Monday, March 16, 2015

MPASI : Mengisi Piring Makan

Tadinya mau nulis panjang kali lebar kali tinggi tentang bagaimana mengisi piring makan anak saat MPASI, mau pakai guideline WHO sama scientific rationale (pemikiran ilmiahnya) pula. Namun begitu melihat yang harus diterjemahkan seketika saya menjadi lapar dan kepala saya langsung puyeng, hihihi...Jadinya saya putuskan ingin menceritakan secara sederhana bagaimana sebaiknya mengisi piring makan anak kita.

WHO secara jelas tidak pernah menyebutkan jenis-jenis makanan yang wajib/tidak diperbolehkan dalam menyusun panduan MPASI versinya.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Karena pada dasarnya budaya, kebiasaan makan, sumber pangan yang tersedia lokal di tiap daerah berbeda sehingga kita tidak bisa memaksakan/mewajibkan anak hanya bisa/boleh makan ini dan itu sementara mungkin di daerahnya jenis makanan yang kita sebutkan tidak tersedia atau bahkan mungkin tidak pernah dikenal.

Sebagai contoh : Bagaimana mungkin kita menyarankan pemberian pisang barangan pada saat pemberian MPASI sementara mungkin yang tersedia di daerahnya hanyalah pisang kepok atau pisang jenis lainnya dan pisang barangan adalah sebuah jenis makanan yang baru pertama kali didengarnya. Sama hal nya dengan ketika kita menyarankan anak untuk diberi makan ikan salmon sementara sampai saat ini ikan salmon diimpor dari luar dan belum tentu semua keluarga sanggup membeli dan mengonsumsinya.

Jangan sampai hanya karena pendapat kita orangtua menjadi merasa wajib sehingga mengusahakan untuk mencari makanan tersebut padahal sebenarnya ada makanan-makanan lain yang bisa menjadi pengganti makanan tersebut dengan kandungan gizi yang sama ataupun mungkin lebih baik yang tersedia di daerahnya.

Piring Makan WHO

Foto diatas adalah hasil printscreen saya dari jurnal MPASI WHO dimana WHO memberikan contoh mengenai bagaimana mengisi piring makan yang memenuhi standar sesuai dengan wilayah masing-masing. Bisa dilihat bahwa piring makan anak di Afrika Timur berbeda dengan piring makan India, Timur Tengah, dan Amerika Selatan. Pada dasarnya semua makanan yang ditulis WHO adalah makanan yang tersedia di wilayah mereka dan mengandung kecukupan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Indonesia sendiri yang terdiri dari beragam suku memiliki kebiasaan makan yang berbeda, misalnya di bagian barat Indonesia menjadikan nasi sebagai makanan pokoknya sementara di bagian timur Indonesia ada daerah yang menjadikan jagung dan sagu sebagai makanan pokoknya. Oleh karena itu kita tidak dapat menyamaratakan dengan mengatakan bahwa anak sebaiknya makan ini dan itu dengan resep ini dan itu karena pada dasarnya setiap daerah memiliki keunikan. Bukan hanya pada makanan pokoknya bahkan pada sumber protein dan seratnya daerah-daerah di Indonesia memiliki berbagai macam cara dalam mengolah, baik disantan, direbus, dibumbui pecal, digulai, direndang, digoreng, dan lain sebagainya.

What can you put on your plate menjadi pertanyaan kunci dalam jurnal ini, apa sih yang bisa kita isi di piring makan anak kita sesuai dengan tujuh standar dasar yang telah dijelaskan WHO sebelumnya. Jika kita mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok kita maka berikanlah anak kita nasi dalam tekstur yang disarankan, demikian juga halnya dengan lauk dan serat yang diberikan. Piring makan daerah yang satu berbeda dengan piring makan daerah yang lain bahkan jika bicara dalam  lingkup yang lebih kecil, piring makan sebuah keluarga di satu daerah belum tentu sama dengan piring makan tetangganya yang notabene tinggal di sebelah rumahnya :D

Jadi ibu, isilah piring makan kita dengan makanan yang biasa kita konsumsi dan memenuhi tujuh standar dasar yang diminta oleh WHO. Tidak perlu harus googling resep sana sini dan menciptakan menu yang berbeda dengan menu keluarga karena pada akhirnya di usia anak satu tahun mereka akan makan semeja dengan kita dimana isi piring dan tekstur makanan anak kita sama dengan yang dikonsumsi oleh seluruh keluarga. Memisahkan makanan anak dan memberikannya makanan sendiri justru membuat anak merasa dirinya berbeda dan cenderung menjadi pemilih dalam hal makan.

Isilah piring makan anak dengan bijaksana.
Salam MPASI WHO

No comments:

Post a Comment