan nasi panas dan sambal kecap diberi perasan jeruk nipis, nyam..nyam...nyam...jangan tanya bagaimana rasanya, super... :)
Bosen dengan ikan? mari beralih ke restoran-restoran pinggir laut yang menyediakan steak dari daging sapi NTT yang memiliki kualitas ekspor dengan mengandalkan kesegaran dagingnya sambil menikmati deburan ombak pantai yang ikut meramaikan suasana, wah...tentu saja kita akan betah berlama-lama disitu. Makanan lainnya masih banyak lagi namun akan saya ceritakan di postingan yang lain ya, karena untuk menceritakan segala jenis makanan tersebut perlu dibuat dalam satu cerita :D

Sebenarnya saat pulang ke Kupang kami juga berencana untuk jalan-jalan ke Dili karena terakhir kali saya hanya sampai di perbatasan, namun karena kesibukan mama dan papa kemudian kerasnya keinginan mereka menemani kami sementara Papa sekarang cepat lelah dan makanannya khusus maka akhirnya kami dengan berat hati memutuskan untuk membatalkan kepergian tersebut. Sedih sih memang, namun kesehatan Papa jauh lebih penting dan kami kesana untuk melihat kondisi mereka jadi sebaiknya waktu yang kami miliki kami habiskan bersama.

Oh iya saat pulang saya terkena Culture Shock di kampung sendiri melihat betapa berbedanya kupang dengan kondisinya 2 tahun lalu. Yang paling kelihatan adalah ramainya restoran dan tempat makan yang berjejer dimana-mana, swalayan dan mini market yang muncul begitu banyak, juga berdirinya dua Hypermart yang lokasinya sangat dekat dengan rumah saya. Shock karena agak kehilangan memori masa kecil, Kupang sudah tidak seperti dulu lagi. Satu lagi yang hilang adalah ketika Natal, memori saya selalu mengingat bagaimana ramainya teman dan sanak saudara yang saling mengunjungi dan mengucapkan salam, tidak peduli dari agama dan kepercayaan apa (hal yang sama juga terjadi saat hari raya lain), hal itulah yang membuat saya begitu mengagumi toleransi beragama di Kupang. Namun kemarin kondisi tersebut sudah hilang sama sekali, menurut mama hal tersebut disebabkan oleh kecanggihan teknologi, mereka merasa mengucapkan selamat Natal lewat SMS sudah cukup untuk mewakili kehadirannya ke rumah. Sayang sekali ya...ternyata benar pepatah seorang teman dalam kasus ini, teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat :(



Ya... dan hari ini mengenang kembali saat saya disana sungguh menyesakkan hati ini. Saya tahu bahwa dalam kehidupan setiap orang selalu memiliki suka dan duka, saya sadar bahwa Tuhan selalu menetapkan rancangan terbaik dalam diri orang-orang yang mengasihi-Nya. Kepulangan saya dari Kupang diikuti dengan sebuah berita yang cukup menyedihkan untuk keluarga besar kami, namu kami mengimani bahwa segala hal terjadi dalam ijin dan kehendak Tuhan, semoga kami sekeluarga bisa melewatinya dengan terus menikmati kasih dan penyertaan Tuhan yang nyata dalam hidup kami setiap harinya...

God is good all the time....

No comments:

Post a Comment