Monday, April 6, 2015

Kenanganku tentangmu

Pada suatu sore sekitar 23 tahun yang lalu di sebuah kota kecil yang tidak terkenal karena bertatus daerah tertinggal dan mungkin sampai hari inipun status tersebut masih melekat pada kota tersebut, riuh rendah kicauan tiga orang anak kecil yang tidak sabar meminta mamanya untuk segera bergegas menyiapkan diri karena event tahunan yang diadakan di kota tersebut akan mereka kunjungi. Minimnya hiburan dan terbatasnya dana yang dimiliki orangtuanya membuat event yang diadakan setahun sekali ini menjadi begitu menyenangkan. Mereka bertiga sudah bersiap mandi dengan menggunakan sendal jepit agar nyaman saat berjalan mengingat jaraknya cukup jauh bagi kaki anak2 tersebut, memakai baju terbagus yang mereka miliki tidak lupa dengan cemong-cemong bedak menghias pipi mereka, ya...anak-anak jaman dulu, di kota yang masih sangat memalukan disebut kota, dimana yang disebut pusat kotanya cukup dengan waktu lima menit dikitari maka anda telah melihat seluruhnya :p
Hari itu begitu istimewa, sejak pagi sudah terjadi percakapan-percakapan tidak sabaran tentang apa yang akan mereka lakukan, apa yang akan mereka lihat, tentunya diiringi dengan janji berulang kepada mamanya "kami tidak akan merengek minta apa-apa kecuali dibelikan oleh mama" yang tentu saja dengan sangat mudah sering dilupakan begitu berhadapan dengan tukang mainan dan tukang jajan :)
Sorenya, dengan langkah gembira, mama dan ketiga anak itu tentu saja ditemani kakak yang menemani mereka ketika mama bekerja karena pasti saja dalam keramaian event seperti itu kejadian anak hilang merupakan hal yang biasa terjadi, jadi daripada harus pusing mencari yang mungkin hilang ini, alangkah sangat bijaksananya menambah mata dan kaki yang bisa memantau gerak tiga pasukan tersebut.

Jalan panjang terasa sangat pendek, semangat 45 membuncah, hari ini hari jalan-jalan, mereka akan mengunjungi pameran rakyat atau yang sering disebut Pekan Raya, karena diadakan di kota Kupang yang notabene ibukota Propinsi NTT, tentu sajalah namanya Pekan Raya NTT. Jangan dipikir megah dan meriahnya seperti Pekan Raya Jakarta ya temans, cukup stand-stand dari setiap instansi pemerintahan yang dibangun seadanya dan banyaknya penjual makanan dan minuman ringan yang paling hebat bisa dijual adalah bakso, kacang tanah bakar, kacang rebus, kacang gula batu, nasi goreng dan mainan-mainan standar yang bisa dibeli di pasar namun jumlah pengunjung yang hadir disitu semacam mampu membuat semua penduduk Kota Kupang datang dan menghadirinya. Yah habis gimana lagi, pusat keramaian kota tersebut palingan hanya toko-toko yang berjajar di Kota Kupang dan untuk hiburan? Hahaha....gak ada, mall aja baru ada di tahun 2003 saat saya sudah memasuki usia remaja. Kembali lagi ke cerita tiga anak kecil tadi, sehabis berjalan-jalan dan berpindah dari satu stand ke stand lain sambil berusaha mengisi kuis yang ada dan berharap memenangkan hadiah undian ( yang kenyataannya mereka tidak pernah memenangkannya) mama mereka memutuskan untuk mengasoh dan makan bakso, hal yang sekarang mungkin dirasa biasa namun untuk mereka dulu itu adalah sebuah keistimewaan.

Sayang seribu sayang ditengah-tengah perasaan yang membuncah itu ternyata mereka harus gigit jari karena dompet mama mereka diambil oleh pencopet yang membuat seluruh uang yang disiapkan hilang tak bersisa, jangankan membeli jajan, untuk pulangnya lagi terpaksa mereka harus berjalan kaki sampai rumah, untung aja rumahnya masih terhitung dekat ya kalau enggak mungkin ketiga pasukan tersebut bisa ngambek. Ya cerita tersebut adalah cerita tentang saya dan adik2 saya, masih terbayang kecewanya wajah mama saat tahu dompet tersebut hilang, mama dan kakak menyusuri jalan yang dilewati namun hasilnya nihil, dan kami terpaksa pulang dengan tangan kosong dan kelaparan. Peristiwa ini terus saya ingat dari tahun ke tahun dalam hidup saya, memorinya begitu melekat, bukan karena kekecewaannya, tetapi karena bayangan wajah mama yang kecewa karena tidak bisa membahagiakan kami di satu malam tersebut, ah...menuliskannya saja membuat hati ini meleleh.

Tahun demi tahun berlalu dan Pekan Raya tersebut tidak lagi menjadi event wah disana karena waktu berubah, manusia berubah, dan bumi berubah. Kalau dulu hanya ada event Pekan Raya tersebut sebagai satu-satunya hiburan, sekarang saat terakhir kali saya berkunjung ke Kupang empat bulan yang lalu, Hypermart aja ada dua :D tempat makan ada dimana-mana, hiburan makin bertambah pokoknya pinjam istilah temen kena "culture shock" deh disana. Sekalipun perubahan tersebut terjadi begitu banyak namun yang namanya kenangan akan selalu tertinggal di memori dan terasa hangat saat dibuka kembali. Entah kenapa saya orang yang pada dasarnya males jalan-jalan ke mall kalau tidak memiliki kepentingan tertentu atau ada yang harus dibeli, mungkin juga karena saya memang orang kampung, lahir dan besar di kampung. Kata orang jalan sekedar cuci mata, saya malah kalo begitu makin sakit hati karena pasti mata ini pengen memiliki namun kantong tidak mengijinkan, hihiihi...
Lagian Leon pun beberapa kali saya bawa ke tempat mainan anak di mall dia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan, malah lebih milih berlari-larian di sepanjang mall, ya maklumlah, rumahnya kecil jadi kalo ke mall rasanya bisa lari sepuasnya :)

Leon sendiri sangat suka main ke taman USU karena disana ada penangkaran rusa, biasanya dia cukup membawa sekantong besar kangkung ataupun wortel dan seperti santa claus dia akan menyusuri jeruji pemisah dari ujung ke ujung demi memberi makan semua rusa plus bebek-bebek yang sekarang ditambahkan ditempat tersebut. Saya pribadi juga sangat suka kesitu karena kita bisa duduk dan menikmati keramaian, udara yang sejuk dan mengawasi Leon main kesana kemari.
Hari sabtu kemarin sepulangnya dari USU kami memutuskan untuk mengunjungi PRSU (Pekan Raya Sumatera Utara) yang ternyata telah dibuka sejak tanggal 20 Maret kemarin. Beneran ya, saya lebih antusias main kesana dibanding harus nge-mall. Parkirannya lumayan rame sih, tapi tenang aja, tukang parkirnya pinter-pinter, mereka bisa nyariin parkir yang aman bahkan diluar area parkir PRSU sekalipun harganya sedikit lebih mahal. Jadi didalam PRSU kami ngapain? Ya jalan-jalan, tempat yang disukai Leon adalah Museum Wild Galery Rahmad Syah yang isinya hewan-hewan yang sudah diawetkan, Leon suka tuh liat semuanya trus sempat juga berfoto sama burung nuri dan kakaktua namun saat ditawarin berfoto sama ularnya, saya gak berani ah....biasa penakut :)
Di stand Animal Lovers juga Leon sempat elus-elus kelinci loh, dan dia gemes, saking gemesnya si kelinci dipencet, ngamuklah kelincinya -_________-
Adalagi odong-odong kesukaan Leon, sudah pasti kami wajib naik, dan dia akan berteriak kesenengan karena naik odong, sederhana namun hal itu sangat membuatnya bahagia :)
Emaknya aja histeris belanja karena tahu biasanya harga-harga di PRSU lebih miring sampai menghasilkan satu set sofa idaman yang jadi mimpinya sejak dua tahun lalu, ya... hampir lima tahun berumah tangga, 2 tahun ngontrak rumah, 2 tahun memiliki rumah sendiri dan kami selalu menerima tamu dengan menggelar ambal/karpet :) sekarang dengan adanya sofa tersebut jadinya enggak kesusahan lagi saat kedatangan tamu baik yang ingin konseling atau memang rekan kerja/sahabat-sahabat kami yang sekedar berkunjung.

Ya cerita jalan-jalan ke pesta rakyat selalu membawa kenangan tersendiri untuk saya, karena setiap menginjakkan kaki kesana, kenangan kejadian 23 tahun silam berputar seperti baru terjadi semalam, dan saya sangat menyukai mengingat momen tersebut karena setiap diputar ulang, ada sebuah kehangatan disana, kehangatan kasih seorang ibu yang begitu mengasihi anaknya dan ingin memberikan yang terbaik. Hal yang sama yang sekarang saya rasakan akan saya berikan juga untuk Leon, sungguh benar petikan lagu "di doa ibuku, namaku disebut." Ketika menjadi seorang ibu, jangankan menyebutkan nama mereka didalam doa, menyerahkan nyawa pun sanggup kita lakukan hanya karena cinta, cinta yang begitu besar untuk mereka, cinta yang membuat kita bisa melangkah jauh melewati ambang batas kemampuan kita, membuat kita terus bergerak pada pengharapan akan kebaikan, cinta yang akan terus bertambah tanpa mengharapkan balasan kepada mereka, hadiah dari Tuhan yang membuat kita menjadi makhluk yang memiliki tanggung jawab, dikagumi bahkan ketika mampu menjawab pertanyaan sederhana mereka, dan dicari hanya untuk sebuah pelukan hangat.

Karena kita adalah seorang IBU

Teruntuk : Mamaku tersayang, Erika Panjaitan 



No comments:

Post a Comment